Penasaran, Mengapa Bagasi Kabin Per Penumpang Dibatasi?

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Penasaran, Mengapa Bagasi Kabin Per Penumpang Dibatasi?

Bonauli - detikTravel
Minggu, 26 Jul 2026 07:29 WIB
International airport terminal. Asian beautiful woman with luggage and walking in airport
Foto: Getty Images/iStockphoto/marchmeena29
Jakarta -

Saat ini, peraturan tentang berat bagasi kabin terus diperketat. Ada maskapai yang menimbang semua bawaan penumpang sebelum boarding. Sebenarnya, apa sih alasannya?

Bagasi kabin yang berlebihan bukan sekadar bikin kesal, tetapi bisa memicu penundaan jadwal terbang yang signifikan. Awak kabin harus rela memutar otak untuk menjejalkan semua tas, atau terpaksa memindahkannya ke bagasi kargo di bawah pesawat.

Seorang mantan pilot yang kini menjadi peneliti keselamatan penerbangan, membeberkan alasan ini lewat sebuah wawancara bersama The Independent. Ia sangat mendukung aturan bagasi kabin yang lebih jelas karena beberapa hal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Banyak yang tak sadar bahwa bagasi kabin yang terlalu banyak merupakan ancaman keselamatan yang nyata. Namun, ketika makin banyak maskapai menetapkan batasan, timbul pertanyaan mengapa aturan bagasi bisa berbeda-beda untuk tiap maskapai.

ADVERTISEMENT

Alasan utama regulasi ini berkaitan langsung dengan batas berat lepas landas maksimum pesawat yang tidak boleh dilanggar demi memastikan penerbangan yang aman. Total bobot tersebut menghitung berat fisik pesawat, bahan bakar, pasokan makanan dan minuman dapur, kargo, berat pilot dan awak kabin, serta berat penumpang beserta bagasinya.

Bagasi terdaftar selalu ditimbang ketat di meja check-in, tetapi penanganan bagasi kabin sedikit berbeda. Untuk pesawat berukuran kecil dengan kapasitas di bawah tujuh penumpang, penimbangan berat penumpang secara langsung adalah hal wajib.

Jika kamu terbang di daerah terpencil seperti perjalanan antarpulau di Selat Torres, Australia, kamu wajib menimbang diri sendiri bersama bagasimu di bandara.

Namun, untuk pesawat yang lebih besar di rute yang lebih ramai, peraturan maskapai mengizinkan penggunaan berat rata-rata penumpang untuk menghitung total beban.

"Pada awal karier penerbangan saya di tahun 1998, standar berat penumpang yang diatur adalah 77 kg per orang di luar bagasi kabin," ujar Natasha Heap, mantan pilot yang kini menjadi pengajar di Unversity of Southern Queensland.

Seiring meningkatnya berat badan rata-rata masyarakat, hukum berusaha menyesuaikan diri. Untuk pesawat berkapasitas 150 hingga 299 kursi seperti Boeing 737, standar berat penumpang pria dewasa saat ini diasumsikan 81,8 kg, sedangkan wanita dewasa 66,7 kg, dengan standar bagasi kabin sebesar 7 kg per penumpang.

Meski begitu, undang-undang mengizinkan maskapai individual meminta persetujuan khusus atas batasan berat mereka sendiri kepada Otoritas Keselamatan Penerbangan Sipil. Hal inilah yang menyebabkan aturan bagasi kabin berbeda-beda antar-maskapai.

Dulu, aturan bagasi kabin terbilang jauh lebih standar di semua maskapai. Kemunculan maskapai berbiaya rendah mengubah seluruh tatanan tersebut dengan memisahkan tarif dasar dan mengenakan biaya untuk bagasi tambahan, Wi-Fi penerbangan, serta makanan dan minuman sebagai pendapatan ekstra.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional memperkirakan pendapatan tambahan ini, termasuk dari bagasi ekstra, bernilai USD 144 miliar (sekitar Rp 2.577,6 triliun) per tahun, angka yang bahkan melampaui nilai pengangkutan kargo udara di seluruh dunia.

Saat ini, jumlah barang yang dapat kamu bawa bergantung pada tarif atau paket upgrade yang kamu pilih. Banyak penumpang mencoba menghindari biaya tambahan dengan membawa semua barang sebagai bagasi kabin, tetapi maskapai mengetahui hal ini dan mengenakan biaya ekstra jika kamu melebihi batas.

Selain masalah regulasi dan bisnis, pembatasan bagasi kabin ditujukan untuk melindungi keselamatan fisik dan memperlancar penerbangan. Bagasi kabin yang terlalu berat menjadi beban fisik yang sangat berat bagi awak kabin, hingga banyak di antara mereka mengalami cedera punggung dan otot akibat membantu penumpang mengangkat tas berat ke kompartemen atas.

Tas yang terlalu besar juga menciptakan kemacetan di lorong pesawat yang memakan waktu saat proses boarding. Alasan paling krusial adalah dalam keadaan darurat, penumpang yang berhenti untuk mengambil bagasi kabin bukannya langsung keluar terbukti sangat memperlambat proses evakuasi.

Jadi, saat kamu bersiap untuk bepergian berikutnya, ingatlah bahwa membawa barang bawaan yang lebih ringan akan membuat penerbangan berangkat tepat waktu dan jauh lebih aman saat darurat, dan para awak kabin tentu akan sangat berterima kasih atas hal itu.



(bnl/ddn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads