Masyarakat Raja Ampat mengenal penyu atau teteruga sebagai penjelajah lautan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketika menjumpai penyu sedang berenang di laut, mereka akan berusaha menghindarinya dan tidak mengganggu hewan tersebut.
Teteruga merupakan sebutan untuk penyu dalam bahasa sehari-hari masyarakat Papua. Keberadaan penyu memiliki peran penting dalam ekosistem laut. Bahkan, kotorannya dapat memberikan nutrisi bagi perairan laut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu desa wisata di Kabupaten Raja Ampat yang berkaitan erat dengan teteruga adalah Kampung Wisata Yenwaupnor di Pulau Gam, Distrik Meos Mansar.
Destinasi ini memiliki sejumlah daya tarik bagi traveler. Salah satunya adalah bird watching burung cenderawasih yang dapat disaksikan menari secara langsung setiap pagi. Selain cenderawasih, traveler juga dapat menjumpai burung beo, pekakak, elang, dan tauntaun.
Traveler juga dapat melakukan diving dan snorkeling di perairan sekitar Yenwaupnor.
Dari sisi budaya, traveler dapat menyaksikan pertunjukan yosim pancar serta suling tambur. Wisatawan juga bisa melihat aktivitas masyarakat Yenwaupnor yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.
Pengalaman berwisata di kampung ini juga dapat dilengkapi dengan mencoba makan sirih pinang atau mencicipi kuliner khas Papua, seperti papeda dengan ikan kuah kuning.
Nama Yenwaupnor berasal dari bahasa Biak yang terdiri atas tiga kata, yakni yen, wau, dan pnor. Yen berarti pasir, wau berarti penyu, sedangkan pnor berarti telur.
Dengan demikian, Yenwaupnor dapat dimaknai sebagai "pantai telur penyu" dalam bahasa Biak. Ada kemungkinan kawasan pesisir di sekitar kampung tersebut dahulu menjadi tempat penyu bertelur sehingga kemudian dikenal dengan nama Yenwaupnor.
Sejarah masyarakat Kampung Yenwaupnor berkaitan dengan sejarah masyarakat Biak dan Numfor. Masyarakat Biak dan Numfor dari Teluk Cenderawasih bermigrasi ke Raja Ampat mengikuti arah perjalanan Koreri (Manarmakeri) dalam legenda dan kepercayaan tradisional Biak.
Sejarah tersebut juga berkaitan dengan pelayaran hongi serta pembayaran upeti kepada Sultan Tidore.
Budaya dan bahasa yang digunakan masyarakat Yenwaupnor memiliki kesamaan dengan budaya dan bahasa Biak. Perbedaannya terutama terletak pada dialek atau ragam bahasanya.
Hari Suroto
Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara










































