Setiap tahun, ribuan umat Katolik dari berbagai penjuru dunia akan menyusuri Camino de Santiago, jalur ziarah yang membentang sejauh ratusan kilometer di Eropa.
Dilansir dari UNESCO World Heritage Centre, Rabu (5/8/2026), Camino de Santiago de Compostela merupakan salah satu jalur peziarahan Katolik paling terkenal di dunia.
Para peziarah dari berbagai belahan dunia telah menyusuri jalur ini selama lebih dari seribu tahun dengan tujuan akhir di Katedral Santiago de Compostela, Galicia, Spanyol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tempat itu diyakini sebagai makam Santo Yakobus Rasul atau Saint James the Great. Perjalanan menyusuri jalur ziarah ini dimulai dari sejak zaman Medieval hingga sekarang.
Pada zaman abad pertengahan, para peziarah akan menempuh rute ini sebagai bentuk perjalanan spiritual untuk menumbuhkan keyakinan rohani mereka. Sebagai penanda, mereka akan membawa pulang cangkang kerang khas dari Galicia pulang kembali ke tempat asalnya.
Hingga sekarang, cangkang kerang khas Galicia itu masih jadi simbol penanda rute Camino de Santiago. Di sepanjang perjalanan, para peziarah akan singgah di titik-titik tertentu seperti katedral, biara, hingga restoran untuk mendapatkan stempel sebagai bukti mereka telah menyusuri jalur ini.
Jalur ziarah ini pun diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia, karena tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga berhasil menggerakkan ekonomi lokal, melestarikan warisan budaya, memperkuat identitas masyarakat, serta menciptakan pemerataan manfaat pariwisata pada wilayah-wilayah yang dilalui.
Ada beberapa jalur yang bisa dipilih oleh para peziarah. Ada Camino Primitivo, jalur tertua yang ditempuh pada abad ke-9. Jalur ini berawal di Oviedo dan berakhir di Santiago de Compostela dengan jarak 320 kilometer.
Jalur berikutnya yaitu Camino Frances. Sesuai dengan namanya, jalur ini dimulai dari Roncesvalles di Prancis kemudian berakhir di Santiago de Compostela dengan jarak total 800 kilometer.
Ada juga Camino Portugues yang bermula di Portugal. Jalur ini merupakan jalur terpopuler kedua setelah Prancis. Jarak totalnya 610 kilometer, dari Katedral Lisbon hingga Santiago de Compostela.
Terakhir ada rute Camino del Norte yang menyusuri bagian utara Spanyol. Rute ini dimulai dari kota Irun di wilayah Basque, kemudian membentang sepanjang Teluk Biscay sampai ke Santiago dengan jarak total 817 km.
Tahun 2025 tercatat 500 ribu peziarah mengikuti tur Camino de Santiago. Tak heran jika jalur ini menjadi rute ziarah paling populer di dunia.
Di Flores, ternyata jalur ziarah yang sama juga tengah dikembangkan sebagai wisata religi, yaitu Camino Flores. Camino Flores dirancang sebagai sebuah perjalanan spiritual lintas wilayah yang menghubungkan berbagai situs religi dan sejarah misionaris di Pulau Flores.
Selama perjalanan, peziarah tidak hanya mengikuti aktivitas keagamaan, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat lokal, menikmati budaya, kuliner, UMKM, atraksi alam, namun juga diajak untuk terlibat dalam kegiatan sosial di titik tertentu sepanjang rute yang dilalui.
Kehadiran Camino Flores diharapkan tidak hanya memperkaya pilihan produk wisata minat khusus, tetapi juga memperkuat posisi Flores sebagai destinasi wisata spiritual yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Inisiatif ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam pengembangan wisata religi Katolik di Pulau Flores dengan menghadirkan pengalaman ziarah yang memadukan nilai-nilai spiritual, kekayaan budaya, dan keindahan alam.
Camino de Flores terdiri dari tiga Etape, yaitu Etape Barat yang terdiri dari sepanjang Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur. Lalu Etape Tengah dimulai dari Bajawa, Nagekeo, dan Ende, serta Etape Timur yang terdiri dari rangkaian wilayah Maumere dan Flores Timur.
Total jarak tempuh pada masing-masing etape adalah 70 kilometer. Camino Flores pun diharapkan dapat menjadi tonggak baru dalam pengembangan wisata religi di Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Flores sebagai destinasi pariwisata yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.
"Kita memiliki situs-situs religi yang tersebar dari barat hingga timur Flores, tradisi iman Katolik yang hidup, budaya lokal yang autentik, serta bentang alam yang menawarkan pengalaman perjalanan yang reflektif. Seluruh potensi tersebut merupakan fondasi yang sangat relevan untuk dikembangkan menjadi sebuah pilgrimage trail berkelas dunia," jelas Andhy Marpaung, Dirut BPOLBF.











































Komentar Terbanyak
Potret Terkini Malaysia yang Selangkah Lagi Jadi Negara Maju
Ketika Perbedaan Bahasa Indonesia-Malaysia Mengundang Tawa
Gara-gara Protes Penerbangan Delay, Warga 62 Ditahan Polisi KLIA