Sempat bikin deg-degan, aksi memberi makan kera secara langsung di Daerah Tujuan Wisata (DTW) Alas Pala Sangeh justru bisa memanjakan turis yang ingin berburu foto unik. Atraksi monkey feeding itu tak hanya membuat kera anteng, tapi juga ampuh mendongkrak angka kunjungan wisatawan.
Sejumlah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) mengejar Hamdani. Primata itu mengincar kantung berisi edamame dan pisang yang dibawa oleh pria asal Probolinggo tersebut.
Hamdani berupaya tidak panik meski monyet tersebut naik ke bahunya. "Sebetulnya agak takut digigit dan dicakar, tapi sejauh ini aman karena (monyet) dikasih makan," kata pria berusia 21 tahun itu kepada detikBali Selasa (28/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kunjungan itu menjadi debut Hamdani di DTW Alas Pala Sangeh. Dia kemudian membeli pisang dan edamame seharga Rp 20 ribu. Makanan itu memang dijual pengelola objek wisata tersebut untuk pengunjung sebagai salah satu kegiatan memberi makan satwa.
Kecemasan Hamdani dilukai oleh monyet berkurang setelah dia melihat sejumlah petugas Hutan Kera Sangeh kerap berkeliling memantau wisatawan. Beberapa di antara petugas membawa katapel untuk mengusir kera yang membahayakan turis.
"Asalkan ikuti petunjuk mereka (petugas) jadi tak takut digigit atau dicakar monyet," kata Hamdani.
Ketua Pengelola DTW Alas Pala Sangeh Ida Bagus Gede Pujawan menuturkan wisatawan memang bisa memberi makan monyet sejak Januari 2024. Turis mancanegara dewasa cukup membayar tiket Rp 75 ribu dan anak Rp 50 ribu untuk karcis masuk, termasuk mendapatkan air mineral dan makanan monyet. Adapun, tiket wisatawan domestik Rp 15 ribu tanpa memperoleh makanan untuk satwa.
Pujawan mengeklaim atraksi pemberian makan kera oleh wisatawan membuat primata itu tidak mengambil barang yang dibawa pelancong.
"Justru dengan monkey feeding ini monyet lebih fokus pada makanan," kata dia.
Pujawan mengatakan pemberian makan kera oleh turis juga menjadi daya tarik Hutan Kera Sangeh dibandingkan hutan kera lainnya. Atraksi tersebut juga diklaim ampuh meningkatkan jumlah kunjungan turis ke hutan seluas 14 hektare tersebut.
Data DTW Alas Pala Sangeh menyebutkan jumlah kunjungan turis pada 2024 mencapai 144.733 orang. Adapun pada 2025 jumlah wisatawan yang berkunjung ke hutan kera itu naik menjadi 206.458 orang. Dari jumlah tersebut, pelancong asing masih mendominasi dibandingkan wisatawan domestik.
Pujawan bilang atraksi memberi makan monyet itu membuat anggaran biaya makan kera turun. Sebelumnya, pengelola DTW Alas Pala Sangeh menghabiskan sekitar Rp 30 juta per bulan untuk makan monyet. Namun, kini turun menjadi berkisar Rp 18 juta per bulan.
Pengelola biasanya memberi makan para penghuni alas itu dua kali sehari yakni pukul 06.00 dan 11.00 Wita. Adapun, jumlah kera di hutan tersebut mencapai 700 ekor.
"Makanannya kami taruh di tempat-tempat tertentu," kata Pujawan.
Sejumlah wisatawan terlihat memberi makan monyet. Makanan juga bisa menarik perhatian monyet untuk mau berada di kepala, bahu, maupun tangan wisatawan. Momen kera-kera yang asyik makan dan bertengger di tubuh pelancong itu lalu diabadikan oleh fotografer. Para pelancong bisa menebus foto tersebut sebagai suvenir dari Hutan Kera Sangeh.











































Komentar Terbanyak
Potret Terkini Malaysia yang Selangkah Lagi Jadi Negara Maju
Ketika Perbedaan Bahasa Indonesia-Malaysia Mengundang Tawa
Indonesia Bakal Punya Negara Tetangga Baru, Siap Merdeka di 2030