Pemkab Bogor Buka Rencana Pembangunan Kereta Gantung Jalur Puncak, Tanpa APBD

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Pemkab Bogor Buka Rencana Pembangunan Kereta Gantung Jalur Puncak, Tanpa APBD

Femi Diah - detikTravel
Selasa, 07 Jul 2026 19:15 WIB
Kepadatan kendaraan menuju kawasan Puncak, Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (30/5/2026). Sat Lantas Polres Bogor menerapkan rekayasa lalu lintas sistem satu arah secara situasional untuk mengurai kepadatan kendaraan pada libur panjang akhir
Kepadatan kendaraan menuju kawasan Puncak, Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Yulius Satria Wijaya/Antara)
Jakarta -

Pemerintah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, membuka lagi rencana pembangunan kereta gantung di jalur Puncak. Bupati Bogor Rudy Susmanto menyebut kereta gantung itu menghubungkan kawasan Summarecon dengan Rest Area Gunung Mas di Jalur Wisata Puncak.

Selain itu, Rudy menyebut kereta gantung itu dibangun melalui skema investasi swasta tanpa menggunakan APBD. Dia juga mengatakan bahwa proyek tersebut masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study), di saat bersamaan pemerintah daerah membangun komunikasi dengan sejumlah investor.

"Ada konsep kereta gantung, lalu ada konsep KRL, dan lain sebagainya. Tetapi kita harus bicara objektif bahwa itu butuh pembiayaan yang cukup besar," kata Rudy dikutip dati Antara, Selasa (7/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rudy mengatakan pembangunan kereta gantung tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) karena kebutuhan investasinya mencapai triliunan rupiah.

ADVERTISEMENT

"Kami tidak akan membebankan biaya pembangunan itu kepada APBD. Karena kalau dengan APBD, biayanya butuh triliunan rupiah. Kami ingin swasta," kata dia.

Rudy menjelaskan konsep kereta gantung telah disiapkan dengan membangun shelter bawah di kawasan Summarecon di Kecamatan Sukaraja, sebagai lokasi park and ride sebelum menuju kawasan Puncak.

Dari shelter tersebut, wisatawan akan diangkut menggunakan kereta gantung menuju shelter atas yang berada di kawasan Rest Area Gunung Mas.

"Konsep sebenarnya sudah ada. Shelter bawahnya dari mulai sebelum Gadog, yaitu Summarecon. Summarecon kita punya lahan di situ untuk park and ride-nya, lalu titik akhirnya rest area," kata dia.

Menurut Rudy, proyek tersebut menjadi salah satu alternatif penanganan kemacetan di kawasan Puncak yang selama ini bergantung pada transportasi jalan raya, sekaligus mendorong integrasi sistem transportasi menuju kawasan wisata.

Kereta gantung itu merupakan usulan lama sebagai salah satu pemecah kemacetan di jalur Puncak. Selama ini, kemacetan diatasi dengan menerapkan one way saat libur panjang. Cara itu sudah dilakukan sejak 1986.

Belakangan juga dibuat kajian penataan simpang-simpang yang selama ini menjadi titik kemacetan. Pemkab Bogor menetapkan tujuh simpang prioritas untuk ditata, yaitu Simpang Gadog, Pasir Muncang, Pasir Angin, Megamendung-Cipayung, Hankam, Pasar Cisarua, serta kawasan Taman Safari.

Pemkab Bogor juga pernah mengungkapkan rencana pembangunan Suspended String Light Rail Transport (SSLRT), sebuah sistem kereta layang berteknologi tinggi yang dianggap lebih efisien dan futuristik. Berbeda dengan cable car, SSLRT menggunakan kendaraan listrik otonom yang melaju di atas rel baja tegang dengan kecepatan hingga 150 km/jam.

Teknologi itu diklaim hemat energi, ramah lingkungan, dan memiliki tingkat keamanan tinggi. Pemkab Bogor juga telah menyusun konsep pembangunan enam stasiun pemberhentian, yang menghubungkan rest area Gunung Mas hingga Puncak Pass, di perbatasan Kabupaten Bogor dan Cianjur.

Selain itu,p emerintah pusat melalui BPTJ tengah merencanakan pembangunan tol Puncak ke Bogor-Cianjur-Sukabumi (Bocimi) dan menyiapkan angkutan umum dan wisata untuk wisatawan, di kawasan Puncak Bogor.



(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads