Turis China Punya Tren Baru: Beli Baju, Foto, kemudian Buang

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Turis China Punya Tren Baru: Beli Baju, Foto, kemudian Buang

Femi Diah - detikTravel
Selasa, 29 Sep 2026 12:15 WIB
Two happy Asian girls using smartphone checking flight or online check-in at airport together, with luggage. Air travel, summer holiday, or mobile phone application technology concept
Ilustrasi wisatawan perempuan (Getty Images/Urbanscape)
Jakarta -

Turis-turis China memiliki kegemaran baru soal liburan. Mereka membeli pakaian murah khusus untuk dipakai sekali saat traveling, bahkan sebagian wisatawan langsung membuang atau menjualnya setelah pulang.

Tren yang dikenal sebagai disposable clothing itu mulai populer di kalangan pengguna internet China sejak musim panas 2026. Tagar terkait fenomena tersebut bahkan telah mengumpulkan 6,8 juta tayangan dan 135 ribu diskusi di salah satu platform media sosial.

Bagi sebagian wisatawan, pakaian seperti itu dianggap praktis sekaligus hemat. Seorang perempuan mengaku membeli lima set pakaian untuk perjalanan selama tujuh hari dengan total biaya tidak lebih dari 200 yuan atau sekitar Rp 530 ribu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak awal, ia memang tidak berniat menyimpan pakaian tersebut setelah liburan selesai.

Pakaian yang masuk kategori disposable clothing biasanya dibuat dengan desain yang menarik perhatian di kamera. Ada rok panjang berwarna mencolok, jubah, jaket untuk aktivitas luar ruangan, hingga pakaian tradisional yang disesuaikan dengan tujuan perjalanan.

ADVERTISEMENT

Seorang pemilik toko pakaian perempuan mengatakan kepada media China, City Express, bahwa tokonya menyediakan pakaian untuk berbagai kebutuhan wisatawan. Ada rok yang dirancang untuk berfoto di pantai pada Mei, pakaian tradisional hanfu untuk Festival Perahu Naga, hingga rok bergaya eksotis bagi wisatawan yang berkunjung ke Xinjiang.

Permintaannya cukup besar. Pemilik toko tersebut mengaku bisa menjual sekitar 15 ribu potong pakaian setiap bulan, terutama kepada pelanggan berusia 18-30 tahun.

Harga pakaian yang paling laris juga sangat murah, yakni sekitar 10-50 yuan atau Rp 26 ribu-Rp 133 ribu per potong. Harganya bahkan disebut setara dengan satu kali makan sederhana.

Sebagian pembeli membuang pakaian tersebut setelah kembali dari perjalanan. Ada pula yang menjualnya melalui platform e-commerce barang bekas.

Tren ini mendapat sambutan dari wisatawan yang menganggapnya sebagai cara murah untuk mendapatkan penampilan berbeda di setiap destinasi. Namun, tidak sedikit yang mengkritiknya karena dianggap memperbesar persoalan sampah dan menimbulkan potensi masalah kesehatan.

"Memang harganya murah, tetapi pakaian itu tetap melalui proses produksi, distribusi, dan penjualan. Semakin banyak yang kita buang, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan," ujar seorang warganet dilansir dari scmp. com, Selasa (29/9/2026).

Menurut Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), warga dunia telah menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil setiap tahun. Produksi tekstil meningkat dua kali lipat antara 2000 dan 2015, sementara masa pakai tekstil justru menurun 36 persen.

Masalahnya tak berhenti pada limbah. Hanya sekitar 8 persen serat tekstil yang digunakan pada 2023 berasal dari bahan daur ulang. Produk pakaian dan tekstil juga menyumbang sekitar 11 persen sampah plastik.

Pakaian murah untuk kebutuhan sesaat umumnya menggunakan bahan berbasis plastik. Ketika langsung dibuang setelah dipakai sekali atau beberapa kali, siklus tersebut berpotensi memperbesar beban lingkungan.

Selain lingkungan, kualitas bahan juga menjadi perhatian. Pakaian dengan material berkualitas rendah dinilai berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan, terutama ketika digunakan tanpa mengetahui bagaimana pakaian tersebut diproduksi dan diproses.

Cai Shangwei, profesor sekaligus Direktur Pusat Riset Industri Budaya Sichuan University, mengatakan pakaian disposable yang kemudian dijual di platform barang bekas juga memiliki persoalan kebersihan yang perlu diperhatikan.

Di media sosial, kritik terhadap tren ini pun bermunculan.

"Semua ini hanya demi terlihat bagus di foto. Pakaian sekali pakai memang dibuat untuk foto. Kenapa kita tidak bisa menikmati pemandangan saat bepergian?" kritik seorang warganet.

Warganet lain menyindir tren tersebut dengan mengatakan, "Dunia ini adalah studio foto yang sangat luas."

Bagi sebagian turis, pakaian murah sekali pakai mungkin menjadi solusi praktis untuk mendapatkan foto liburan yang berbeda. Namun, ketika pakaian hanya digunakan sekali lalu berakhir menjadi sampah, biaya sebenarnya bukan lagi sekadar harga yang dibayar saat berbelanja.



(fem/fem)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads