detiktravel

Berkeliling di Kota Seribu Sungai, Banjarmasin

Adhari Suryaputra - d'Traveler - Rabu, 11/01/2012 12:33:00 WIB
detikTravel Community -  

Kota seribu sungai, memang itulah sebutan yang tepat untuk Banjarmasin, Kalimatan Selatan. Di sini, ada Sungai Kuin yang menjadi penghubung Sungai Barito dan Martapura. Sungai beserta kehidupan tepiannya pun menjadi objek wisata menarik untuk dikunjungi.

Embun pagi belum juga menguap ketika perahu kelotok yang saya tumpangi menuju Kota Banjarmasin, kembali dari Pasar Terapung Muara Kuin. Di kejauhan, tampak Masjid Sultan Suriansyah berdiri dengan anggun. Masjid bersejarah yang dibangun pada abad ke-16 itu terletak di tepi Sungai Kuin. Arsitekturnya khas Banjar dengan fisik kayu berkonstruksi panggung yang masih terawat dengan baik. Atap tumpangnya sendiri terpengaruh filosofi meru dalam budaya Jawa Kuno.

Dalam naskah-naskah Majapahit, Banjarmasin dikenal sebagai Nusa Kencana atau tanah seberang. Tapi, nama Banjarmasin berasal dari kata Banjarmasih (atau Bandar Asih) yang berarti Perkampungan Oloh Masih (Orang Melayu), atau mungkin juga bermakna taman asin, yang menunjuk pada kondisi air di tempat ini yang dahulu memiliki rasa asin.

Kota yang dulunya merupakan delta sungai ini memang pantas dijuluki sebagai Kota Seribu Sungai. Sungai Kuin merupakan penghubung Sungai Barito dan Martapura, dua sungai terpenting bagi masyarakat Banjar. Sehari sebelumnya, Festival Jukung Hias diselenggarakan di sepanjang Sungai Martapura yang membelah Kota Banjarmasin, untuk merayakan hari jadi kota itu. Malam itu, Sungai Martapura semarak dipenuhi kerlap-kerlip lampion yang menghiasi puluhan jukung, kapal tradisional Banjar. Ribuan orang memadati jalan-jalan utama yang berbatasan langsung dengan Sunga Martapura. Pesta rakyat ini digelar hingga larut malam dan ditutup dengan pertunjukan kembang api.

Sungai beserta kehidupan di tepiannya memang menjadi objek wisata andalan Banjarmasin. Kehidupan dan aktivitas masyarakat di sepanjang sungai-sungai di sana memiliki daya tarik tersendiri. Setiap hari, ketika matahari belum juga terbit, kelotok-kelotok sewaan telah siap mengantar wisatawan yang hendak melihat pasar terapung.

Anda akan diajak menyusuri sungai ke arah hilir, tempat pasar terapung berada. Saat itu langit masih terlalu gelap dan sumber pencahayaan kebanyakan berasal dari lampu rumah-rumah kayu yang berderet sepanjang tepian sungai. Uniknya, rumah-rumah kayu tua ini memiliki bangunan permanen yang menghadap ke jalan raya.

Kebanyakan masyarakat setempat memang telah meninggalkan cara hidup yang dahulu ditopang oleh sungai-sungai ini. Akan tetapi, nampaknya mereka tidak akan sepenuhnya menghapus asal usul mereka, dengan tetap menyisakan bangunan kayu yang menghadap ke sungai. Menyaksikan aktivitas pagi masyarakat yang menjadikan sungai sebagai sarana mandi, cuci dan kakus termasuk dalam suguhan bagi para turis.

Agak menjauh dari Kota Banjarmasin, Pasar Martapura masih menjadi tujuan wisata belanja, khususnya beragam accessories dari batu-batu mulia. Di tempat ini, kita juga bisa menemukan ragam kain sasirangan, tekstil khas Banjar yang dibuat dengan teknik jumputan. Berbatasan dengan Pasar Martapura, sebuah pasar tradisional menjajakan beragam penganan, mulai dari kue basah hingga ikan bakar dengan bumbu pedas-manis yang khas.

Sedangkan sebagai destinasi ekowisata, Pemerintah Daerah memperkenalkan Loksado yang memiliki alam memikat dan Pasar Terapung Lok Baintan. Selain itu, Anda juga bisa berkunjung ke Museum Wasaka yang bertempat di sebuah rumah adat Banjar untuk mengetahui rumah asli masyarakat setempat di masa lampau. Tak ada salahnya juga jika berkunjung pula ke Museum Lambung Mangkurat yang terletak di Banjarbaru untuk mengetahui lebih jauh sejarah dan seluk beluk budaya masyarakat Banjar.

Tak lengkap rasanya bila berkunjung ke Banjarmasin tanpa mencicipi kuliner khasnya. Soto Banjar Bang Amat bisa menjadi pilihan yang pas setelah puas berkeliling. Selain soto banjar jangan lewatkan juga lontong orari, berisi dua lontong segitiga berukuran besar. Porsi lontong ini memang pantas disebut kelas berat. Kuahnya gurih seperti lontong cap gomeh, yang dihidangkan dengan ikan haruan goreng berbumbu manis khas kuliner Banjar.

Sekedar info tambahan, jika ingin datang ke Banjarmasin, sebaiknya pada bulan September. Berbagai festival kebudayaan beiasanya digelar selama seminggu penuh, dalam rangka menyambut hari jadi kota.

Foto Terkait
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
Most
Popular
 
Must Read close

Follow us on @detiktravel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com