Viral Dugaan WNA di Bali Keluarkan Semua WNI dari Grup WA, Alasannya Bikin Geram

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Viral Dugaan WNA di Bali Keluarkan Semua WNI dari Grup WA, Alasannya Bikin Geram

Fabiola Dianira - detikTravel
Rabu, 29 Jul 2026 22:12 WIB
Sergey Melnikov diduga mengeluarkan seluruh warga negara Indonesia (WNI) dari grup WhatsApp Garage Sales in Amed. (Dok. Tangkapan layar akun @chrisgiacobbecomedy)
Sergey Melnikov diduga mengeluarkan seluruh warga negara Indonesia (WNI) dari grup WhatsApp "Garage Sales in Amed". (Dok. Tangkapan layar akun @chrisgiacobbecomedy)
Badung -

Konten kreator komedi asal Italia, Christian Giacobbe, mengungkap dugaan tindakan diskriminatif Warga Negara Asing (WNA) yang mengeluarkan seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) dari sebuah grup Whatsapp (WA).

Tindakan yang dilakukan seorang warga negara asing (WNA) bernama Sergey Melnikov mengeluarkan seluruh warga negara Indonesia (WNI) dari grup WhatsApp "Garage Sales in Amed" dinilai sebagai tindakan yang diskriminatif.

Dalam videonya yang diunggah di akun @chrisgiacobbecomedy, Chris mengatakan Sergey sempat mengeluarkan seluruh anggota WNI dari grup WA tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini Sergey, pembuat grup Garage Sales in Amed. Suatu ketika, dia memutuskan mengeluarkan seluruh orang Indonesia dari grup," ujarnya dalam video yang diunggah di akunnya pada Senin (27/7).

Menurut Chris, Sergey beralasan para anggota WNI dikeluarkan karena dianggap tidak mematuhi aturan grup. Dalam tangkapan layar yang ditampilkan di video, Sergey menulis bahwa grup tersebut memang khusus diperuntukkan bagi komunitas ekspatriat.

ADVERTISEMENT

Namun, karena semakin banyak warga lokal yang bergabung dan mulai mengabaikan aturan, ia memutuskan mengeluarkan mereka agar anggota asing merasa lebih aman.

"Grup ini seharusnya diperuntukkan bagi komunitas ekspatriat. Namun, karena semakin banyak warga lokal bergabung dan mulai mengabaikan aturan, saya memutuskan mengeluarkan mereka agar seluruh warga asing merasa lebih aman. Saya bisa memasukkan kembali mereka yang berjanji akan mematuhi aturan. Tolong jangan menganggap ini sebagai sesuatu yang bersifat pribadi," tulis Sergey.

Namun, Chris menilai alasan tersebut tidak masuk akal dan diskriminatif. Sejumlah anggota grup juga memprotes keputusan tersebut dan mengaku orang-orang yang dikeluarkan tidak pernah melanggar aturan.

Beberapa komentar yang ditampilkan dalam video di antaranya berbunyi:

"Apa? Kamu baru saja mengeluarkan semua orang Indonesia dari grup? Astaga."

"Semoga tidak. Menurut saya grup ini sangat bermanfaat. Sedih rasanya jika semua warga lokal dikeluarkan hanya karena menggunakan kode nomor +62."

"Wah, kamu baru saja mengeluarkan pasangan saya, padahal dia tidak pernah melanggar aturan yang kamu buat."

Setelah menuai banyak protes, Sergey kemudian menyampaikan klarifikasi. Ia mengatakan grup tersebut awalnya dibuat sebagai wadah jual beli barang bekas bagi komunitas ekspatriat di Amed, bukan untuk menjadi grup komunitas yang besar.

Sergey juga mengaku belakangan menerima banyak pesan dari anggota yang mempertanyakan keamanan aktivitas di dalam grup. Kekhawatiran itu, menurutnya, muncul setelah maraknya pemberitaan mengenai penindakan keimigrasian yang disebut dipicu oleh laporan dari warga lokal.

"Belakangan saya menerima banyak pesan yang mempertanyakan keamanan aktivitas di grup karena maraknya pemberitaan mengenai tindakan keimigrasian setelah adanya laporan dari warga lokal. Meskipun menjual barang bekas tidak dipermasalahkan, terdapat unggahan mengenai penyewaan kembali, penjualan barang dari luar Indonesia, serta penawaran berbagai jasa," tulis Sergey.

Sementara itu, Humas Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai, Husnan, mengatakan pihaknya akan terlebih dahulu memeriksa informasi tersebut.

"Akan dicek dulu. Kalau dari sisi kami fokus terhadap masing-masing izin tinggal mereka," ujarnya.

Husnan menjelaskan aktivitas di dalam grup WhatsApp tersebut merupakan ranah privat. Meski demikian, Imigrasi akan menelusuri apakah terdapat aktivitas yang melanggar ketentuan hukum jika ada laporan yang masuk.

"Kalau ada laporan masuk, akan segera ditindaklanjuti," tutupnya.


---------

Artikel ini telah naik di detikBali.



(wsw/wsw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads