Pemerintah akan fokus untuk meningkatkan performa investasi dan kinerja industri pariwisata pada kuartal ketiga tahun 2026.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan langkah ini merupakan salah satu langkah strategis untuk mendorong perekonomian nasional menuju penghujung tahun 2026.
"Kuartal selanjutnya tentu investasi tetap kita dorong. Kemudian, industri yang terkait dengan pariwisata juga terus kita genjot," kata dia seperti dikutip Antara, Jumat (7/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara umum, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai 630,41 juta perjalanan, tertinggi untuk triwulan II sejak 2019 atau sebelum pandemi COVID-19.
Untuk destinasinya, Bali serta Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur masih menjadi destinasi favorit bagi pelancong dari dalam maupun luar negeri.
Dari sisi investasi, terutama industri rekreasi, pasar Indonesia memang bukan sekadar angka di atas kertas. Pertumbuhan ekonomi yang stabil di atas 5 persen, serta jumlah penduduk yang mendekati 290 juta jiwa memang menjadi magnet utama.
Namun para pemain industri ini harus terus melalukan inovasi, sebab zaman sekarang pengunjung tak sekadar datang untuk sekadar bermain dan mendapat hiburan, tapi juga berburu konten untuk diunggah ke TikTok atau Instagram.
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) membuat para pelaku industri harus terus mengubah wajah arena permainan mereka menjadi fotogenik. Persaingan bisnis hiburan hari ini tidak lagi sebatas menyediakan mesin capit boneka atau simulator balap, tapi telah bergeser ke pengalaman yang emosional.
"Di industri ini, jika Anda tidak berinovasi atau tidak mengikuti arus pasar, Anda tidak akan bertahan," ungkap Soen Andy Sunjaya, Chief Executive Officer Mitra Gamesindo, di sela-sela diskusi panel bertajuk Future of Play Indonesia 2026 di ajang 6th Fun Asia Expo.
Talkshow 6th Fun Asia Expo Foto: (dok. Istimewa) |
Menurut Andy, konsistensi penyegaran wahana dan inovasi secara konstan adalah harga mutlak, mengingat usia retensi antusiasme pengunjung terhadap satu jenis mesin permainan kini memendek menjadi 2 hingga 3 tahun saja.
Perubahan tren global juga diakui Melvyn Sutiono, Corporate System Manager Funworld Indonesia. Melvyn menyoroti konsumen Indonesia kian teredukasi dengan tren gim luar negeri. Mereka menuntut hadirnya wahana berstandar internasional. Konsekuensinya, ekspansi merek gim baru, wahana interaktif, dan lisensi eksklusif menjadi modal utama untuk memenangi persaingan di mal-mal papan atas.
Sedangkan menurut General Manager CBCN Indonesia, Mercedes Amanda, kegagalan terbesar operator pendatang baru sering kali terletak pada ketidakmampuan mereka dalam membaca kebiasaan lokal dan lemahnya perencanaan operasional jangka panjang (playability).
Riset yang mendalam, mulai dari daya beli demografi setempat, preferensi budaya, hingga aspek sensitif seperti sertifikasi halal pada area Food & Beverage harus dituntaskan sebelum investasi ditanamkan.
Tanpa perencanaan strategi pemasaran dan retensi yang matang, sebuah tempat hiburan baru berisiko sepi pengunjung hanya dalam hitungan bulan setelah seremoni pembukaan.
Tantangan berikutnya terletak pada benteng sumber daya manusia. Di negara yang menjunjung tinggi budaya keramahan (hospitality), kenyamanan suhu ruangan hingga senyuman staf di lapangan memegang peranan krusial melebihi teknologi itu sendiri.
Rekrutmen yang berkelanjutan, pelatihan standar pelayanan (above and beyond), hingga pemeliharaan keselamatan (safety checklist) harian akan menjadi indikator yang menentukan hidup-matinya arena permainan.











































