MAβRUF, SANG PERAWAT TUGU PERBATASAN RI-PNG
Waktu telah menunjukkan pukul dua siang waktu setempat.Β Walau mulai sedikit mendung, namun cuaca saat itu masih cukup cerah.Β Hari itu, Rabu, 13 Oktober 2010, kami β saya, Erwin dan bang Leo tiba di sebuah taman yang masih masuk kawasan Taman Nasional Wasur.Β Taman yang di dalamnya terdapat Tugu Perbatasan RI-PNG. Inilah Taman Tugu Perbatasan RI-PNG di Distrik Sota, Kab. Merauke.
Walaupun kecil dan terletak di ujung timur Indonesia, namun tempat ini cukup tertata dengan baik. Beberapa tanaman bunga, buah serta sayuran ditata sedemikian rupa sehingga terlihat asri. Yang menarik taman ini di dominasi oleh nuansa merah putih. Mulai dari bangku, pagar tanaman, Honai β bangunan tradisional khas Papua yang berbentuk bulat, hingga tulisan-tulisan yang membangkitkan patriotisme. Sebuah Mosamus β istana atau rumah rayap yang berada di dalamnya menambah kekhasan taman ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang pria berseragam polisi berusia sekitar 40 tahun nampak sedang menyapu taman saat kami tiba. Kedatangan kami disambutnya dengan ramah. Maβruf Suroto, demikian nama pria kelahiran Nabire keturunan Jawa ini. Beliau inilah yang ternyata telah merawat taman ini sejak tahun 2004 silam.
Bersama Pak Maβruf, kami berjalan-jalan di taman tersebut. Beliau mulai menjelaskan kepada mengenai sejarah berdirinya taman ini. Menurutnya dulu sebelum tahun 2004 kawasan sekitar tugu ini tidak terawat dan banyak ditumbuhi semak belukar. Padahal menurutnya ini adalah titik penting negara kita. Saat itu jiwanya pun terpanggil. Atas inisiatif sendiri sedikit demi sedikit kawasan sekitar tugu ini di rapihkannya. Walaupun ia mengetahui tidak akan ada gaji lebih untuk apa yang dilakukannya itu. βDulu saya merasa sedih melihat tempat ini...β kata Pak Maβruf mulai bercerita.
β...karenanya mulai tahun 2004, atas inisiatif sendiri saya mulai merapihkan kawasan ini,β lanjut Pak Maβruf.
Menurut Pak Maβruf, setiap pagi sebelum bertugas di Polsek Sota, ia menyempatkan diri untuk membersihkan tempat ini. Polsek Sota sendiri merupakan tempatnya bertugas sekaligus tinggal sejak tahun 1993. Hal tersebut terus dilakukannya hingga kini. Sedikit demi sedikit ia merapihkan taman tersebut. Hingga akhirnya menjadi sebuah taman kecil yang cukup asri.
Walaupun beberapa temannya sempat mencomoohkannya. Menurut mereka buat ia melakukannya karena tidak ada tambahan gaji yang akan didapatkannya. Namun, Pak Maβruf yang hanya seoran polisi umum ini pantang menyerah. Walaupaun hanya polisi pangkat rendahan, panggilan jiwanya begitu kuat. Baginya ini juga merupakan tugas negara. Kini justru sebaliknya, mereka semua bangga dengan apa yang dilakukannya.
βKami yang tinggal sangat jauh dari ibukota negara sangat merasakan, kalau bukan kita sendiri yang menjaga negeri ini siapa lagi?,β kata Pak Maβruf berapi-api.
βSekeliling tempat ini sengaja saya cat warna merah putih serta di beberapa tempat ada tulisan-tulisan yang membangkitkan jiwa nasionalisme,β lanjutnya lagi.
Jika kita lihat memang di sekeliling tempat tersebut ada beberapa tulisan yang isinya akan membangkitkan jiwa nasionalisme kita. Terlebih karena lokasinya berada di perbatasan negara, ujung timur Indonesia. Suasana yang sunyi dengan hutan disekelilingya akan mengusik jiwa patriotik kita.
Saat itu ada satu hal yang sempat mengusik saya untuk bertanya. Kenapa sebuah tiang bendera yang berada di tengah-tengah taman dan panjangnya sekitar 10 meter hanya di pasang bendera berukuran kecil. Jadi tidak terlalu kelihatan jika di lihat dari jauh. Bahkan dari sekitar taman pun tidak terlalu jelas terlihat. Satu hal yang menarikΒ dan membuat saya terkejut adalah cerita dibalik tiang bendera ini. Menurut pria kelahiran tahun 1967 ini, dulu tiangnya hanya berupa kayu setinggi lima meter. Tiang bendera kayu itu katanya baru diganti tahun 2009 lalu.
βTiang bendera ini baru didirikan tahun 2009 lalu, dulunya hanya berupa kayu setinggi 5 meter,β kata Pak Maβruf menjelaskannya kepada kami.
Β βDan sebelumnya pernah dipasang bendera yang berukuran besar, namun robek karena tidak kuat dengan tiupan angin,β kata Pak Maβruf lagi.
βRencananya tiang ini akan di pendekkan dan kemudian dipasang bendera yang lebih besar,β lanjutnya lagi.
Lepas dari cerita itu semua, kiniΒ taman tersebut, telah menjadi salah satu tempat yang kerap dikunjungi masyarakat. Setiap akhir pekan atau libur, tempat ini selalu ramai. Pada hari-hari tesebut istri Pak Maβruf biasanya berjualan makanan. Banyak masyarakat menjadikan taman ini untuk berkumpul mengadakan berbagai acara. Dengan harapan siapapun yang datang ke tempat ini akan mengetahui dan merasakan betapa pentingnya persatuan dan kesatuan untuk menjaga kedaulatan negeri ini. Semoga semangat merah putih yang ada pada diri pak Maβruf yang tersebar di taman ini dapat merasuk ke jiwa kita.
Jika anda pergiΒ ke Merauke,Β jangan pernah lupakan untuk berkunjung ke Tugu Perbatasan RI-PNG. Karena disinilah titik ujung timur dari nusantara. (Harley Bayu Sastha/Harley Bayu Sastha)












































Komentar Terbanyak
Jokowi Klaim Tak Tahu Ada Ritual Injak Kepala Kerbau, PDIP Tidak Percaya
PDIP Vs PSI Soal Jokowi Jalani Ritual Injak Kepala Kerbau di Lampung
Di Lampung, Jokowi Jalani Tradisi Injak Kepala Kerbau