Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih menjadi perhatian. Api yang pertama kali terdeteksi pada awal Agustus terus meluas hingga memaksa pengelola menutup seluruh akses wisata ke Gunung Bromo.
Berikut fakta-fakta terbaru kebakaran Bromo:
1. Kebakaran Berawal pada 3 Agustus 2026
Titik api pertama kali terdeteksi pada Senin (3/8/2026) di kawasan BlokBantengan, perbatasan Kabupaten Malang danLumajang. Lokasi kebakaran berada di area perbukitan yang sulit dijangkau sehingga pemadaman dari darat mengalami banyak kendala. Kebakaran masih menyisakan sejumlah titik api hingga Minggu (9/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
2. Luas Lahan Terbakar Terus Bertambah
Luas area yang terbakar meningkat sangat cepat hingga mencapai sekitar 520 hektare dalam beberapa hari. Perluasan area kebakaran dipicu vegetasi kering, angin kencang, dan medan yang sulit dijangkau petugas. Dari luasan tersebut, sekitar 300 hektare terbakar pada malam sebelumnya.
3. Diduga Berasal dari Jalur Tikus
Balai Besar TNBTS menduga api bermula dari jalur tradisional atau "jalur tikus" di kawasan perbukitan Bantengan menuju Argosari. Dugaan tersebut masih dalam proses penyelidikan. Kebakaran itu disebut bukan karena faktor cuaca, melainkan karena ulah manusia. Titik awal api diketahui berada di atas perbukitan kawasan Blok Bantengan-Jantur.
Lokasi tersebut sangat jarang dilintasi karena merupakan bagian dari akses jalan yang sudah ada sebelumnya.
"Kalau dugaan kita memang karena dari atas (sumber api). Dari atas punggungan (perbukitan) dari Bantengan ke arah Argosari," kata Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha dilansir detikJatim.
4. Medan Terjal Hambat Pemadaman
Proses pemadaman tidak mudah karena sebagian besar titik api berada di lereng curam dan tebing. Angin yang bertiup kencang membuat kobaran api cepat berpindah ke kawasan lain sehingga petugas kesulitan mengendalikan penyebarannya.
5. Helikopter Water Bombing Dikerahkan
Pemerintah mengerahkan helikopter untuk melakukan water bombing pada titik-titik api yang tidak bisa dijangkau melalui jalur darat. Selain itu, BNPB bersama BMKG juga menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu proses pemadaman apabila kondisi cuaca memungkinkan.
Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antonisaat meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo mengatakan helikopter water bombing akan digunakan secara maksimal hingga api padam.
Sejumlah titik yang masih mengalami kebakaran di antaranya berada di kawasan Tebing P-30, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, serta sekitar Gunung Dingklik, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Pemadaman dari udara, kata Raja Juli, menjadi salah satu strategi penting untuk menjangkau titik-titik api yang sulit diakses petugas dari darat.
6. Seluruh Kawasan Wisata Bromo Ditutup
Balai Besar TNBTS menutup seluruh akses wisata Gunung Bromo mulai Sabtu (8/8) pukul 22.00 WIB hingga waktu yang belum ditentukan.
Lima pintu masuk yang ditutup meliputi:
- Cemorolawang (Probolinggo)
- Wonokitri (Pasuruan)
- Jemplang (Malang)
- Coban Trisula (Malang)
- Senduro (Lumajang)
Penutupan dilakukan demi keselamatan wisatawan sekaligus mempercepat proses pemadaman.
7. Wisata di Kabupaten Probolinggo Masih Beroperasi
Meski kawasan TNBTS ditutup, Pemerintah Kabupaten Probolinggo memastikan destinasi wisata lain di wilayahnya tetap aman dikunjungi. Penutupan hanya berlaku untuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang terdampak kebakaran.
8. Prioritas Utama adalah Keselamatan dan Pemulihan Ekosistem
Selain memadamkan api, pemerintah berupaya mencegah kerusakan ekosistem yang lebih luas. Kawasan savana dan vegetasi pegunungan yang terbakar membutuhkan waktu cukup lama untuk pulih sehingga seluruh aktivitas wisata dihentikan sementara sampai kondisi benar-benar aman.










































