Selain pengajian dan senam bersama, ada satu kegiatan lain yang rutin dilakukan para warga senior di Desa Timpik, Dusun Bogo, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang dalam setiap pekannya. Setiap Senin atau Selasa malam mereka yang rata-rata berusia 70 tahun ke atas itu duduk bersimpuh di teras kediaman Pak Sudjimin, 75 tahun untuk memainkan gamelan.
"Dang, ding, dung, deng, gong..." begitu bunyi bonang, saron, kenong, dan gong bersahut-sahutan mengikuti irama gendhing laras pelog.
Mereka menyebutnya kelompok karawitan "Wreda Laras". Jumlahnya 18-20 orang, dipimpin Sudjimin, 75 tahun. Para lansia itu begitu gayeng memainkan alat-alat musik di hadapannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awalnya mereka biasa berlatih setiap malam Selasa, tapi karena mayoritas dari mereka adalah petani, jadwal mundur menjadi Selasa malam.
"Senin malam kami ada jadwal "Ngeleb" (mengairi sawah dari bendungan). Karena musim sedang kemarau juga," jelas Sudjimin, pensiunan guru SD dan SMP.
Bagi mereka pertemuan mingguan itu bukan semata-mata soal memainkan gamelan. Ada ruang untuk bertemu, berbincang, tertawa, dan menjaga tubuh serta pikiran tetap aktif di usia senja.
Selain Wreda Laras, di dusun tersebut ada dua kelompok gamelan lainnya, yakni Wreda Tama (lansia) dan Sekar Melati yang pesertanya anak-anak muda. Wreda Tama dilatih oleh Bapak Sungadi Hadiwardaya, dan Sekar oleh Bapak H. Yono Pujasumarta dan Gita Sukimin. Hanya saja kedua kelompok tersebut sudah beberapa waktu tak lagi aktif dengan berbagai alasan.
Pak Djimin mengaku sudah tertarik bermain gamelan sejak masi SD Kelas 6, sekitar Umur 11 Tahun. Ia sudah mulai "nuntuk-nuntuk" gamelan menggunakan arit sambil membayangkan seolah-olah sedang bermain gamelan. Beranjak remaja, ia membeli buku tentang notasi gamelan hingga nembang. Ia juga menabung sisa uang jajan untuk membeli kaset karawitan.
"Karena dulu belum secanggih sekarang yang sudah ada YouTube, ya saya belajar sendiri (otodidak). Saya kulik dan dengarkan syairnya bagaimana, notasinya bagaimana, seperti itu," paparnya.
Kemampuannya memainkan gamelan terus meningkat seiring perkembangan teknologi. Setelah kaset muncul CD yang menghasilkan suara lebih jernih, lalu di era digital ada YouTube yang memungkinkannya belajar seraya melihat langsung bagaimana para pemain mengetuk masing-masing perkakas gamelan. "Saya juga pernah ikut kelompok karawitan, namun hanya beberapa pertemuan saja lalu bubar begitu saja," ujarnya.
Dengan pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan yang dimilikinya Pak Djimin pernah menjadi pelatih kesenian jawa (macapat atau tembang jawa untuk anak SD), dan karawitan sampai tingkat provinsi. Tak heran bila rekan rekannya sesama lansia kemudian mendaulatnya menjadi guru untuk melatih mereka.
Semasa menjadi guru SD dan SMP, Sarjana Pendidikan bidang Bimbingan Konseling itu mengaku malah dipercaya untuk mengajar Matematika, IPS, dan olah raga khusus badminton. Selain itu, karena di rumah kerap mengisi waktu dengan menjahit pakaian sendiri, ia kemudian dipercaya untuk mengajar Tata Busana.
"Jadi saya pernah ditanya kepala sekolah, 'Bisa mengajar apa saja?' saya jawab, "Asalkan bukan 'bahasa inggris'," tutur Pak Djimin diiringi tawa berderai.
Di waktu berikutnya, kami dari Tim GIAT 16 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Semarang (Unnes) kembali menyambangi kediaman Pak Djimin. Kami yang berjumlah 11 orang dilatih tentang cara mengetuk bonang, saron, gong, hingga gendang. Ternyata tak semuda seperti ketika pertama kali menyaksikan para lansia "Wreda Laras" memainkannya. Beruntung Pak Djimin cukup sabar dan telaten membimbing kami dengan aba-aba dalam Bahasa Jawa, "Ji, ro, lu..."
Nindya Afifah S mengaku sangat senang dan berkesan bisa belajar memainkan gamelan. "Kami jadi mengenal lebih dekat salah satu bentuk kesenian dan kebudayaan Jawa yang masih dilestarikan oleh Masyarakat," ujar Mahasiswi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga itu.
---
*Penulis mahasiswa/i KKN Unnes di bawah bimbingan Dr. Hj. Saptariana, M.Pd










































