China makin menarik minat turis asing untuk liburan ke sana. Mereka ingin merasakan kehidupan ala warga lokal China.
Dilansir dari Xinhua, Selasa (1/9/2026), salah satunya adalah Leonie, wisatawan asal Jerman yang tiba di Provinsi Shaanxi pada musim panas tahun ini.
Rencana perjalanan Leonie tidak jauh berbeda dengan mayoritas wisatawan yang baru pertama kali berkunjung ke kawasan bersejarah di China barat laut, yaitu Pasukan Terakota, Tembok Kota Xi'an dan Pagoda Angsa Liar Raksasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak hanya melihat langsung kemegahan pasukan terakota, tetapi juga berkesempatan untuk menjajal (proses pembuatan) kerajinan tangan," tutur Leonie sebagaimana diwartakan Xinhua.
Namun yang paling membekas di ingatan Leonie bukanlah mengunjungi objek wisata, melainkan pengalaman menciptakan sesuatu dengan tangannya sendiri. Di sebuah bengkel kerja dekat Museum Situs Mausoleum Kaisar Qinshihuang, Leonie mempelajari proses pembuatan replika patung terakota kuno.
Dia menguleni tanah liat, menekannya ke dalam cetakan dan dengan hati-hati mengeluarkan patung tersebut saat bentuknya mulai terlihat. Sejauh ini, bengkel kerja tersebut telah menerima lebih dari 2.000 wisatawan mancanegara sepanjang 2026.
Pengalaman Leonie mencerminkan pergeseran minat pasar pariwisata inbound China. Makin banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung ke China bukan lagi sekadar mengunjungi lokasi terkenal, tetapi juga ingin mencoba berbagai kerajinan tradisional, mencicipi hidangan di tempat yang kerap dikunjungi warga lokal dan berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari.
Pada awal Agustus 2026, sekelompok wisatawan mancanegara ikut berpartisipasi dalam pengalaman minum teh gongfu. Dalam acara tersebut, seorang ahli teh memasukkan gerakan seni bela diri kungfu ke dalam pertunjukan menggunakan teko bercorong panjang, mengundang gelak tawa dan tepuk tangan dari para penonton.
Parley Brooker, seorang siswa sekolah menengah atas asal Amerika Serikat (AS), baru pertama kali melihat teko teh sepanjang itu. Dia bahkan salah mengira corong panjang tersebut sebagai gagang tongkat.
"Awalnya saya terkejut," ujarnya sambil tertawa.
Setelah memahami cara kerja teko tersebut, dia tidak hanya terpesona oleh nilainya, tetapi juga bagaimana minum teh bisa menyatukan banyak orang.
"Anda dapat mencobanya bersama teman-teman," ujarnya.
Pada akhir atraksi, dia bahkan mempertimbangkan untuk membeli satu teko untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Pengalaman semacam itu kian mudah dilakukan seiring semakin terbukanya China bagi wisatawan mancanegara.
China mencatat 22,914 juta kedatangan warga negara asing pada paruh pertama 2026. Angka itu naik sebesar 20,4 persen secara tahunan.
Tren Turis Indonesia ke China
Sementara itu, turis Indonesia yang liburan ke China juga menunjukkan tren yang hampir sama. Keinginan mengeksplorasi beberapa destinasi sekaligus dalam satu perjalanan menjadi pertimbangan sebagian wisatawan +62 selama liburan.
"Wisatawan saat ini cenderung ingin mengeksplorasi beberapa destinasi dalam satu perjalanan. Karena itu, kami mengombinasikan Hong Kong dan China agar wisatawan bisa melihat perbedaan karakter kedua destinasi, sekaligus mendapatkan perjalanan yang lebih efisien," ujar Denisa Devi dari Travelica Trip.
Untuk durasi, perjalanan selama lima hari empat malam di China dengan itinerary yang lengkap digemari oleh wisatawan. Pemilihan destinasi dan lokasi wisata juga disesuaikan dengan tren yang sedang diminati. Waktu bebas juga tersedia agar wisatawan dapat mengeksplorasi destinasi secara mandiri.
Dari segi usia, Gen Z dan Milenial menjadi dua kelompok terbesar yang suka liburan ke China. Gen Z mencakup 33,6 persen, sedangkan Milenial mencapai 31,8 persen. Jika digabungkan, kedua generasi tersebut mencapai 65,5 persen dari wisatawan yang gemar liburan ke negeri Panda.
Sedangkan dari gender, menunjukkan tingginya partisipasi perempuan, yakni sebanyak 67,3 persen. Persentase sisanya yaitu laki-laki. Menurut Denisa, cukup banyak wisatawan perempuan yang melakukan perjalanan secara solo atau tanpa pasangan.
"Kami cukup sering melayani wisatawan perempuan yang bepergian sendiri. Mengingat China relatif aman sebagai tujuan wisata, kami lebih menekankan aspek kenyamanan dan kemudahan selama perjalanan, dengan dukungan fasilitas lengkap sejak keberangkatan hingga pulang," katanya.
Dengan persentase di atas 65%, gen Z dan Milenial menjadi salah satu pasar utama bagi sektor pariwisata China. Ke depan, wisatawan berusia muda akan terus diincar untuk paket-paket wisata yang memberi kebebasan beraktivitas secara mandiri yang sesuai dengan tren serta kebutuhan wisatawan.










































