Sektor pariwisata Jepang makin menarik untuk investasi asing. Banyak investor berlomba-lomba masuk ke pasar Jepang.
Menurut data dari World Travel & Tourism Council (WTTC), sektor pariwisata dan perjalanan di Jepang sangat berkontribusi terhadap perekonomian Negeri Sakura.
Sektor ini menyumbang US$ 343 Miliar terhadap perekonomian Jepang pada 2025 atau setara dengan 8,1% dari total GDP (Pendapatan per Kapita) warga Jepang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angka itu membuat Jepang menduduki posisi kelima dalam pariwisata dan perjalanan ekonomi secara global. Sektor ini bahkan tumbuh sebesar 4,6 persen sepanjang tahun 2026.
Turis asing menjadi kontributor terbesar. Mereka total menghabiskan US$ 63,3 Miliar selama liburan di Jepang. Angka spending itu naik 8,8% dari tahun sebelumnya.
"Jepang telah membangun salah satu industri pariwisata dan perjalanan paling sukses di dunia, dengan menggabungkan konektivitas yang kuat dan pendekatan progresif dalam pembangunan pariwisata mereka," ucap Gloria Guevara, Presiden dan CEO WTTC seperti dikutip dari TTN Worldwide, Selasa (29/9/2026).
Dengan potensi yang besar, investor pun mengincar Jepang. Yang terbaru, L Catterton, manajemen dana investasi yang berafiliasi dengan grup Louis Vuitton (LVMH), menanamkan modal sebesar 270 juta euro di Jepang pada lima perusahaan lokal.
Dana investasi ini menyasar segmen-segmen yang permintaannya cukup tinggi, baik oleh pengunjung mancanegara maupun konsumen lokal yang sangat selektif, seperti restoran kelas atas, produk kecantikan, dan makanan premium.
Tak hanya Prancis, Bobobox dari Indonesia juga mengincar pasar Jepang untuk berekspansi. Bobobox terpilih masuk ke dalam daftar 23 perusahaan TSE Asia Startup Hub 2026 yang berasal dari sepuluh negara dan wilayah.
TSE Asia Startup Hub merupakan program yang mendukung perusahaan Asia dalam mengembangkan bisnis di Jepang, sekaligus menjalin kerja sama dengan perusahaan setempat. Kesempatan ini menjadi bagian dari langkah jangka panjang Bobobox untuk membawa inovasi akomodasi Indonesia ke pasar mancanegara.
"Sejak awal, kami ingin menghadirkan produk akomodasi Indonesia yang mampu bersaing di pasar global. Jepang memiliki posisi penting dalam perjalanan kami menjadi world-class hospitality company karena standar produk dan service excellence di sana menjadi salah satu tolok ukur tertinggi di dunia," ujar Indra Gunawan, Co-Founder dan CEO Bobobox.
Melalui program tersebut, Bobobox berkesempatan memperluas jaringan mitra, serta memperoleh dukungan pengembangan bisnis dan pendanaan, termasuk pendampingan terkait potensi Initial Public Offering (IPO) di Jepang.
"Dalam jangka panjang, kami juga memiliki aspirasi untuk melantai di Tokyo Stock Exchange. Kami berharap program ini dapat membantu kami membangun fondasi dan memahami kesiapan yang dibutuhkan untuk bergerak ke arah tersebut," tambah Indra.
Melalui jaringan TSE Asia Startup Hub, Bobobox akan membangun hubungan dengan calon mitra untuk membahas konsep produk, potensi lokasi, dan model operasional yang dapat menjadi dasar bagi kemungkinan pengembangan pilot project di Jepang.
"Kami ingin membangun bisnis di Jepang secara bertahap bersama partner yang tepat. Langkah awal ini penting agar kami dapat memahami pasar dan menentukan pendekatan untuk berkembang di sana," tutup dia.
Kebangkitan pariwisata Jepang didorong oleh faktor mendasar, yaitu kembalinya wisatawan internasional dalam jumlah besar. Selain itu, terdapat faktor geopolitik yang menentukan, yaitu stabilitas.
Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi akibat ketegangan perdagangan dan berbagai konflik, Jepang saat ini menawarkan salah satu lingkungan ekonomi dan politik yang paling stabil. Stabilitas ini menarik minat modal yang mencari kepastian jangka panjang.










































