Banjir Bikin Bandara Bangkok Kacau, Thai Airways Dikritik Tajam

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Banjir Bikin Bandara Bangkok Kacau, Thai Airways Dikritik Tajam

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Rabu, 30 Sep 2026 17:15 WIB
Baggage from Thai Airways flights at Suvarnabhumi International Airport, after heavy rain and flooding disrupted the airlines ground operations, in Bangkok, Thailand, September 29, 2026. REUTERS/Athit Perawongmetha
Penumpukan bagasi di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok. (REUTERS/Athit Perawongmetha)
Jakarta -

Banjir yang melanda Bangkok memang mengganggu operasional Thai Airways. Namun, pemerintah Thailand menilai kekacauan bagasi dan keterlambatan penerbangan yang terjadi bukan semata-mata akibat banjir, tetapi juga karena kesiapan operasional dan manajemen maskapai.

Banjir yang melanda Bangkok selama 24 jam pada 24-25 September 2026 tersebut membuat sekitar 5.600 bagasi penumpang tertahan dan berdampak pada sekitar 330 penerbangan Thai Airways. Pemerintah khawatir gangguan ini ikut mencoreng citra Thailand dan menurunkan kepercayaan wisatawan terhadap sektor pariwisata.

Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand, Surasak Phancharoenworakul, mengatakan banjir memang membuat sejumlah pegawai kesulitan datang ke tempat kerja. Namun, menurutnya, persoalan utama terletak pada kesiapan Thai Airways menghadapi kondisi tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya sendiri mengalami masalah ini saat kembali ke Thailand dari Jepang menggunakan Thai Airways," ungkap Surasak, dilansir dari Bangkok Post, Rabu (30/9/2026).

ADVERTISEMENT

Hujan deras dan banjir yang melanda Bangkok dalam beberapa hari terakhir memang membuat ratusan pegawai tidak dapat masuk kerja. Kondisi itu turut mengganggu operasional di dua bandara internasional utama Thailand, Suvarnabhumi dan Don Mueang.

Surasak menilai Thai Airways seharusnya memiliki kesiapan operasional yang lebih baik untuk menghadapi gangguan tersebut.

Sementara itu, CEO Thai Airways, Chai Eamsiri, mengakui penilaian awal perusahaan terhadap dampak banjir tidak tepat. Sekitar 300 staf darat dan tenaga khusus tidak dapat masuk kerja akibat banjir.

Dari sekitar 500 staf darat yang dimiliki maskapai, sebanyak 200-300 orang tidak dapat bekerja selama gangguan berlangsung. Dalam kondisi normal, Thai Airways mengoperasikan sekitar 110 penerbangan setiap hari.

Hampir seluruh penerbangan kemudian mengalami keterlambatan. Untuk memberi waktu bagi operasional kembali normal dan memperbaiki ketepatan waktu penerbangan, Thai Airways memangkas sekitar 30% penerbangan hariannya.

Maskapai menargetkan tumpukan bagasi dapat diselesaikan dalam tiga hari. Penumpang yang terdampak juga sudah dapat mengajukan klaim kompensasi.

Chai pun meminta maaf kepada penumpang atas gangguan yang terjadi.

Selain itu, Surasak juga mempertanyakan keputusan Thai Airways menempatkan sebagian staf untuk menangani maskapai lain yang menggunakan layanan ground handling mereka.

Menurutnya, keputusan itu kemungkinan dilakukan untuk menghindari penalti kontrak. Namun, kebijakan tersebut justru membuat penumpang Thai Airways mengalami dampak paling parah.

Kritik juga disampaikan karena Thai Airways dinilai tidak segera memanfaatkan bantuan dari sejumlah lembaga. Personel militer bahkan dikerahkan untuk membantu mengurai tumpukan bagasi.

Menurut Surasak, Thai Airways tidak menyediakan makanan maupun akomodasi bagi para personel tersebut. Akibatnya, mereka harus kembali ke satuannya untuk makan.

"Setiap lembaga berusaha turun tangan dan membantu, tetapi tidak ada respons positif maupun kerja sama dari Thai Airways. Saya percaya para eksekutif Thai Airways perlu mengambil pendekatan yang lebih proaktif," ujar Surasak.

Untuk mengatasi penumpukan bagasi, Thai Airways kemudian menggandeng tiga penyedia jasa pengiriman, termasuk Thailand Post.

Airports of Thailand (AOT) membantu menyediakan ruang. Sementara itu, Angkatan Udara Kerajaan Thailand, Kementerian Pertahanan, dan staf kantor pusat Thai Airways turut mengerahkan personel tambahan.

Wakil Menteri Transportasi Thailand, Siripong Angkasakulki, memperingatkan bahwa buruknya pelayanan tersebut pada akhirnya akan berdampak kepada maskapai.

"Jika Thai Airways memilih untuk tidak menjaga kepentingan penumpangnya, dampak bisnis dan kerugian yang ditimbulkan pada akhirnya akan kembali kepada perusahaan itu sendiri," kata dia.



(upd/fem)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads