detiktravel

Mencari Jejak Sejarah Jepang di Palembang (Bagian 1)

Adrian Fajriansyah - d'Traveler - Kamis, 22/12/2011 16:11:00 WIB
detikTravel Community -  

 

Minggu, (4/12/2011) saya menyaksikan acara jalan-jalan misteri siaran televisi swasta yang di bawakan oleh Om Tukul Arwana, acara tersebut kebetulan sedang berada di kota kelahiran saya Palembang. Penasaran bagaimana sih acara misteri jalan-jalan di kota kelahiran saya maka saya saksikan tayangan tersebut mulai dari awal hingga akhir acara walaupun saat itu acara tersebut berlangsung di waktu yang sudah larut malam.

Acara yang dibawakan oleh Om Tukul tersebut mengambil seting lokasi di Goa Jepang (Jln. AKBP. H Umar, Kelurahan Ariokemuning), Bukit Siguntang (Kawasan Kelurahan Bukit Besar) dan Kawah Tengkurep (Makam Raja-raja Palembang Darussalam).

Acaranya sendiri berlangsung cukup menyeramkan itu mungkin karena tempat-tempat tersebut sudah pernah saya singgahi, terbukti adik saya tidak mau menyasikan acara tersebut.  Untuk saya sendiri sangat antusias dan penasaran bagaimana keadaan yang terjadi di tempat-tempat yang sudah cukup familiar dan pernah saya singgahi tersebut.

Dari semua tempat yang dikunjungi oleh Om Tukul bersama teman-temannya hanya Gua Jepang lah yang berlum pernah saya kunjungi, sudah sedari dulu saya ingin mengunjungi Gua Jepang namun hingga sekarang (5 Desember 2011) belum kesampaian, jangankan berkunjung melihat Gua Jepang itu sendiri saya pun belum pernah, untunglah ada acara Om Tukul Jalan-Jalan karena berkat acara tersebut akhirnya untuk pertama kalinya dalam hidup saya bisa melihat bagaimana bentuk dan keadaan Gua Jepang yang sangat legendaries tersebut.

Ternyata Gua Jepang yang berada di belakang Pasar Km 5, Palembang tersebut cukup menyeramkan, apalagi saat Om Tukul dan Ustad Sholeh Pati masuk ke dalamnya suasana angker langsung dirasakan oleh mereka, bahkan Ustad Sholeh Pati sempat terkejut saat pertama kali masuk ke dalam ruangan dalam Gua Jepang itu, menurut info dari Ustad Sholeh Pati di dalam Gua Jepang di daerah Sosial itu terdapat sebuah kerajaan gaib yang cukup besar dengan kekuatan mistis yang sangat kuat, itulah mengapa Om Tukul bersama teman-temannya tidak mau berlama-lama berada di dalam Gua atau Bunker Pertahanan Jepang tersebut apalagi keadaan di dalamnya memang sangat tidak kondusif karena sangat bau dan kotor di mana sampah berserakan di mana-mana.

Setelah menyaksikan acara Om Tukul Jalan-Jalan bukannya menjadi takut, saya malah semakin penasaran untuk melihat langsung bagaimana keadaan Gua Jepang tersebut, bukannya ingin sok berani atau gaya-gayaan tetapi karena rasa penasaran dan haus akan ilmu sejarah tentang jejak peninggalan Jepang yang ada di Palembang akhirnya saya beranikan diri dan bertekat untuk mengunjungi langsung Gua Jepang (Komplek Pertahanan Jepang) tersebut.

EKSPEDISI PERTAMA

Selasa, (06/12/2011) bersama teman-teman diantarnya ada Kgs. M. Habibillah, M. Hafid Fitrian dan Januar Rojali (sekaligus Guide) juga saya tentunya kami memulai ekspedisi pencarian jejak-jejak peninggalan Jepang di Palembang, tadinya ekspedisi ini hanya sebuah usulan saja dari saya yang ingin melihat langsung bagaimana bentuk dan kondisi Gua Jepang yang berada di Km 5 tapi ternyata semua teman-teman saya juga antusias ingin melihat bagaimana bentuk bangunan peninggalan tentara Jepang pada Perang Dunia Ke II tersebut, sehinggah akhirnya ekspedisi ini pun dimulai dengan antusias.

Ekspedisi "iseng-iseng" ini kami mulai dari daerah Km 5, tepatnya di belakang pasar tradisional Km 5, melawati Jalan Sosial kemudian tembus ke Jalan AKBP H. Umar, Kelurahan Ariokemuning, Palembang, yaitu tak lain dan tak bukan lokasi tempat keberadaan Gua Jepang atau Komplek (Bunker) Pertahanan Tentara Jepang.  Berkat keberadaan “Guide” Januar Rojali kami pun bisa dengan lancar tanpa hambatan menujuh ke lokasi Gua Jepang.  Tempat ini menurut info yang saya dapat dari berbagai sumber merupakan Bunker Utama Pertahanan Jepang saat Perang Dunia Ke II (1942-1945).  Bunker Pertahan Jepang di daerah AKBP H Umar di bangun sekitar tahun 1942 sampai 1945 tepatnya saat Jepang menduduki Indonesia selepas Belanda angkat kaki "sementara" dari Bumi Nusantara.

Awalnya kami sempat takut untuk memasuki bagian dalam Gua karena keadaannya yang cukup mistis dan menyeramkan, akan tetapi berkat keberanian dan ajakan dari "Guide" Januar Rojali kami semua akhirnya berani memasuki bagian dalam Gua.  Bagian dalam Gua sangat kotor, jorok dan bau karena sampah yang bergeletakan di mana-mana, tampaknya tempat ini telah dijadikan tempat pembuangan sampah illegal oleh warga sekitar.

Di dalam Gua Jepang tadinya menurut info yang saya dapat terdapat sebuah ruangan yang ditutupi dengan terali besi di mana di dalamnya ada sebuah lorong atau terowongan yang terkoneksi langsung ke Gua atau Komplek (Bunker) Pertahanan Udara Jepang di sebelah RSK Charitas tepatnya di Jalan Jendral Sudirman di depan Gedung BI, Palembang, namun sungguh ironis terali besi dalam ruangan tersebut tidak ada lagi karena sudah lama diambil oleh orang yang tidak bertanggungjawab mungkin dijadikan besi kiloan untuk dijual dan karena tumpukan sampah yang dibiarkan terus menerus akhirnya lorong tersebut tertimbun sehingga tidak dapat dimasuki lagi.

Puas mengamati bagian dalam kami kemudian mengitari bagian luar Gua Jepang melihat bagaimana kontruksi dan arsitektur bangunan itu, secara keseluruhan bangunan ini bentuknya tidak istimewah namun sangat tangguh karena dibangun dengan menggunakan pondasi baja “asli” yang dilapisi dengan beton berlapis yang sangat kuat dan kokoh, dari filosofi pembangunannya tampak jelas orang Jepang sudah dari dulu tidak terlalu mementingkan bentuk estetika atau keindahan melainkan lebih mengutamakan kinerja dan kualitas.  Di bagian atas Bunker atau Gua Jepang terdapat sebuah cerobong entah apa fungsinya munkin sebagai ventilasi udara atau sebagai tempat keluarnya asap dan uap dapur dari bagian dalam gua itu.

Setelah terpuaskan harsat ingin tau dan menyalurkan rasa penasaran mengelilingi banguan Pertahanan Utama Tentara Jepang di daerah km 5 tepatnya di Jl. AKBP H. Umar,  kami kemudian bergegas meninggalkan lokasi tersebut, selanjutnya kami pun di ajak singgah oleh saudara “Guide” Januar Rojali ke rumahnya, dan tanpa disangka-sangka di rumahnya kami disajikan makan siang lengkap bersama minuman es sirup yang sangat segar serta buah embam sebagai penutup atau cuci mulutnya.  Mungkin baru kali ini Guide yang memberikan tips atau hadiah untuk wisatawannya bukan wisatawannya yang memberikan hadiah untuk si Guide.  Satu kalimat Thanks a lot Mas Bro Januar Rojali.

Hasil Liputan Di Komplek (Bunker) Pertahanan Jepang atau Gua Jepang (Km 5 (Palimo), Jl Sosial - Jl. AKBP. H. Umar, Kelurahan Ariokemuning, Palembang).

Bunker Pertahanan Jepang di daerah AKBP H. Umar ini lebih dikenal oleh warga sekitar dengan sebutan Gua Jepang karena letak awalnya yang berada di dalam permukaan tanah di mana hanya ada satu lorong sebagai pintu masuk layaknya sebuah Gua, akan tetapi kini keadaannya sangat memperihatinkan di mana keberadaan Bunker Pertahanan Jepang ini tidak lagi berada di bawah permukaan tanah melainkan sudah menganga di atas permukaan tanah karena tanah disekitarnya telah dikeruk oleh orang-orang yang kurang peduli dengan peninggalan sejarah.

Dari hasil ekspedisi ini dapat digambarkan keadaan Gua Jepang sudah sangat mengenaskan, lokasi keberadaan Gua Jepang telah dikepung oleh rumah-rumah warga di kanan-kiri, depan-belakang bahkan di atas Gua Jepang itu sendiri.  Bagian dalam Gua Jepang juga tidak kalah mengenaskan karena tempat ini merupakan tempat pembuangan sampah illegal oleh warga sekitar.  Akibat sampah “illegal” yang berserakan bagian lorong yang berada di dalam Gua Jepang tertimbun oleh tumpukan sampah sehingga tidak bisa dimasuki lagi, padahal konon katanya terowongan atau lorong tersebut terkoneksi langsung dengan Komplek (Bunker) Pertahanan Udara Jepang di sebelah RSK (Rumah Sakit Kristen) Charitas di Jalan Jendral Sudirman, Palembang.

Gua Jepang itu sendiri secara kontruksi masih sangat kuat karena dari hasil liputan langsung kami memang bangunan tersebut dibangun dengan menggunakan podasi Baja "asli" kemudian dilapisi dengan beton yang kuat sehingga sangat tangguh walaupun digempur dengan terpedo sekalipun.  Sangat pintar otak Jepang karena sedari dulu kemampuan Jepang memang sangat menjanjikan, lihatlah bagaimana mereka membangun tempat pertahanan ini sangat tangguh dan terbukti sangat menyulitkan tentara sekutu saat Perang Dunia ke-II terjadi.

Akan tetapi setangguh-tangguhnya bangunan bila tidak mendapatkan perawatan yang baik maka hancur juga akhirnya, sekarang keberadaan Gua Jepang di Km 5 semakin mengkhawatirkan, keadaannya semakin tidak jelas, padang ilalang berserakan di halaman Gua, banyak dari bagian bangunan Gua yang hancur entah karena dimakan usia atau karena keusilan dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan yang paling mengenaskan bagian dalam Gua sangat penggap dan bau akibat sampah-sampah yang dibiarkan tertumpuk.

 

Sungguh sedih melihatnya, memang keberadaan Jepang di masa lalu tidak menguntungkan bagi Indonesia atau tidak lebih baik dari Penjajah Belanda akan tetapi bangunan sejarah ini tidaklah salah, bahkan mungkin bangunan sejarah ini sangat penting keberadaannya bagi generasi penerus bangsa sebagai sumber ilmu pengetahuan bahkan juga bisa menjadi potensi wisata daerah yang ujung-ujungnya akan menguntungkan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

 

Saya berandai-andai bila nanti bisa menjadi seorang pemimpin alangkah baiknya bekas atau sisa peninggalan Perang Dunia Ke II (1942-1945) atau sisa bangunan Jepang tersebut lebih diperhatikan, dirawat dan dijaga oleh kita bersama, saya yakin bila semua peninggalan tersebut bisa lebih diperhatikan terutama oleh pemerintah setempat akan menjadi objek wisata yang sangat pontensial terutama untuk wisatawan asing dari Jepang karena secara budaya orang Jepang sangat menghargai sejarah sehingga mereka pasti akan sangat antusias melihat sisa peninggalan nenek moyang mereka di Negara orang.

Masih kurang percaya bila sisa peninggalan Jepang tersebut merupakan objek wisata potensial, lihatlah Bunker-Bunker atau Gua-Gua Jepang di daerah lain, tidak usah jauh-jauh ke luar negeri kita ambil contoh di Provinsi tetangga Sumsel yaitu Sumatera Barat tepatnya di Bukit Tinggi di sana terdapat Gua (Bunker) Peninggalan Jepang saat Perang Dunia Ke II, bangunannya hampir mirip dengan yang ada di Palembang hanya saja pemerintah kota Bukit Tinggi sangat pandai menggarap potensi wisatanya sehingga Gua Jepang tersebut bisa menjadi tempat tujuan wisata andalan di sana selain wisata alamnya.

Keberadaan Gua Jepang di Bukit Tinggi sangat terawat baik bahkan sisa-sisa peralatan tentara Jepang pun masih ada di dalamnya ini mencerminkan bagaimana orang Bukit Tinggi sangat menghargai sejarah, buah dari menghargai sejarah adalah Bukit Tinggi menjadi salah satu daerah wisata terkenal di Indonesia bahkan dunia, ini berbanding terbalik dari Palembang karena di sini semua peninggalan sejarah sangat jauh dari kata terawat dan diperhatikan sehingga saya tidak yakin Palembang bisa menjadi tempat tujuan wisata yang lebih baik dari Bukit Tinggi kecuali suatu hari nanti ada pemimpin Palembang yang lebih mencintai sejarah, menghargai semua peninggalan sejarah yang ada di kota Palembang dan terutama dapat memimpin Palembang dengan hati yang tulus ikhlas, ingatlah Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai sejarahnya.

EKSPEDISI KEDUA

Ekspedisi kedua masih berlangsung di hari yang sama yaitu selasa tanggal 6 Desember 2011.  Di ekspedisi ke dua tempat tujuan kami adalah Rumah Pertahanan Jepang di Jalan Joko, Kelurahan Talang Semut, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang atau lebih tepatnya di samping Aula Gereja Imanuel (gereja kuno peninggalan Belanda).  Di ekspedisi ke dua ini anggota rombongan kami berkurang satu orang karena sang Guide Januar Rojali ada tugas yang tidak bisa untuk ditinggalkan.  Walaupun hanya tinggal beranggotakan 3 orang saya sendiri, Kgs. M. Habibillah dan M. Hafid Fitian namun ekspedisi ini tetap berlangsung dengan antuasias yang tinggi karena penasaran bagaimana bentuk dari rumah pertahanan tersebut.

Karena hanya bermodalkan pengetahuan tentang Rumah Pertahanan Jepang di Talang Semut tanpa tahu alamat persisnya akhirnya kami pun hanya berputar-putar dari Mall PIM - kawasan Talang Semut - Jalan Merdeka hingga mendekati daerah Ki Gede Ing Suro dengan hasil nihil.  Walaupun telah bermandikan keringat setelah berjalan cukup jauh tanpa hasil apapun kami bertiga tidak berputus asa dan meneruskan perjalanan mencari tempat peris dari peninggalan Jepang tersebut.  Kebetulan kami berada di daerah Ki Gede Ing Suro di mana lokasi ini tidak jauh dari rumah saudara Kgs. M. Habibillah maka diputuskan untuk mampir senjenak di rumah beliau untuk beristirahat sekaligus mencari alamat pastinya letak dari Rumah Pertahanan Jepang di Talang Semut dengan menggunakan media Online atau Internet.

Benar saja penggunaan media internet sangat praktis dan bermanfaat alamat dari Rumah Pertahanan Jepang yang kami cari di dapatkan, langsung saja tanpa pikir panjang saya dan saudara Kgs. M. Habibillah langsung berangkat dengan menggunakan motor menujuh ke “TKP” letak dari rumah pertahanan tersebut, sedangkan saudara M. Hafid Fitrian dengan berat hati kami tinggalkan karena motor yang tersedia hanya satu di mana muatannya hanya dua orang saja, akan tetapi dengan jiwa besar saudara M. Hafid Fitian ikhlas kami pergi dan berharap kami menemukan letak tempat tersebut sehingga dia (M. Hafid Fitian) bisa melihat bentuk dari rumah pertahanan itu dari foto dokumentasi.

Alamat yang kami dapatkan adalah Jalan Joko, Kelurahan Talang Semut, Kecamatan Bukit Kecil tepatnya di samping Aula Gereja Imanuel Palembang.  Dengan mudah alamat tersebut kami dapatkan akan tetapi sesampainya di lokasi alamat itu kami tidak menemukan jejak-jejak dari Rumah Pertahanan Jepang tersebut, yang ada di sana hanyalah rumah-rumah elite orang-orang berduit, kuburan, dan tentu saja Gereja Imanuel.  Kami terus coba mencari lokasi rumah pertahanan itu, kami masuki lorong-lorong yang terdapat di belakang Aula Gereja Imanuel hasilnya nol, kemudian kami putari lagi kawasan Jalan Joko hasilnya tetap nol, dengan inisiatif saya kemudian kami kembali ke Aula Gereja Imanuel lalu dengan teliti kami lihat satu persatu bangunan yang ada di dekatnya, nah benar saja setelah diteliti dengan baik akhirnya kami menemukan Rumah Pertahanan Jepang tersebut.

Lokasi dari Rumah Pertahanan Jepang tersebut persis di samping Aula Gereja Imanuel, lebih tepatnya di seberangan jalan di samping sebuah rumah kayu panjang. Letak lokasi Rumah Pertahanan Jepang persis di bawah rumah penduduk itulah mengapa saat kami memutari lokasi tersebut kami tidak menemukannya karena keberadaan sisa peninggalan Jepang tersebut berada di bawah rumah warga yang tentunya tidak kami sangka-sangka karena menurut bayangan kami rumah pertahanan itu pastinya terletak di sebuah lahan kosong yang ditumbuhi banyak ilalang (semak belukar), penuh dengan sampah dan tentunya tidak terawat.

Menurut saudara Kgs. M. Habibillah, dia telah sedari dulu mengetahui keberadaan rumah itu namun dia tidak menyangka kalau itu merupakan sisa dari Perang Dunia Ke II atau sisa dari Rumah Pertahanan atau Perlindungan Jepang.  Lagi-lagi menurut saudara Kgs. M. Habibillah, orang-orang di sekitar lokasi tersebut tahunya bahwa itu adalah rumah bawah tanah dan tidak tahu kalau itu merupakan bekas tempat persembunyian tentara Jepang.

Dari hasil pengamatan di lapangan Rumah Pertahanan Jepang di Talang Semut masih lebih baik dari Gua Jepang yang terdapat di Km 5 Jalan AKBP H. Umar.  Rumah Pertahanan Jepang tersebut telihat masih sangat kokoh dan kuat, di sekeliling dindingnya terdapat ventilasi udara, di sana juga terdapat sebuah tangga menujuh ke pintu masuk ke dalam Rumah Pertahanan Jepang itu, saat kami berada di sana bagian lantai Rumah Pertahanan Jepang tersebut terlihat tergenang air dan banyak lumut di lantai pastinya tempat itu sangat licin apabila di masuki, kami sendiri tidak tahu persis bagaimana keadaan di dalam Rumah Pertahanan Jepang tersebut karena waktu sudah hampir malam jadi kami putuskan hanya melihat-lihat dan mendokumentasikan bentuk dari bangunan peninggalan Jepang tersebut.

Walaupun, keadaannya masih lebih baik dari Gua Jepang namun tetaplah Rumah Pertahanan Jepang di Talang Semut ini tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah terkait, lihatlah bangunan bersejarah itu yang tadinya terdapat di bawah permukaan tanah sekarang sudah ternganga di atas permukaan tanah, kemudian di atasnya dibangun oleh warga penunggu lokasi itu dengan bangunan semi permanen dan informasi tentang keberadaan Rumah Pertahanan Jepang  tersebut tidak tersedia sehingga warga tidak tahu bahwa itu peninggalan Perang Dunia Ke II.

Sangat ironis di tengah kepunggan rumah-rumah elite warga kelas kakap yang berduit, Rumah Pertahanan Jepang yang notabene merupakan harta sejarah ditelantarkan, dibiarkan tua dimakan usia, dibiarkan hancur tak terkenang, bahkan masyarakat sekitar pun tidak banyak yang tau tentang keberadaannya, orang-orang berduit itu pun acuh dengan harta sejarah tersebut karena bagi mereka itu tidak bernilai, bagi mereka itu tidak bisa dijadikan uang, bagi mereka harta sejarah itu tidak penting untuk diperhatikan.

Kapan? Itulah pertanyaannya, kapan pemerintah akan memperhatikan bangunan sejarah tersebut?, kapan pemerintah akan peduli dengan harta sejarah yang tidak ternilai itu?, dan kapan pemerintahan akan mencerdaskan kehidupan masyarakatnya khususnya untuk informasi dan pengetahuan sejarah?.  Entalah karena kita hanya bisa bertanya tanpa pernah akan mendengar jawabannya.

Setelah puas mendokumentasikan Rumah Pertahanan Jepang, kami kembali pulang namun sebelum menujuh ke rumah saudara Kgs. M. Habibillah terdahulu membeli pempek sebagai santapan sore bersama di rumah dengan saudara M. Hafid Fitrian yang telah menunggu lama. "Thanks a lot for Kgs. M. Habibillah."

Hasil Liputan Di Rumah Pertahanan Atau Perlindungan Jepang Talang Semut (Jalan Joko, Kelurahan Talang Semut, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang. Tepatnya Di Samping Aula Gereja Imanuel Palembang)

Rumah Pertahanan atau Rumah Perlindungan Jepang konon dari info yang saya dapat tadinya adalah tempat persembunyian yang di bangun Belanda untuk persiapan saat Jepang masuk ke Indonesia, namun karena Belanda telah angkat kaki terlebih dahulu dari Indonesia maka bangunan persembunyian ini diambil ahli oleh Jepang sebagai tempat persembunyian mereka.

Rumah Persembunyian yang lebih dikenal sebagai Rumah Pertahanan Jepang ini diprediksi dibangun antara tahun 1942-1945 tepat saat berlangsungnya Perang Dunia Ke II.

Dari hasil liputan langsung ke lapangan bangunan ini berbentuk seperti rumah pada umumnya namun dibangun di bawah permukaan tanah, disekeliling bagian atas dinding bangunan terdapat ventilasi udara, terdapat jalan atau tangga menujuh pintu masuk ke dalam ruangan di dalam Rumah Pertahanan.  Rumah pertahanan itu sendiri terlantar tanpa penghuni semenjak selesainya Perang Dunia Ke II dengan ditandai kalahnya Jepang terhapat sekutu setelah peristiwa bom di Hiroshima dan Nagasaki.  Setelah itu diatas Rumah Pertahanan tersebut kemudian dibangun rumah semi permanen oleh warga yang menurut info adalah penunggu/juru kunci lokasi tersebut.

Tidak banyak informasi mengenai bangunan bersejarah tersebut sehingga warga sekitar tidak banyak yang tahu bahwa itu adalah bangunan bernilai sejarah bekas Perang Dunia Ke II yang dahulu digunakan sebagai Rumah Pertahanan dan Perlindungan tentara Jepang.

Kekurangan kepedulian dan perhatian dari pemerintah membuat bangunan ini semakin terlantar, diharapkan agar pemerintah lekas membuka mata dan hatinya untuk lebih peduli kepada semua harta sejarah yang ada di Palembang khususnya.

EKSPEDISI KETIGA

Ekspedisi ke tiga berlansung pada hari Kamis, (8/12/2011) kali ini kami melakukan pertualangan kembali hanya bertiga di mana terdapat saya sendiri, Kgs. M. Habibillah dan tentunya si M. Hafid Firian yang tidak pernah ketinggalan.

Perjalanan ekspedisi kami kali ini akan menujuh ke sisa peninggalan Jepang saat Perang Dunia Ke II di daerah Jalan Majahpahit, tepatnya di Kelurahan 1 Ulu, Kertapati, Palembang.  Tempat yang akan kami singgahi kali ini menurut info yang saya himpun adalah sebuah Bunker Pertahanan Anti Pesawat Udara (Anti Aircraft Artillery) Tentara Jepang yang dibangun antara tahun 1942 sampai 1945.

Sangat sedikti informasi yang kami dapat tentang keberadaan lokasi Bunker Pertahanan Jepang di Daerah Majahpahit ini, selain kurangnya informasi yang kami dapat dari media internet, orang-orang di daerah sekitat yang notabene telah lama mendiami lokasi ini juga tidak tahu letak bahkan informasi tentang kebaradaan Bunker Pertahanan Jepang di Daerah Majahpahit, I Ulu, Kertapati, Palembang.

Akibat kurang informasi dan banyak warga yang tidak memahami tentang peninggalan sejarah dari tentara Jepang tersebut sehingga membuat ekspedisi kami kali ini sangat rumit, berbelit dan melelahkan.

Dari gerbang masuk Jalan Majahpahit kami sempat bertanya kepada seorang bapak kurang lebih berusia 70 tahun tentang keberadaan Bunker Jepang, namun sang bapak tidak tahu banyak tentang keberadaan Bunker Jepang itu, yang beliau tahu hanyalah letak bangsal yang ternyata merupakan tempat perkampungan orang cina di daerah 1 ulu. 

Kami terus bejalan dan mencari, setiap tempat yang kami lewati kami selalu bertanya tetapi semua jawaban sama tidak tahu-menahu tentang sisa peninggalan Jepang yang mereka tahu justru sebuah bangunan tua yang katanya adalah bangunan bekas Belanda di daerah Migguan.  Daripada tidak mendapatkan hasil apa-apa akhirnya kami pergi ke daerah Migguan berdasarkan informasi yang didapat dari sepasang suami istri Cina yang tinggal di daerah bangsal Cina.  Jalan berliku dan berkelok kami bertiga lewati, menyisirih sisi sungai kemudian masuk ke dalam lorong, melintasi jembatan kayu hingga kemudian sampailah kami ke bangunan tua yang menurut masyarakat setempat adalah bangunan Belanda.

Setelah melihat bangunan tua itu kami sedikit kecewah karena apa yang kami cari tidak sesuai harapan, setelah bercerita dengan warga setempat yaitu seorang Bapak berusia kurang lebih 40 tahun, dia berkata bahwa tidak ada bunker peninggalan Jepang di daerah Migguan 15 Ulu ini yang ada hanyalah sebuah bangunan tua menurut kata beliau adalah bekas pabrik karet peninggalan Belanda.  Akhirnya setelah mengusik sedikit banyak info dari daerah tersebut kami putuskan untuk kembali ke Jalan Majahpahit sesuai dena tempat yang kami dapat pada awal ke datangan kami.

Putar haluan, kami kembali ke daerah 1 Ulu tepatnya di Jalan Majahpahit, Kertapati, Palembang, sesampai ke tempat semula kami bertanya ke Bapak Tukang Becak, kami bertanya apakah bapak tahu tentang bangunan sisa tentara Jepang, kami ceritakan bentuk bangunan sesuai foto yang kami lihat di Internet bahwa bangunan tersebut bentuknya bulat lebar terbuat dari Benton cor yang sangat kokoh dan letaknya dibawah permukaan tanah di mana hanya bagian atasnya saja yang terlihat sedikit, ternyata setelah digambarkan bentuk tempat itu sang bapak teringat ke sebuah bangunan yang mirip dengan ilustrasi yang saya sampaikan. Bangunan sisa Jepang yang kami cari menurut bapak tukang becak terdapat di dalam halaman SD Negeri 91, Jln. Majahpahit, Kelurahan 1 Ulu, Kertapati, Palembang. terang saja setelah kami masuki bagian dalam sekolah dasar tersebut memang terdapat 3 buah bangunan yang saya gambarkan. Satu buah bangunan bentuknya tidak utuh lagi dan dua lainnya masih kokoh berdiri hanya saja bentuknya sudah sedikit berubah sehingga bila tidak memahaminya yang kita lihat tersebut seperti sebuah sumur atau sopsitenk atau juga pot besar.

Tidak lama kemudian datanglah berombongan anak-anak yang bersekolah di sd tersebut, mereka menjelaskan bahwa kata orang-orang tua mereka dibangunan sisa Jepang ini dulu ditemukan mayat dan senjata bekas perang, masih menurut anak-anak sd tersebut bangunan tersebut dahulu bisa dimasuki namun karena sudah tertimbun tanah sehingga tidak dapat dimasuki lagi.

Saat kami asik bercerita dengan anak-anak sd itu, tiba-tiba datang ibu-ibu dan ikut mendengarkan percakapan kami, para ibu itu membenarkan cerita dari anak-anak sd tersebut bahwa memang di sinilah letak bangunan sisa Jepang yang kami cari bahkan katanya masih banyak lagi bangunan sejenis yang terdapat di sana tapi yang utuh tidak ada lagi, berdasarkan informasi dari para ibu di bagian belakang SD Negeri 91 ini juga terdapat 2 bangunan lagi di dalam halaman rumah seorang warga.  Setelah banyak mendapatkan informasi dari warga setempat khususnya dari para ibu kami pun melanjutkan perjalanan ke dua bangunan yang katanya juga merupakan Bunker Pertahanan Jepang yang terdapat di halaman belakang SD Negeri 91.

Dua bangunan yang terdapat di belakang SD N 91 tadinya pada perjalanan awal kami sudah saya lihat namun saya tidak yakin bahwa itu adalah sisa dari Bunker Pertahanan Jepang yang saya kira itu adalah tempat pembuangan limbah (sopsiteng).  Sesampai ke rumah warga yang di halamanya terdapat Bunker Pertahanan Jepang kami disambut dengan baik dan ramah oleh ibu pemilik rumah, ibu itu dengan sangat baik dan antusias menceritakan bahwa ini memang bangunan Bunker Pertahanan Jepang yang kami cari, bahkan dengan meyakinkan ibu tersebut berkata bahwa dahulu juga pernah datang 3 orang bule yang berkunjung ke rumahnya untuk mempelajari kontruksi bangunan peninggalan Jepang di Perang Dunia Ke II tersebut, masih dengan antuias ibu itu berkata bahwa bangunan ini dahulu sebelum tertimbun tanah terdapat lorong menujuh ruang dibawah tanah, akan tetapi karena khawatir lorong itu amblas akhirnya bangunan ini ditimbun sehingga sekarang tidak bisa dimasuki lagi. 

Ibu pemilik rumah itu juga bercerita sebenarnya bangunan ini sudah berapa kali akan dihancurkan karena cukup menggangu halaman rumahnya akan tetapi karena sangat kokoh dan kuat maka pekerjaan penghancuran pun sia-sia maka dari itu akhirnya mereka menimbun bangunan tersebut agar rata dengan permukaan tanah di atasnya.  Terdapat satu buah lagi bangunan sejenis di halaman rumah ibu pemilik rumah akan tetapi satu bangunan ini telah dibanguan rumah diatasnya, karena tidak dapat dihancurkan akhirnya mereka menjadikan Bunker Pertahanan Jepang tersebut menjadi pondasi lantai dasar dari rumah meraka.

Setelah puas berkeliling, berinteraksi, bercerita dan mendapatkan ilmu baru dari Bunker Pertahanan Jepang Anti Pesawat Udara (Anti Aircraft Artillery) di Jalan Majahpahit, Kelurahan 1 Ulu, Kertapati, Palembang, kemudian kami pulang dengan hasil ilmu baru yang didapat.  Capek dan letih dari ekspedisi yang cukup jauh dan menguras tenaga membuat perut kami lapar sehingga sebelum benar-benar pulang ke rumah kami mampir ke sebuah warung pempek di Jalan Mujahiddin, pasar 26 Ilir, Palembang untuk mengisi perut yang lapar, kenyang menyantap pempek dan model kemudian kami benar-benar pulang ke rumah masing-masing dengan bekal perut terisi penuh dan ilmu baru yang di dapat. Dan satu pelajaran juga di dapat adalah malu bertanya maka akan sesat di jalan itu pasti terbukti karena kami telah mengalaminya, apabila kita berada di daerah orang tanpa tahu seluk beluk daerah tersebut maka bertanya adalah kunci sukses anda berada di daerah tersebut, bertanyalah dengan nada rama dan lembut.

Hasil Liputan Di Bunker Pertahanan Anti Pesawat Udara (Anti Aircraft Artillery) Atau Menara Meriam Anti Aircraft Artillery Jepang (Jalan Majahpahit, Kelurahan 1 Ulu, Kertapati, Palembang. Tepatnya Di Halaman Dan Di Belakang SD Negeri 91 Palembang).

Bunker merupakan suatu tempat persembunyian yang pada umumnya berada di bawah permukaan tanah banyak di gunakan pada masa Perang Dunia khususnya Perang Dunia Ke II, di Indonesia sendiri kebanyakan sisa bangunan Bunker merupakan sisa dari pasukan Jepang yang pernah menduduki Indonesia pada tahun 1942 sampai dengan 1945, selama 3.5 tahun menjajah raykat Indonesia sangat menderita dibuat oleh Jepang, salah satu penderitaan yang sangat menyayat jiwa adalah romusa yaitu sebuah kerja paksa tanpa upah di zaman Jepang di mana saat itu warga jajahan Indonesia harus bekerja tanpa makan dan minum yang layak juga tanpa upah, sangat menderita. Romusa sendiri dijadikan Jepang sebagai tenaga pembuat Bunker-Bunker pertahanan mereka, itulah mengapa dalam waktu yang relative singkat Jepang mampu membuat cukup banyak Bunker Pertahanan di Indonesia dengan fungsi yang berbeda-beda.

Salah satu Bunker Pertahanan Jepang yang digunakan sebagai tempat berlindung dari serangan pesawat udara adalah Bunker Pertahanan Anti Pesawat Udara (Anti Aircraft Artillery) Jepang di Jalan Majahpahit, Kelurahan 1 Ulu, Kertapati, Palembang.Namun, sayang keberadaannya sama dengan peninggalan Jepang lain di Palembang, terlantar, tidak terawat dan tidak ada perhatian dari pemerintah setempat.

Pemerintah lebih mementingkan plesiran (jalan-jalan) dan penyediaan mobil dinas kepada pejabatnya dibandingkan perhatian dan perawatan bangunan bersejarah.  Kasihan, apabila dilihat bangunan sisa Jepang bisa dikatakan merupakan perasasti kenangan bagaimana dahulu rakyat Palembang dengan kerja paksa (romusa) disuruh membuat Bunker-Bunker untuk para serdadu Jepang.  Kenangan masa lalu hendaknya jangan dilupakan sekalipun itu menyedihkan justru itu dapat dijadikan pelajaran untuk bisa menjadi bangsa yang lebih baik dan lebih kuat.

Dilihat dari bentuk dan kontruksinya, bunker di Jalan Majahpahit berfungsi sebagai tempat perlindungan bawah tanah terhadap serangan pesawat udara yang sangat kokoh, dimana terdapat cukup banyak ruang masuk bebentuk bulat dan menjorok ke bawah permukaan tanah, entah bagaimana bentuk asli bangunan ini kurang bisa dijelaskan karena keberadaannya yang sudah ditimbun tanah oleh warga sekitar sehingga jangankan untuk melihat isi di dalamnya, bentuknya pun sekarang tidak utuh lagi.

Berbeda dengan sisa Bunker Pertahanan Jepang lain yang sudah menganga di atas permukaan tanah padahal tadinya terletak di bawah permukaan tanah, di sini di Jalan Majahpahit justru berbeda karena Bunker Pertahanan Anti Aircraft Artillery di sini justru ditimbun oleh warga karena cukup menganggu daripada halaman bangunan baik itu rumah maupun sekolahan yang mereka bangun di atasnya.

Kita tidak bisa menyalahkan warga sekitar yang telah menimbun ataupun kurang memperhatikan juga menghargai bangunan peninggalan sejarah masa lalu karena pemerintah sendiripun tidak ada perhatian kepada bangunan-bangunan tersebut, rakyat cenderung mencontoh pemimpinnya, apabila pemimpinnya dapat memberikan contoh yang baik InsyaAllah rakyatnya juga akan berprilaku baik namun apabila pemimpinnya bobrok maka rakyatnya pun akan kacau.  Demikianlah apabilah pemerintah tidak ada perhatian, kepedulian dan penyelamatan terhadap bangunan peninggalan Jepang pada Perang Dunia Ke II ini maka lambat laun pasti akan hancur, musnah sehingga kelak hanya tinggal cerita, sungguh ironis keadaan demikian dikalah Negara-negara tetangga atau tak usah jauh-jauh provinsi-provinsi tetangga marak memikat wisatawan dengan keberadaan bangunan bersejarahnya dalam program wisata sejarah namun di Palembang yang notabene adalah kota tertua di Indonesia justru tidak peduli dengan bengunan tuanya.

Semoga kelak ada yang ibah dan tergerak hatinya untuk lebih peduli dengan si tua bangunan bersejarah walaupun mereka hanya tinggal puing belakah!

 

 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
Artikel
Terbaru
Most
Popular
 

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com