Karhutla Kalteng Tembus 1.717 Hektare, Habitat Orang Utan Makin Terancam

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Karhutla Kalteng Tembus 1.717 Hektare, Habitat Orang Utan Makin Terancam

Sigit Pamungkas - detikTravel
Rabu, 02 Sep 2026 18:38 WIB
Petugas dari Dinas Kehutanan Kalteng berupaya memadamkan kebakaran di Kelurahan Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (27/8/2026). Dalam upaya Penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah sebanyak 10.700 persone
Karhutla di Kalteng (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)
Jakarta -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tembus 1.717 hektare. Habitat orang utan pun makin terancam.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah menyoroti habitat berbagai satwa liar termasuk orang utan. Kepala Seksi KSDA Wilayah II Pangkalan Bun, BKSDA Kalimantan Tengah, Handi Nasoka, mengatakan karhutla berpotensi mengganggu habitat satwa dilindungi dan memaksa satwa mencari lokasi yang lebih aman.

"Habitat hewan dilindungi pastinya terdampak. orang utan misalnya mencari tempat yang lebih aman," kata Handi, Selasa (1/9).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Handi, orang utan yang habitatnya terdampak kebakaran berpotensi bergerak meninggalkan kawasan tersebut untuk menyelamatkan diri. Pergerakan satwa ini perlu diantisipasi karena memungkinkan orang utan keluar dari habitat alaminya dan muncul di kawasan yang lebih dekat dengan aktivitas manusia.

BKSDA Kalteng bersama Satgas Karhutla terus melakukan pemantauan terhadap kemungkinan adanya satwa yang terdampak. Upaya penyelamatan satwa dilakukan bersamaan dengan penanganan kebakaran di sejumlah lokasi.

ADVERTISEMENT

"Kami bersama-sama Satgas Karhutla juga sedang melakukan penanganan karhutla, sambil melihat satwa yang terdampak," ujarnya.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan tren hotspot kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah dan Barat memang kembali meningkat, setelah sebelumnya menurun. Kondisi tersebut membuat kedua provinsi menjadi prioritas utama penanganan karhutla secara nasional.

"Setelah kemarin semua 6 provinsi yang prioritas trennya turun, namun hari ini Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menunjukkan kembali hotspot yang meningkat. Artinya, prioritas utama sekarang ini secara nasional tetap Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah," kata Menhut, Rabu (2/9/2026).

Menhut Raja Antoni dan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, rencananya akan turun ke Pontianak untuk memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan di Kalimantan Barat. Pertemuan tersebut akan melibatkan Gubernur, Kapolda, dan Pangdam.

"Oleh karena itu besok, kami ke Pontianak untuk bertemu kembali dengan seluruh stakeholder yang ada, dengan Pak Gubernur, Kapolda, Pangdam ya, merapatkan barisan kembali, melakukan evaluasi sekaligus membuat rencana apa yang bisa kita lakukan untuk mitigasi," imbuh Menhut.

Menurut Menhut Raja Antoni, koordinasi tersebut dilakukan untuk mendorong penurunan kembali angka hotspot maupun fire spot yang telah diverifikasi.

"Dan memastikan kembali, mendorong kembali agar angka baik itu apa namanya hotspot maupun fire spot yang sudah diverifikasi dapat turun. Jadi dua itu ya yang masih jadi masalah," katanya.

Berdasarkan data Sipongi Kementerian Kehutanan, hotspot di Kalimantan Barat dari sebelumnya 273 menjadi 859, Kalimantan Tengah dari 253 menjadi 623. Menhut pun mengingatkan penanganan karhutla masih membutuhkan kewaspadaan bersama.

Bertambahnya hotspot karhutla di Kalimantan Tengah membuat ancaman terhadap habitat orang utan makin besar. Handi menyebut petugas telah menemukan sejumlah satwa yang terdampak langsung akibat kebakaran, di antaranya ular dan trenggiling.

"Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada hilangnya vegetasi. Ketika kawasan hutan terbakar, satwa kehilangan tempat berlindung, sumber makanan, hingga jalur untuk berpindah ke kawasan yang lebih aman," katanya.

Sedangkat terkait orang utan, BKSDA mengimbau masyarakat agar tidak mengambil tindakan sendiri apabila menemukan satwa tersebut keluar dari habitatnya. Handi meminta masyarakat segera melaporkan temuan orang utan kepada petugas agar proses evakuasi dapat dilakukan dengan tepat.

"Kita berharap apabila menemukan orang utan segera melaporkan kepada kami dan langsung akan kami evakuasi ke tempat yang lebih aman," jelasnya.

Bagi orang utan, hutan yang terbakar berarti hilangnya rumah. Ketika api memaksa mereka keluar, keselamatan satwa dilindungi tersebut sangat bergantung pada kecepatan petugas dan kepedulian masyarakat untuk melaporkan setiap kemunculan satwa di luar habitatnya.


---------

Artikel ini telah naik di detikKalimantan.



(wsw/wsw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads