Setelah 20 menit beristirahat, pesawat meninggalkan bandara Hasanudin Makassar yang kemudian menuju Kota Palu. Satu jam mengudara, pesawat perlahan lahan bergerak turun dari ketinggiannya. Perlahan- lahan bukit dan gunung yang membentengi kota Palu mulai tampak, begitupun Teluk Palu yang menjorok ke arah ibu kota sedikit demi sedikit mulai memperlihatkan pesonanya.
Pukul 17.15 Waktu Indonesia bagian tengah, roda si burung besipun menyentuh landasan terbang dan mendarat dengan sempurna di Bandara Mutiara, Palu. Kedatangan kami di Kota Palu disambut dengan lembayung senja di ufuk barat. Kota Palu bukanlah kota metropolitan seperti Jakarta, Bandung, Surabaya ataupun ibu kota propinsi tetangga, Makassar. Kota ini begitu lengang, tak ada kemacetan dan tak ada kebisingan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suasana di daerah ini juga sangat sepi ketika malam tiba sehingga tidak banyak momen-momen yang bisa diabadikan. Selain sepi, fasilitas penerangan di sepanjang jalan yang juga merupakan jalur trans-sulawesi ini cukup minim sehingga cukup rawan untuk dilintasi kendaraan pada malam hari. Pukul 20.00 waktu setempat kami tiba di Donggala dan bermalam di salah satu penginapan sederhana namun nyaman yang ada di pesisir pantai Tanjung Karang.
Kami sudah tidak sabar ingin menikmati 14 hari petualangan di Sulawesi Tengah
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Bandara Mencekam, Penumpang Panik-Ketakutan Saat Bos Kartel Tewas
Masjid Jamkaran dan Bendera Merah Balas Dendam
Daftar Negara Teraman Andai Terjadi Perang Dunia III, Ada Indonesia?