Gelombang panas dan minimnya hujan membuat sejumlah sungai penting di Eropa menyusut drastis. Di beberapa wilayah, permukaan air bahkan turun ke titik terendah yang pernah tercatat.
Kondisi tersebut terlihat dari citra satelit yang menunjukkan aliran sungai semakin mengecil di tengah daratan yang mengering. Tepian sungai yang biasanya terendam kini terlihat luas, begitu pula gundukan pasir yang selama ini berada di bawah permukaan air.
Jika dibandingkan dengan kondisi pada 2023, ketika debit sungai-sungai Eropa masih berada di kisaran normal, perubahan tahun ini terlihat cukup mencolok. Musim panas ekstrem dan kekeringan berkepanjangan membuat sungai kehilangan banyak air.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip CNN, Jumat (14/8/2026) Eropa sendiri merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia. Gelombang panas yang terjadi berulang kali membuat tanah dan sumber air semakin kering, sementara hujan yang minim membuat kondisi tersebut sulit pulih.
Padahal, sungai memiliki peran penting bagi kehidupan di Eropa. Selain menjadi jalur transportasi barang, sungai dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, sistem pendingin pembangkit energi, serta menjadi habitat berbagai satwa. Sungai juga menjadi bagian penting dari aktivitas wisata.
Salah satu yang terdampak parah adalah Sungai Danube, sungai terpanjang kedua di Eropa itu mengalir melewati 10 negara dari Jerman hingga Laut Hitam. Di Hungaria, permukaan air Danube bahkan mencapai rekor terendah.
Citra satelit Sungai Danube. (Tangkapan layar/European Space Agency/Copernicus Sentinel-2) |
Di Budapest, permukaan Danube hanya sekitar 10 cm pada Senin lalu. Angka itu memecahkan rekor sebelumnya yang tercatat sekitar 33 cm pada 2018. Kondisi tersebut dikhawatirkan semakin parah karena gelombang panas kembali melanda Eropa Tengah dan Timur.
Surutnya Danube juga menimbulkan masalah bagi sektor energi Hungaria. Pembangkit listrik tenaga nuklir Paks, yang menyuplai hampir setengah kebutuhan listrik negara tersebut, harus mengurangi operasional karena air Danube digunakan untuk mendinginkan reaktor.
Rumania juga menghadapi persoalan serupa. Angkatan laut negara itu menggunakan bahan peledak untuk memecah batuan agar aliran Danube dapat dialihkan menuju satu-satunya reaktor yang masih beroperasi di pembangkit listrik tenaga nuklir Cernavoda.
Munculnya bangkai kapal perang Jerman PD II di Sungai Danube. (Djordje Kojadinovic / REUTERS) |
Sektor pariwisata pun ikut terdampak. Sejumlah kapal pesiar sungai terpaksa membatalkan atau mengubah perjalanan karena kedalaman air berkurang. Bahkan, sebuah kapal pesiar kandas di gundukan pasir di Danube, Bulgaria, pada pekan lalu.
Menariknya, surutnya Danube juga membuka kembali sejumlah peninggalan masa lalu. Di Bulgaria ditemukan sisa-sisa yang diduga merupakan mamut purba, sementara bangkai kapal perang Nazi yang tenggelam kembali terlihat di Serbia.
Sungai Rhine di Jermang tak luput dari persoalan. Rendahnya salju di Pegunungan Alpen saat musim dingin, minim hujan, dan lima gelombang panas di wilayah aliran sungai membuat permukaan air Rhine berada di level kritis.
Kapal pengangkut barang bahkan harus mengurangi muatan hingga 80% untuk menghindari kandas.
Profesor Ilmu Iklim University of Reading, Richard Allan, memperingatkan kondisi seperti ini bisa semakin sering terjadi. "Seiring iklim terus menghangat, kondisi ekstrem hidrologi yang kita alami saat ini mungkin baru merupakan puncak dari masalah yang lebih besar," ujarnya.
"Pengelolaan sumber daya air akan semakin sulit. Satu-satunya cara untuk membatasi kondisi ekstrem ini adalah dengan segera mengurangi emisi gas rumah kaca di seluruh sektor dan mendukung kebijakan jangka panjang, bukan sekadar melakukan penanganan darurat dalam jangka pendek," jelas Allan.












































