Ketika wisatawan mengalami gigitan ular, tersengat ubur-ubur, atau keracunan hewan laut saat berlibur di Indonesia, mereka biasanya akan mencari rumah sakit terdekat. Namun, bagi sebagian wisatawan mancanegara, ada satu nomor telepon yang lebih dulu dihubungi.
Nomor itu milik dokter spesialis gawat darurat RS Permata Depok dan pakar toksinologi Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.Em., Sub.Sp.Tok(K). dokter perempuan asal Kediri itu dipercaya sebagai penasihat organisasi kesehatan dunia (WHO) untuk penanganan gigitan ular dan turut menyusun panduan Management of Snakebites.
Di tingkat nasional, dia menjabat sebagai ketua Kajian Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun di Kementerian Kesehatan RI. Untuk mempercepat pertolongan darurat, dia juga mengembangkan dan mengelola langsung aplikasi layanan gawat darurat yang siap membantu siapa saja, termasuk saat menghadapi serangan ular berbisa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama lebih dari satu dekade, Tri menjadi tempat berkonsultasi bagi wisatawan dari berbagai negara yang mengalami kondisi darurat saat berwisata di Indonesia. Mulai dari gigitan ular berbisa, sengatan ubur-ubur, hingga keracunan hewan laut.
Yang menarik, nomor teleponnya bahkan disimpan dan dibagikan oleh sejumlah biro perjalanan di Eropa.
"Ada sebuah biro perjalanan di Praha yang menyertakan nomor saya. Jadi kalau ada wisatawan dari Praha yang mengalami gigitan ular atau hewan laut saat berlibur di Bali atau Ubud, mereka bisa langsung menghubungi saya," kata Maha, sapaan karib Tri Maharani, kepada detikTravel beberapa waktu lalu.
Berawal dari Satu Wisatawan
Maha bercerita, kerja sama itu bermula dari seorang wisatawan asal Republik Ceko yang digigit ular saat menginap di sebuah resor di Ubud, Bali.
Saat itu, wisatawan tersebut berhasil mendapatkan penanganan dan pulang dengan selamat. Sebagai bentuk terima kasih, biro perjalanan yang biasa digunakan wisatawan tersebut meminta izin kepada Maha untuk membagikan nomor teleponnya kepada pelanggan mereka yang hendak berlibur ke Indonesia.
"Mereka bilang, boleh tidak nomor saya dibagikan di biro perjalanan supaya kalau ada orang Praha yang ke Bali atau Ubud mengalami gigitan ular atau sengatan hewan laut, bisa langsung menghubungi saya," kata dia.
Sejak saat itu, konsultasi dari wisatawan asing terus berdatangan.
Tak hanya wisatawan asal Republik Ceko, Maha mengatakan juga sering menerima konsultasi dari wisatawan asal Jepang, China, hingga sejumlah negara Eropa lainnya.
Yang membuatnya prihatin, justru wisatawan Indonesia relatif jarang memanfaatkan layanan tersebut.
"Yang menghubungi saya lebih banyak turis asing. Orang Indonesia justru jarang," kata dia.
Menurut Maha, wisatawan asing umumnya lebih terbiasa mencari informasi mengenai risiko kesehatan sebelum bepergian.
Mereka juga tidak ragu menghubungi tenaga kesehatan ketika mengalami keadaan darurat, meski hanya untuk memastikan apakah kondisi yang dialami cukup ditangani sendiri atau harus segera dibawa ke rumah sakit.
Konsultasi dari Jarak Jauh
Jauh sebelum layanan telemedicine berkembang seperti sekarang, Maha sudah memberikan konsultasi jarak jauh kepada pasien maupun wisatawan.
Dia mulai melakukannya pada 2014. Awalnya menggunakan layanan pesan singkat dan aplikasi komunikasi yang populer saat itu. Kini, layanan tersebut berkembang menjadi Virtual Poison Center, sistem konsultasi berbasis teknologi yang ia kembangkan bersama akademisi.
Melalui layanan tersebut, wisatawan dapat berkonsultasi mengenai gigitan ular, sengatan hewan laut, hingga berbagai kasus keracunan.
"Kalau ada yang digigit ular atau tersengat ubur-ubur, mereka bisa langsung bertanya. Nanti kami berikan pertolongan pertama yang harus dilakukan," kata dia.
Maha menjelaskan tujuan utama layanan itu bukan menggantikan rumah sakit, tetapi membantu wisatawan mengambil langkah yang benar pada menit-menit pertama setelah kejadian.
Dalam banyak kasus, pertolongan pertama yang tepat dapat mencegah kondisi korban memburuk sebelum mendapatkan penanganan medis.
Pengalaman berkomunikasi dengan wisatawan dari berbagai negara membuat Maha melihat satu perbedaan mendasar.
Menurutnya, banyak wisatawan asing memilih berlibur ke suatu negara setelah memastikan destinasi tersebut memiliki sistem keselamatan yang baik. Karena itu, ia berulang kali mendorong agar Indonesia tidak hanya berfokus mempromosikan keindahan alam, tetapi juga memperkuat aspek keselamatan wisata.
Dia menilai keberadaan layanan kesehatan yang mudah diakses, sistem kegawatdaruratan yang terintegrasi, hingga informasi kesehatan yang jelas akan meningkatkan rasa aman wisatawan.
"Kalau wisatawan tahu Indonesia aman, mereka akan datang sendiri. Mereka yakin bisa pulang dengan selamat," kata dia.
Menurut Maha, kepercayaan wisatawan dibangun bukan hanya dari pemandangan yang indah, tetapi juga dari kepastian bahwa mereka akan mendapatkan pertolongan ketika menghadapi situasi darurat.
"Orang datang berwisata ingin bahagia. Maka mereka juga harus pulang dengan selamat," ujarnya.
Simak Video "Video: Ini Taxi Pickup Favorit Turis Asing di Nusa Lembongan, Ongkosnya Berapa?"
[Gambas:Video 20detik] (fem/ddn)










































