Di tengah maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah, masyarakat Dayak Iban di Menua Sungai Utik, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, memiliki cara pandang yang berbeda terhadap api. Bagi mereka, api merupakan bagian dari tradisi berladang yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Guru Besar Kelompok Keahlian Teknologi Kehutanan SITH Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Endah Sulistyawati, membeberkan fakta itu setelah mengunjungi komunitas Dayak Iban di Sungai Utik.
Masyarakat setempat menerapkan sistem perladangan gulir balik atau swidden agriculture. Dalam sistem ini, api digunakan untuk membantu membersihkan dan menyiapkan lahan sebelum ditanami padi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penggunaannya bukan tanpa aturan. Masyarakat memiliki pengetahuan lokal mengenai pengelolaan lahan, kondisi lingkungan, arah angin, hingga cara membatasi pergerakan api. Ada pula aturan sosial yang mengatur proses pembakaran.
Karena itu, menurut Endah, penggunaan api perlu dilihat secara lebih luas. Bukan hanya soal ada atau tidaknya lahan yang terbakar, tetapi juga bagaimana api digunakan, apa tujuannya, serta kondisi lingkungan di sekitarnya.
Lahan Dibiarkan Pulih Sebelum Digunakan Lagi
Lahan yang dipilih untuk berladang umumnya merupakan hutan sekunder bekas ladang. Area tersebut tidak langsung digunakan kembali, melainkan dibiarkan selama beberapa tahun agar vegetasi tumbuh dan kondisi tanah berangsur pulih.
Masyarakat Dayak Iban memiliki pengetahuan untuk mengenali kapan sebuah lahan sudah cukup pulih dan siap kembali dimanfaatkan.
Setelah lahan dipilih, pohon ditebang dan tumbuhan bawah dibersihkan. Hasil tebangan tidak seluruhnya dibakar. Kayu yang masih berguna dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, seperti bahan bangunan atau bahan bakar.
Sementara material lainnya dibiarkan mengering sebelum proses pembakaran dilakukan.
Pembakaran pun dilakukan dengan memperhatikan keselamatan. Masyarakat melihat arah angin, membuat sekat bakar pada bagian yang berpotensi menjadi jalur penyebaran api, kemudian melakukan pembakaran secara bertahap.
Warga juga berjaga di sekitar lahan untuk memastikan api tetap berada di area yang telah ditentukan.
"Di sekitar lahan, anggota masyarakat juga bersiaga untuk mengantisipasi kemungkinan api bergerak keluar dari area yang telah ditentukan," ujar Endah, dikutip dari ITB, Senin (31/8/2026).
Luas ladang yang dibakar pun relatif kecil, umumnya sekitar dua hektare atau kurang. Lokasi ladang keluarga juga tersebar sehingga tidak membentuk satu hamparan luas.
Sebagian biomassa dikeluarkan dari petak lahan. Dengan begitu, api lebih banyak membakar material yang berada di permukaan tanah dan pembakaran dapat berlangsung sekitar dua jam.
Api Hanya Satu Bagian dari Siklus Berladang
Bagi masyarakat Dayak Iban, pembakaran bukanlah tujuan akhir. Api hanya menjadi salah satu tahap dalam rangkaian panjang kegiatan berladang.
Abu hasil pembakaran dapat mengembalikan sebagian unsur hara ke tanah dan meningkatkan pH dalam batas tertentu. Setelah lahan siap dan hujan turun, masyarakat kemudian menanam padi.
Setelah panen, lahan tidak terus-menerus digunakan. Area tersebut akan memasuki masa bera dan dibiarkan kembali mengalami proses suksesi.
Perlahan, tumbuhan kembali tumbuh dan biomassa bertambah. Bahan organik juga terus menumpuk dan mengalami proses penguraian sehingga membantu memulihkan kesuburan tanah.
Beberapa tahun kemudian, lahan tersebut dapat kembali dimanfaatkan. Siklus ini menunjukkan bahwa praktik berladang Dayak Iban berlangsung dalam rentang waktu panjang dan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pembakaran.
Tak Bisa Disamakan dengan Karhutla
Endah mengingatkan praktik penggunaan api oleh masyarakat Dayak Iban tidak bisa digeneralisasi sebagai gambaran seluruh penggunaan api di Indonesia.
Pembakaran dalam tradisi berladang dilakukan pada skala terbatas, menggunakan teknik pengendalian tertentu, serta berada dalam lanskap yang dikelola masyarakat. Kondisinya berbeda dengan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi tanpa kendali.
Dari pengalaman di Sungai Utik, Endah menilai, pemahaman terhadap api perlu mempertimbangkan hubungan antara manusia, budaya, lahan, dan lingkungan.
Bagi masyarakat Dayak Iban, hutan dan ladang bukan hanya tempat untuk menghasilkan pangan. Di dalamnya terdapat adat, pengetahuan, benih, serta tradisi yang terus diwariskan.
"Di balik api ada padi, benih, pangan, adat, suksesi hutan, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi," kata Endah.
Simak Video "Video: Paru-paru Dunia Sedang Menangis, Kalimantan Berselimut Api"
[Gambas:Video 20detik] (fem/fem)










































