Suhu ekstrim di Afrika bikin unta sebagai hewan gurun dengan ketangguhan menaklukkan medan terik tak berdaya. Unta-unta mati karena dehidrasi dan stres karena panas hebat.
Kondisi itu dikaitkan dengan perubahan iklim. Wilayah Afar di timur laut Etiopia menjadi salah satu saksi bisu ganasnya krisis iklim itu. Di sana, nomaden yang bergantung pada unta untuk mengangkut garam melintasi Gurun Danakil kini harus menyaksikan hewan gembalaan mereka bertumbangan.
"Dalam sebulan terakhir saya kehilangan delapan anak unta karena panas ekstrem. Kondisinya menjadi jauh lebih intens dan sulit," kata Ali Umer (40), seorang penggembala dari Semera, Afar, yang memelihara sekitar 500 ekor unta, dikutip dari BBC, Senin (3/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahkan angin yang dulu membawa udara sejuk kini membawa panas. Kaki mereka melepuh, mata mereka berair, dan pasir yang panas membakar kulit mereka serta merusak bulu mereka saat mereka duduk. Saya bisa melihat unta-unta saya menderita," katanya dengan nada pilu.
Ilmuwan, dokter hewan, hingga lembaga riset internasional juga menyoroti bagaimana stres panas, dehidrasi, hingga lonjakan penyakit sedang menghantui populasi unta di Afrika Utara dan kawasan Tanduk Afrika, wilayah yang menampung sekitar 80% populasi unta dromedaris (berpunuk satu) dunia.
Studi pada 2025 di Etiopia selatan mengungkapkan bahwa variabilitas iklim telah merusak kesehatan, produktivitas, serta reproduksi unta secara signifikan.
Kondisi di Somalia bahkan jauh lebih memprihatinkan. Penelitian pada Juni mencatat bahwa kematian unta akibat kekeringan berdampak pada hampir 46% keluarga pemilik unta. Di wilayah Sool, angka kematian unta bahkan menembus tingkat yang mengkhawatirkan hingga hampir 73%.
Di Kenya, para dokter hewan juga kewalahan menangani tingginya kasus penyakit fatal pada unta.
"Kami melihat peningkatan signifikan kasus hipertermia pada unta yang menyebabkan mereka mengalami berbagai infeksi," ujar Hassan Nuya Guyo, dokter hewan di Marsabit, Kenya.
"Dalam dua tahun terakhir, kami telah melihat peningkatan lebih dari 15% kematian unta di wilayah kami akibat panas ekstrem," dia menambahkan.
Situasi serupa terjadi di Afrika Utara. Studi terbaru di Aljazair mengonfirmasi adanya lonjakan kematian unta secara masif selama gelombang panas di musim kemarau.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) melaporkan bahwa pemanasan di Afrika Utara terjadi paling cepat dibanding subwilayah lain. Pada kurun 2024 saja, beberapa kawasan di Afrika dan Timur Tengah melaporkan suhu ekstrem yang secara konsisten melampaui 50 derajat Celsius.
Secara biologis, unta sejatinya sanggup bertahan di suhu hingga 40Β°C dengan cara menaikkan suhu tubuhnya agar tidak berkeringat dan menghemat cairan. Namun, angka di atas 41Β°C-50Β°C yang terjadi terus-menerus terbukti merusak sistem organ mereka.
"Namun, unta juga dapat mengalami stres ketika suhu meningkat melampaui kisaran kenyamanan mereka," kata Dr Mohammed Bengoumi, ilmuwan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).
"Di banyak bagian Sahara, suhu musim panas kini sering melampaui 50 derajat Celsius, meningkatkan risiko stres panas yang parah, terutama ketika disertai berkurangnya tutupan vegetasi, kelangkaan air, dan terbatasnya akses ke tempat teduh," dia menambahkan.
Kerusakan sistem imun unta akibat sengatan panas ekstrem itu dijelaskan secara ilmiah oleh Profesor Abdelmadjid Chehma dari Universitas Ghardaia, Aljazair.
"Penelitian kami menunjukkan bahwa panas berkepanjangan siang dan malam di atas 41 hingga 45 derajat Celsius secara langsung menyerang sel-sel mereka," kata Chehma.
"Sistem kekebalan mereka menderita karena tingkat panas seperti itu merusak sel darah putih dan sel-sel lain akibat stres. Sel-sel tersebut kesulitan memperbaiki diri dan akhirnya menghancurkan diri sendiri," dia menambahkan.
Efek lanjutan dari stres panas itu melumpuhkan metabolisme unta. Tubuh yang lesu membuat asupan makan turun drastis, bobot menyusut, terjadi ketidakseimbangan kimiawi ginjal, hingga hasil produksi susu ternak anjlok secara signifikan.
Hilangnya vegetasi, air, dan tempat berteduh memaksa para peternak di Etiopia mengambil tindakan dramatis. Mereka meninggalkan tanah kelahiran secara permanen menuju ke wilayah selatan.
Kini, para penggembala seperti Ali Umer hanya bisa berserah sembari mengkhawatirkan keselamatan kawanan unta dewasanya yang tersisa dari ancaman wabah penyakit akibat panas.
"Meskipun unta tetap menjadi garis pertahanan terakhir para penggembala ternak terhadap gurun, intensitas gelombang panas saat ini yang belum pernah terjadi sebelumnya secara langsung mengancam fungsi-fungsi vital mereka, mengubah hewan yang secara historis tangguh ini menjadi korban perubahan iklim," kata Chehma.











































Komentar Terbanyak
Ketika Perbedaan Bahasa Indonesia-Malaysia Mengundang Tawa
Viral Turis China Dilecehkan Warlok Bali, Berawal dari Salaman Lalu ke Kemaluan
Indonesia Bakal Punya Negara Tetangga Baru, Siap Merdeka di 2030