Penerbangan maskapai Porter Airlines di Kanada terpaksa kembali ke terminal. Satu bocah menolak memakai sabuk pengaman.
Pesawat Porter Airlines yang hendak terbang dari Victoria menuju Toronto itu akhirnya batal berangkat sesuai jadwal. Peristiwa tersebut terjadi pada 6 Agustus 2026.
Mengutip BBC, Rabu (12/8/2026) manajemen Porter Airlines mengatakan pesawat sudah bersiap untuk lepas landas ketika seorang anak berdiri di kursinya. Dia kemudian menolak mengenakan sabuk pengaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Upaya orang tua yang mendampingi dan awak kabin untuk menangani situasi ini tidak berhasil," keterangan Porter Airlines.
Karena kondisi tersebut dianggap tidak aman, kru memutuskan untuk membawa pesawat kembali ke terminal.
"Pesawat tidak dapat lepas landas dalam kondisi yang tidak aman ini, sehingga awak memutuskan untuk kembali ke terminal dan meminta kedua penumpang tersebut turun," keterangan ditambahkan.
Keputusan itu membuat penerbangan tidak bisa berangkat sebelum landasan pacu ditutup lewat tengah malam. Para penumpang pun harus dijadwalkan ulang untuk penerbangan pada hari berikutnya.
Kejadian itu kemudian memicu perdebatan mengenai bagaimana maskapai dan orang tua seharusnya menghadapi anak yang sulit mengikuti aturan keselamatan di dalam pesawat. Sebagian netizen menilai orang tua seharusnya lebih tegas, sementara yang lain menganggap anak bisa saja merasa takut atau tidak nyaman saat terbang.
Pakar keselamatan penerbangan anak, Lia Tuso, menilai keputusan kru Porter Airlines sudah tepat. Menurutnya, aturan penggunaan sabuk pengaman bukan sekadar formalitas, tetapi berkaitan langsung dengan keselamatan penumpang.
"Anak-anak yang tidak terikat sabuk pengaman dapat menjadi proyektil," kata Tuso.
Ia menjelaskan tubuh anak jika tidak menggunakan seat belt dapat terlempar seperti barang bawaan saat pesawat mengalami turbulensi, terutama ketika lepas landas dan mendarat.
Salah satu penumpang dalam penerbangan tersebut, Aryeh Kozuch, justru melihat situasi dari sisi berbeda. Ia mengatakan anak itu tidak terlihat sedang membuat keributan, melainkan seperti ketakutan.
"Mereka terus bersembunyi di bawah kursi. Ketika dipaksa untuk diikat, mereka justru meluncur keluar dari bawah kursi," kata dia.
Kasus seperti ini bukan yang pertama terjadi di penerbangan Amerika Utara. Pada 2018, seorang ayah dan putrinya dikeluarkan dari penerbangan Southwest Airlines setelah terjadi perselisihan dengan kru.
Sementara itu, pada 2012, JetBlue juga pernah menurunkan penumpang karena dinilai tidak mematuhi instruksi awak kabin dalam waktu lama. Maskapai tersebut menyebut keputusan itu diambil kapten demi keselamatan seluruh penumpang dan kru.










































