Mari Sarapan Bubur Kacang Filipina yang Unik ala Kepulauan Talaud

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Mari Sarapan Bubur Kacang Filipina yang Unik ala Kepulauan Talaud

Hari Suroto - detikTravel
Minggu, 09 Agu 2026 11:11 WIB
Kuliner khas Kepulauan Talaud
Kuliner khas Kepulauan Talaud (dok. Hari Suroto/Istimewa)
Talaud -

Kepulauan Talaud memiliki kuliner tradisional unik berbahan kacang Filipina yang traveler perlu coba. Kuliner ini disebut bubur tambue.

Biasanya kuliner ini akan disantap untuk sarapan atau smokol bersama dabu sarit dan akan selalu ada di setiap acara adat.

Bubur ini berasa gurih, bagian luar terasa empuk sementara bagian dalamnya memberikan gigitan yang lembut dan tidak mudah hancur. Dabu sarit yaitu sambal terbuat dari cabai, tomat, ikan laut dan santan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kacang Filipina sebenarnya adalah kacang merah kecil. Sepintas bentuknya bundar seperti kacang hijau berwarna merah.

Kuliner khas Kepulauan TalaudKuliner bubur tambue khas Kepulauan Talaud Foto: (dok. Hari Suroto/Istimewa)

Masyarakat Talaud menyebutnya kacang merah, tetapi berbeda dengan kacang merah brenebon yang bentuknya lebih besar, lonjong atau bulat agak panjang. Kacang Filipina terasa lembut di mulut dan memiliki konsistensi yang cukup padat.

ADVERTISEMENT

Untuk proses pembuatan bubur tambue, sebelumnya kacang merah dicuci dan dibersihkan dari kotoran. Selanjutnya kacang itu direndam selama dua hingga tiga jam, lalu dibilas.

Kemudian, masukkan kacang merah dalam panci, lalu tuang air kira-kira satu jari telunjuk tinggi dari permukaan beras dan kacang merah. Aduk-aduk hingga kacang merah dan beras tercampur rata. Rebus dengan api sedang selama sekitar 10 hingga 15 menit hingga kacang merah empuk.

Setelah itu, masukkan santan dan daun pandan, rebus sampai mendidih. Setelah santan sudah menyatu dengan bubur dan hampir kering, matikan api, masukkan garam, aduk rata. Tutup panci dan diamkan selama 30 menit dan siap disajikan.


--------

Artikel ini ditulis oleh Hari Suroto dari Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara dan telah diubah seperlunya oleh redaksi.



(wsw/wsw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads