Jakarta Punya Modal Jadi Kota Wisata Dunia, Manchester Jadi Contohnya

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Opini

Jakarta Punya Modal Jadi Kota Wisata Dunia, Manchester Jadi Contohnya

John Flood - detikTravel
Sabtu, 29 Agu 2026 19:02 WIB
Lanskap gedung pencakar langit di Jakarta, Rabu (6/8/2025). Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 tembus 5,12%. Angka ini Lebih tinggi dibandingkan triwulan I yang sebesar 4,87%.
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Jakarta -

Setelah bertahun-tahun bekerja di industri perhotelan Indonesia, saya sering bertanya-tanya mengapa Jakarta, sebuah kota dengan budaya, sejarah, kreativitas, dan energi yang begitu luar biasa, belum sepenuhnya menempatkan dirinya sebagai salah satu destinasi wisata perkotaan terbesar di dunia.

Jakarta adalah salah satu kota terbesar dan paling dinamis di Asia. Kota ini merupakan pusat ekonomi, bisnis, inovasi, dan kewirausahaan Indonesia. Namun, bagi banyak wisatawan internasional, Jakarta masih lebih sering menjadi tempat persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi lain, bukan kota yang secara khusus mereka pilih untuk dikunjungi.

Padahal, jika kita melihat kota seperti Manchester, ada satu hal yang menarik. Manchester juga tidak dikenal dunia karena satu landmark tunggal. Daya tariknya terbentuk dari banyak hal yang kemudian menjadi satu identitas: sejarah industri, musik, sepak bola, universitas, kreativitas, kuliner, bisnis, dan kehidupan kota.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jakarta sebenarnya memiliki sesuatu yang tidak kalah kuat. Kota Tua dan Sunda Kelapa menyimpan sejarah panjang Batavia. Glodok memperlihatkan keberagaman budaya dan kuliner. Blok M dan berbagai ruang kreatifnya merepresentasikan energi generasi baru. Musik, sepak bola, seni, kuliner, dan kehidupan malam terus membentuk Jakarta yang modern.

Blok M HubBlok M Hub Foto: Qonita Hamidah/detik travel

Jadi, Jakarta bukan kekurangan cerita.

ADVERTISEMENT

Yang mungkin masih kurang adalah bagaimana cerita-cerita tersebut disatukan menjadi sebuah identitas kota yang mudah dipahami, dialami, dan diingat oleh dunia.

Transformasi Manchester: Menemukan Kembali Identitas Sebuah Kota

Manchester memberikan contoh inspiratif tentang bagaimana sebuah kota dapat mengubah cara dunia melihatnya. Dahulu, Manchester merupakan salah satu jantung Revolusi Industri. Ketika struktur ekonominya berubah, kota ini menghadapi tantangan untuk menemukan kembali perannya dan membangun identitas baru.

Manchester tidak mencoba menghapus masa lalunya. Sebaliknya, kota ini menjadikan sejarahnya sebagai fondasi untuk masa depan.

Hari ini, Manchester dikenal melalui musik, sepak bola, universitas, budaya, kreativitas, bisnis, dan hospitality. Musik melahirkan nama-nama besar seperti Oasis, The Smiths, dan Joy Division. Manchester United dan Manchester City menjadikan sepak bola sebagai bagian dari identitas global kota. Kawasan seperti Northern Quarter mempertemukan seni, musik, independent shops, kafe, dan kreativitas anak muda.

Stadion kesebelasan Manchester UnitedStadion Old Trafford rumah tim Manchester United Foto: (wahyu tamadi/d'Traveler)

Manchester tidak menjual satu atraksi. Manchester menjual pengalaman tentang Manchester. Di sinilah saya melihat kemiripan yang menarik dengan Jakarta. Kita juga memiliki kota yang dibentuk oleh banyak lapisan.

Bedanya, lapisan Jakarta jauh lebih beragam, dari sejarah Batavia dan perdagangan di Sunda Kelapa hingga budaya Betawi, pengaruh Tionghoa, kehidupan metropolitan, musik, kuliner, olahraga, dan kreativitas generasi baru.

Tantangannya bukan menemukan sesuatu yang belum ada. Tantangannya adalah menghubungkan apa yang sudah ada.

Pelajaran Andy Burnham: Kota Membutuhkan Pemimpin yang Memiliki Visi

Transformasi Manchester juga menunjukkan pentingnya kepemimpinan. Andy Burnham menjadi contoh menarik mengenai bagaimana identitas sebuah kota dan wilayah dapat diperjuangkan secara konsisten.

Sebagai Wali Kota Greater Manchester, ia membangun agenda yang menempatkan kepentingan kota dan wilayahnya sebagai bagian penting dari percakapan nasional. Perjalanannya kemudian membawanya ke tingkat nasional sebagai Perdana Menteri Inggris.

Namun, pelajaran yang lebih penting bukan sekadar perjalanan politiknya. Yang menarik adalah bagaimana seorang pemimpin dapat membantu menyatukan berbagai pihak di sekitar sebuah visi tentang masa depan kota.

Transformasi kota membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan fisik. Dibutuhkan keberanian untuk menentukan apa yang ingin menjadi identitas kota tersebut, kemudian membangun ekosistem yang memungkinkan pemerintah, bisnis, komunitas, dan masyarakat bergerak ke arah yang sama.

Ketika sebuah kota memiliki visi yang jelas, masyarakatnya mulai memiliki alasan untuk bangga. Dan ketika masyarakat mulai percaya pada kotanya, dunia pun lebih mudah melihat potensi yang sama.

Aset Terbesar Jakarta: Jiwa dan Keramahan Indonesia

Jika Manchester memiliki sejarah, musik, sepak bola, dan kreativitas sebagai bagian dari kekuatan identitasnya, Jakarta memiliki sesuatu yang jauh lebih sulit untuk ditiru: manusia dan keberagaman budayanya.

Stadion Utama Gelora Bung Karno telah selesai direnovasi. Begini penampakannya dari atas, Jumat (12/1/2018).Stadion Utama Gelora Bung Karno Foto: Muhammad Abdurrosyid

Keunggulan terbesar Jakarta adalah kehangatan dan keramahan alami masyarakat Indonesia.

Orang Indonesia secara alami membuat pengunjung merasa diterima. Hal ini bukan sesuatu yang sepenuhnya dapat diciptakan melalui pelatihan atau ditulis dalam buku panduan pelayanan. Keramahan berasal dari budaya dan cara masyarakat berinteraksi.

Jakarta sendiri merupakan hasil dari pertemuan berbagai budaya. Betawi, Jawa, Tionghoa, Arab, Eropa, dan berbagai budaya dari seluruh Nusantara telah ikut membentuk karakter kota ini.

Hotel dapat dibangun. Atraksi dapat dikembangkan. Infrastruktur dapat diperbaiki. Namun, kehangatan manusia yang membuat seseorang merasa diterima jauh lebih sulit untuk diciptakan.

Karena itu, keramahan seharusnya tidak hanya menjadi bagian dari pelayanan hotel. Keramahan harus menjadi bagian dari pengalaman seseorang ketika berada di Jakarta.

Peluang Kuliner Jakarta

Kuliner juga dapat menjadi salah satu cara paling kuat untuk membangun identitas sebuah kota. Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang luar biasa dan Jakarta menjadi tempat bertemunya berbagai tradisi makanan dari seluruh Nusantara.

Restoran seperti August menunjukkan bahwa bahan-bahan lokal Indonesia, cita rasa Nusantara, dan tradisi kuliner dapat disajikan dengan kreativitas, kecanggihan, dan standar internasional.

Namun, kekuatan kuliner Jakarta tidak hanya berada di restoran kelas atas. Ada pasar, warung, kedai kopi, street food, dan kawasan kuliner yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Semua itu merupakan pengalaman Jakarta.

Kota-kota besar di dunia memahami bahwa makanan dapat menjadi bagian dari identitas mereka. Jakarta memiliki kesempatan yang sama, tetapi tidak perlu meniru Paris, Tokyo, Singapura, atau kota lainnya. Jakarta dapat menciptakan identitas kulinernya sendiri.

Pelajaran Praktis yang Dapat Dipelajari Jakarta dari Manchester

Transformasi Manchester tidak hanya terjadi melalui proyek infrastruktur besar. Banyak perubahan datang dari bagaimana berbagai bagian kota dibuat lebih mudah diakses, dihubungkan, dan dialami sebagai satu kesatuan.

Jakarta telah membuat kemajuan penting. Sistem transportasi publik terus berkembang, dan inisiatif seperti Jakarta Tourist Pass menunjukkan pemahaman bahwa wisatawan membutuhkan cara yang lebih mudah untuk menikmati kota.

Tetapi masih ada peluang untuk membuat pengalaman tersebut lebih sederhana.

Bayangkan seorang wisatawan memulai paginya di Kota Tua dan Sunda Kelapa, mengenal sejarah Batavia dan perdagangan maritim Jakarta. Dari sana, ia dapat melanjutkan perjalanan ke Glodok, menikmati kuliner sekaligus melihat keberagaman budaya kota.

Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, masih dipadati pengunjung sehari setelah perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa (18/8/2026). Masyarakat memanfaatkan waktu untuk berwisata, bersepeda, berswafoto, hingga menikmati suasana kawasan bersejarah tersebut.Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat Foto: Rifki Afifan Pridiasto / detikfoto

Sore harinya, ia dapat menemukan Jakarta yang lebih muda di Blok M, menikmati kafe, musik, kuliner, fesyen, seni, dan ruang kreatif. Pada kesempatan lain, pengalaman tersebut dapat berlanjut ke sepak bola. Di sana, wisatawan tidak hanya melihat sebuah pertandingan, tetapi juga merasakan salah satu bentuk passion masyarakat Jakarta.

Semua pengalaman itu sebenarnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah membuatnya terasa seperti satu perjalanan.

Itulah perbedaan antara menjual daftar tempat wisata dan menjual pengalaman sebuah kota. Bayangkan pula sebuah Jakarta Tourist Pass yang memungkinkan wisatawan menggunakan berbagai moda transportasi sekaligus mendapatkan akses ke museum, atraksi, acara budaya, dan pengalaman kuliner.
Kota yang menarik harus pula menjadi kota yang mudah dijelajahi.

Peran pemerintah dalam proses ini juga tidak seharusnya berhenti pada regulasi dan perizinan. Pemerintah perlu menciptakan lingkungan yang memungkinkan pelaku usaha dan komunitas berkembang, mempertemukan berbagai inisiatif, dan membuat pengalaman kota semakin mudah diakses.

Jakarta memiliki chef, musisi, seniman, desainer, operator hotel, pengusaha, dan entrepreneur muda yang ingin menciptakan pengalaman kelas dunia. Energi itu sudah ada. Tantangannya adalah menciptakan ekosistem yang memungkinkan energi tersebut berkembang.

Peluang Jakarta di Masa Depan

Jakarta memiliki peluang besar untuk membangun identitas urban tourism yang lebih kuat, terutama karena kota ini sedang memasuki fase penting dalam perjalanan sejarahnya.

Kawasan seperti Kota Tua memiliki potensi untuk menjadi salah satu kawasan warisan budaya paling menarik di Asia. Namun, masa depan Kota Tua tidak harus berhenti pada pelestarian bangunan dan museum.

Kawasan tersebut dapat menjadi pintu masuk menuju pengalaman Jakarta yang lebih luas, menghubungkan sejarah dengan kuliner, kreativitas, seni, dan kehidupan masyarakat.

Dari Kota Tua, wisatawan dapat menemukan Glodok dan keberagaman budaya Jakarta. Dari sana, mereka dapat bergerak menuju pusat kota dan kemudian menemukan wajah Jakarta yang lebih modern melalui kawasan seperti Blok M dan berbagai ruang kreatifnya.

Di tempat lain, Jakarta dapat terus mengembangkan pengalaman yang berbeda melalui kuliner, fesyen, seni, musik, olahraga, dan kehidupan malam. Inilah yang membuat konsep urban tourism menarik. Wisatawan tidak datang hanya untuk melihat satu landmark. Mereka datang untuk merasakan bagaimana sebuah kota hidup.

Transformasi seperti ini membutuhkan lebih dari sekadar proyek individu. Dibutuhkan visi bersama antara pemerintah, komunitas, pelaku usaha, industri hospitality, transportasi, maskapai, industri kreatif, dan masyarakat. Yang terpenting, dibutuhkan keyakinan bahwa Jakarta memiliki cerita yang layak diceritakan.

Pariwisata Adalah tentang Kebanggaan

Pariwisata bukan hanya tentang menarik wisatawan. Pariwisata adalah tentang menciptakan peluang bagi entrepreneur, mendukung komunitas lokal, membuka lapangan kerja, menghidupkan kembali kawasan kota, dan membangun kebanggaan masyarakat terhadap tempat yang mereka sebut rumah.

Inilah alasan mengapa transformasi kota seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah masyarakatnya merasa bangga terhadap kotanya? Apakah anak muda melihat peluang untuk membangun masa depan di sana? Apakah kawasan lama dapat kembali hidup? Apakah pelaku usaha lokal mendapatkan manfaat? Dan apakah pengunjung pulang dengan cerita yang ingin mereka bagikan?

Manchester menunjukkan bahwa identitas kota dapat menjadi aset ekonomi sekaligus sumber kebanggaan masyarakat. Jakarta memiliki kesempatan yang sama.

Momen Manchester Jakarta

Jakarta tidak perlu menjadi Manchester. Manchester tidak menjadi destinasi global karena mencoba menjadi kota lain. Kota itu menemukan kekuatannya sendiri, kemudian membangun kepercayaan diri untuk menceritakannya kepada dunia. Jakarta juga tidak perlu menciptakan identitas yang sepenuhnya baru.

Cerita itu sudah ada. Sejarah ada di Kota Tua dan Sunda Kelapa. Keberagaman budaya hidup di Glodok. Kreativitas tumbuh di berbagai ruang kota. Musik terus berkembang. Blok M memiliki energinya sendiri.

Sepak bola memiliki basis penggemar yang kuat. Kuliner Jakarta terus berkembang dari warung hingga restoran berkelas dunia. Dan di balik semuanya, ada masyarakat yang membuat kota ini hidup.

Tugas kita bukan menciptakan cerita baru, melainkan menghubungkan cerita-cerita yang sudah ada. Manchester menemukan momennya ketika kota itu mulai percaya pada kekuatan ceritanya sendiri. Mungkin sekarang adalah waktunya bagi Jakarta untuk menemukan momennya. Karena ketika sebuah kota mulai percaya pada dirinya sendiri, dunia akan mulai melihatnya dengan cara yang berbeda.

----

CEO Archipelago John FloodCEO Archipelago John Flood Foto: Archipelago


John Flood

CEO Archipelago Hotels, berpengalaman selama puluhan tahun di industri hospitality Indonesia.

Opini ini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.



(ddn/ddn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads