Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin meningkat. Langkah untuk pencegahan pun makin digencarkan.
Selama periode Juni-Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah (Jateng) mencatat terdapat 37 kasus karhutla. Kenaikan potensi terjadinya kebakaran di tengah fenomena El Nino juga makin besar.
"Kebakaran hutan lahan 37 kali. Tapi kalau ditambah dengan kebakaran gedung dan rumah itu bisa sampai 205 kali. 5 Juni sampai 12 Juli," sebut Kepala BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, saat dihubungi Selasa (14/7).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebakaran hutan dan lahan diprediksi masih akan terus terjadi sepanjang El Nino masih berlangsung tahun ini.
"Prediksi ini setiap seminggu hasil update kami terjadi peningkatan, terjadi peristiwa kebakaran lahan ya. Semoga saja hutannya tidak," tutur Bergas.
Untuk mengantisipasi terjadinya karhutla, imbauan terus digencarkan kepada masyarakat. Pemerintah daerah setempat juga diimbau untuk terus mensosialisasikan kepada warga agar tidak membakar lahan yang telah dipanen.
"Tentunya imbauan dan imbauan, edukasi ke masyarakat tetap harus dilaksanakan, utamanya dampak turunannya. Dampak yang diakibatkan dengan adanya kemarau panjang dengan intensitas suhu yang cukup tinggi ini tentunya masih berkaitan dengan dampak kebakaran," ucapnya.
Di sisi lain, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni terus mengevaluasi standar kebutuhan personel dan peralatan Manggala Agni sebagai bagian dari penguatan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Evaluasi dilakukan agar Manggala Agni dapat bekerja secara optimal dan aman saat menjalankan tugas mereka dalam memadamkan kebakaran hutan. Dia menilai perlu adanya penyusunan kebutuhan minimum yang harus dimiliki Manggala Agni untuk menjadi dasar dukungan operasional penanggulangan karhutla.
"Dibuat dari tapak apa yang kita sebut Minimum Essential Cost kalau dipertahanan itu kan, minimum apa supaya Manggala Agni ini sudah equipped dengan sesuatu yang tidak membahayakan nyawa, fisik, dan dengan segera mungkin ada peralatan," ujar Menhut dalam rapat bersama jajaran Ditjen Gakkum Kemenhut di Kantor Kemenhut.
Selain itu, Menhut juga mengevaluasi berbagai langkah untuk pencegahan karhutla, termasuk kebutuhan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan pemantauan tinggi muka air tanah (TMAT) di daerah-daerah rawan. Evaluasi dilakukan agar setiap langkah pengendalian disusun berdasarkan kondisi di lapangan dan kebutuhan riil.
"OMC cuma dua kali awal Januari misalkan, bikin 5 bikin 7, berapa yang bener-bener (diperlukan). Tapi sekali lagi Government diperbaiki, TMATnya dilihat bener nggak air di Riau di Kalbar itu sudah di bawah itu," kata Menhut Raja Antoni.
Raja Antoni menegaskan penggunaan anggaran penanggulangan karhutla harus dilakukan secara cermat dan terukur. Ia meminta seluruh kebutuhan dihitung secara detail sehingga setiap dukungan yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan petugas di lapangan.
"Hati-hati banget, jangan aji mumpung. Hitung secara betul apa yang diperlukan oleh teman-teman di lapangan," kata Raja Antoni.
Ia menegaskan evaluasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem penanggulangan karhutla secara berkelanjutan.











































Komentar Terbanyak
Ketika Perbedaan Bahasa Indonesia-Malaysia Mengundang Tawa
Viral Turis China Dilecehkan Warlok Bali, Berawal dari Salaman Lalu ke Kemaluan
Indonesia Bakal Punya Negara Tetangga Baru, Siap Merdeka di 2030