Singapura Siapkan 300 Tempat Adem untuk Hadapi Gelombang Panas

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Singapura Siapkan 300 Tempat Adem untuk Hadapi Gelombang Panas

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Rabu, 02 Sep 2026 10:09 WIB
People stand in front of a cooler installed around the Colosseum amid a heatwave in Rome, Italy, June 21, 2024. REUTERS/Yara Nardi      TPX IMAGES OF THE DAY
Ilustrasi suhu panas ekstrem. (REUTERS/Yara Nardi)
Singapura -

Singapura menyiapkan lebih dari 300 pusat pendingin di berbagai wilayah sebagai langkah antisipasi saat gelombang panas melanda. Fasilitas tersebut disiapkan untuk melindungi masyarakat dari suhu ekstrem yang diperkirakan semakin sering terjadi.

Pusat pendingin tersebut akan berada di sejumlah pusat komunitas, pusat Residents' Committee (RC) atau Residents' Network (RN), serta beberapa gedung olahraga dalam ruangan. Fasilitasnya dilengkapi pendingin udara dan tempat duduk.

Lokasi lengkap pusat pendingin akan diumumkan ketika rencana penanganan gelombang panas diaktifkan. Masyarakat juga akan mendapat peringatan setidaknya empat hari sebelumnya melalui aplikasi cuaca nasional myENV.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari The Straits Times, Rabu (2/9/2026), Direktur Divisi Kebijakan Energi dan Iklim Kementerian Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Calvin Chong, mengatakan kelompok rentan akan mendapat prioritas jika kapasitas pusat pendingin hampir penuh.

ADVERTISEMENT

"Jika sebuah pusat hampir penuh, prioritas akan diberikan kepada kelompok rentan, seperti warga lanjut usia," ungkap Chong.

Menurutnya, Singapura saat ini menghadapi apa yang disebutnya sebagai 'double whammy' atau pukulan ganda cuaca panas. Kondisi tersebut terjadi karena musim monsun barat daya yang kering berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino yang membawa cuaca lebih panas dan kering.

Data dari National Environment Agency (NEA) mencatat 17 hari dengan tekanan panas tinggi sepanjang 2026. Jumlah itu meningkat dibandingkan lima hari pada periode yang sama tahun lalu.

Singapura menetapkan gelombang panas ketika suhu maksimum harian rata-rata mencapai 35 derajat Celsius selama tiga hari berturut-turut, dengan suhu rata-rata harian sedikitnya 29 derajat Celsius.

NEA memperingatkan suhu ekstrem masih berpotensi terjadi ketika El Nino mulai melemah, yang diperkirakan berlangsung pada Maret hingga Mei 2027. Periode tersebut juga bertepatan dengan salah satu masa terpanas di Singapura.

"Hal itu sedang kami pelajari dengan sangat dekat, dan kami siap mengaktifkan rencana respons gelombang panas jika mencapai tingkat tersebut," lanjut Chong.

Singapura terakhir mengalami gelombang panas pada April 2016, saat episode El Nino yang kuat berakhir. Pada awal 2025, MSE memperkenalkan rencana nasional pertama untuk menghadapi gelombang panas.

Saat kondisi tersebut terjadi, sekolah dapat menerapkan pembelajaran dari rumah, sementara prasekolah dan panti jompo diminta menghentikan aktivitas luar ruangan pada pukul 11.00-16.00 waktu setempat.

Untuk memperkuat penanganan, MSE membentuk Heat Resilience Policy Office yang dipimpin Chong. Ia mengatakan panas kini tidak lagi hanya menjadi persoalan kesehatan, tetapi juga mulai berdampak pada produktivitas pekerja dan berbagai sektor lainnya.

Kantor tersebut nantinya melibatkan jaringan komunitas untuk memantau kelompok rentan dan mengarahkan mereka ke pusat pendingin terdekat.

"Ada batasan seberapa banyak siaran umum dan peringatan melalui myENV yang bisa kami lakukan. Mungkin sebagian ketimpangan dalam penanganan akan muncul di tingkat lokal," ungkap Chong.

Dalam jangka panjang, Pemerintah Singapura akan menyusun strategi ketahanan panas yang mencakup infrastruktur, kesehatan, ekonomi, dan sosial. Adapun pendanaan 'Adapting to Heat Impacts' senilai 40 juta dolar Singapura untuk penelitian yang dijadwalkan dibuka pada akhir 2026.

"Kami dapat membangun pengetahuan mengenai cara memahami panas dari konteks Singapura dan menghasilkan langkah-langkah intervensi yang berarti. Hal itu juga akan bermanfaat bagi kawasan sekitar," pungkasnya.



(upd/ddn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads