Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus menggenjot industri pariwisata Tanah Air . Salah satu caranya adalah dengan menyediakan fasilitas family friendly tourism atau wisata halal. Sebab, wisata jenis ini banyak diminati oleh banyak wisatawan, baik wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus).
Maka Kemenpar menggelar sarasehan industri pariwisata di Hotel Sofyan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (2/11/2017). Sarasehan tersebut digelar guna memasarkan potensi family friendly tourism kepada para pelaku industri pariwisata.
Sarasehan diikuti oleh 50 peserta yang berasal dari Jakarta, Bandung, Semarang, dan Yogyakarta. Peserta didominasi oleh perwakilan dari hotel, agen travel, bisnis spa, dan komunitas pasar family friendly tourism.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan sarasehan digelar untuk memfasilitasi para pelaku industri wisata family friendly tourism terhadap perkembangan ke depan pariwisata halal. Kemenpar akan fokus meningkatkan kontribusi mendatangkan wisman muslim ke Indonesia.
"Jadi output-nya kami harapkan ada sinergisitas organisasi pariwisata halal Indonesia yang selama ini secara parsial bisa terhimpun dalam wadah yang lebih besar, tanpa menghilangkan identitas organisasi yang telah ada," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Tim Percepatan Wisata Family Friendly Kemenpar Riyanto Sofyan memaparkan industri halal merupakan mainstream market.
"Jadi bagaimana dalam waktu yang singkat kami meningkatkan kedatangan wisatawan muslim? Kami pilih destinasi wisata halal yang sudah matang," katanya.
Ada sepuluh program yang disiapkan Kemenpar untuk mempercepat pengembangan pariwisata halal di Indonesia. Tiga di antaranya menjadi top 3 program, seperti penyiapan sellers dan pembuatan paket wisata halal unggulan.
"Selain itu, fokus branding, PR-ing, dan promotion (marketing tools cetak dan elektronik) dan digital tourism," lanjutnya.
Kemenpar juga melakukan berbagai jurus untuk mempromosikan destinasi halal. Misalnya dengan menggelar sales mission ke negara sasaran dan menggelar Familirazation Trip (Famtrip).
"Kami ikut berpromosi di pameran-pameran pariwisata di luar negeri seperti ITB Berlin dan ITB Asia. Di bulan ini, juga ada Famtrip yang mendatangkan TV Al Jazeera untuk meliput wisata halal di Indonesia," tambah Riyanto.
Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan jika ingin menjadi pemain dunia untuk wisata halal, harus menggunakan standar global. Caranya dengan mengikuti standar yang sudah dibuat secara universal oleh Global Moslem Travel Index (GMTI).
"Standar global itu bisa membandingkan posisi kita sedang berada di mana. Selain itu, mengenai kelemahan dan kelebihan kita. Sebab, kita bisa menentukan dengan cepat titik mana yang urgent disentuh. Akhirnya kita bisa memenangi pertarungan," katanya.
Potensi wisata halal Indonesia makin diakui dunia ketika menyabet tiga penghargaan pada World Halal Tourism Award 2015 di Abu Dhabi. Lalu pada 2016, Indonesia menyabet 12 dari 16 penghargaan, masih dalam ajang yang sama.
Kemenpar menargetkan tiga juta wisman muslim. Sebelumnya, pada 2016 ada 2,7 juta wisman muslim yang telah mengunjungi Tanah Air.
"Tahun 2019, kami targetkan lima juta wisatawan muslim dan menjadi nomor satu di dunia untuk wisata halal," tegasnya. (adv/adv)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Melawai Plaza: Markas Perhiasan Jakarta yang Melegenda Itu Tak Lagi Sama