Harapan Piala Dunia 2026 bisa mendongkrak perekonomian Seattle belum sepenuhnya menjadi kenyataan. Menjelang fase akhir pesta bola itu, manfaat ekonomi dinilai masih belum merata meski kota ini sukses menjadi tuan rumah sejumlah pertandingan dan festival pendukung.
Seattle menutup rangkaian tugas sebagai salah satu kota tuan rumah Piala Dunia FIFA 2026 dengan menggelar laga babak 16 besar antara Amerika Serikat (AS) dan Belgia. Selama hampir sebulan turnamen berlangsung, kawasan tepi laut, pusat kota, hingga lokasi nonton bareng resmi dipenuhi suporter.
Transportasi umum mencatat rekor jumlah penumpang, sementara sejumlah bar dan restoran menikmati lonjakan pengunjung. Meski atmosfer turnamen berlangsung meriah, manfaat ekonomi yang dijanjikan belum sepenuhnya terealisasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir The Guardian, Selasa (7/7/2026), Visit Seattle memperkirakan sekitar 750 ribu wisatawan datang selama Piala Dunia 2026 dengan potensi perputaran ekonomi mencapai USD 845,6 juta (Rp 15,2 triliun). Proyeksi tersebut sebelumnya direvisi turun dari USD 929 juta (Rp 16,72 triliun) seiring melemahnya kunjungan wisatawan internasional ke Amerika Serikat.
Sejumlah indikator menunjukkan hasil yang belum sesuai harapan. Volume wisatawan dilaporkan belum mampu melampaui jumlah pengunjung yang biasanya datang ke Seattle saat musim liburan musim panas.
Di sisi lain, biaya perjalanan meningkat akibat situasi geopolitik, sementara pemesanan kamar hotel dalam jumlah besar oleh FIFA sempat membatasi ketersediaan penginapan dan mendorong kenaikan tarif.
Penurunan kunjungan wisatawan mancanegara juga menjadi tantangan. Wisatawan asal Kanada, yang selama ini menjadi salah satu pasar utama Seattle, dilaporkan mengurangi perjalanan sejak awal 2025 setelah kebijakan imigrasi diperketat dan hubungan politik memanas.
Selain itu, sebagian pendukung dari negara peserta seperti Iran dan Senegal tidak dapat datang karena terdampak kebijakan larangan perjalanan yang diterapkan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Pemilik Anh Oi Bake Shop, Vince Vu, mengatakan pelaku usaha di sekitar stadion telah diminta bersiap menghadapi lonjakan wisatawan jauh sebelum turnamen dimulai.
"Mereka benar-benar membuat kami sangat optimistis. Kami mengikuti rapat setiap minggu dan diminta menggandakan staf serta persediaan karena Piala Dunia 2026 disebut akan menjadi berkah besar bagi kota ini," ujarnya.
Namun, kondisi di lapangan tidak sepenuhnya sesuai ekspektasi. Bloomberg melaporkan Seattle menjadi satu-satunya kota tuan rumah di AS yang mengalami penurunan pemesanan penerbangan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian, juru bicara Bandara Internasional Seattle-Tacoma, Perry Cooper, mengatakan jumlah penumpang sejak turnamen dimulai justru naik sedikitnya 3%, termasuk peningkatan 4% untuk wisatawan internasional.
Sejumlah pelaku usaha juga mengaku belum merasakan dampak ekonomi yang signifikan. Pengelola properti sewa jangka pendek menyebut tingkat okupansi relatif datar dibandingkan musim panas tahun lalu.
Vu pun mengungkapkan penjualan toko rotinya saat laga Amerika Serikat melawan Australia hanya mencapai sekitar seperempat dari hari biasa karena pelanggan tetap menghindari kawasan stadion, sementara suporter Piala Dunia 2026 lebih banyak memilih tempat makan umum.
Dampak yang beragam juga dirasakan sektor pariwisata. Seattle Aquarium mencatat penurunan jumlah pengunjung, terutama pada hari pertandingan.
Sebaliknya, Seattle Art Museum melaporkan taman patung gratis di kawasan waterfront mengalami lonjakan kunjungan lebih dari dua kali lipat, meski jumlah pengunjung museum utamanya relatif stabil.
Kinerja hotel di Seattle pun menunjukkan hasil yang bervariasi. Tingkat hunian berada di bawah target, tetapi pendapatan tetap meningkat karena tarif kamar yang lebih tinggi selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Meski manfaat ekonomi belum dirasakan secara merata, pelaku usaha dan pemerintah daerah tetap optimistis turnamen ini akan membawa dampak jangka panjang bagi Seattle.
CEO Seattle Metropolitan Chamber of Commerce, Joe Nguyen, secara geografis Seattle berada di ujung kawasan sehingga orang-orang hanya melewatinya saja.
"Karena letak kami di ujung barat laut, banyak wisatawan biasanya melewatkan Seattle dalam perjalanan mereka," kata Nguyen.
"Sekarang mereka akan berpikir dua kali. Saya juga yakin ini bisa membuka peluang menghadirkan lebih banyak pertandingan olahraga besar, bahkan membantu upaya membawa kembali tim basket ke kota ini," dia menambahkan.











































Komentar Terbanyak
Femas, Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Terdeteksi di Masjid
Viral di Medsos, Peserta Tur Asal Madiun Diduga Kabur Saat Liburan ke Korea Selatan
Naik Tiga Tingkat! Indonesia Kini di Posisi ke-2 Destinasi Ramah Muslim