Melihat Lumba-lumba di Teluk Kiluan

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Melihat Lumba-lumba di Teluk Kiluan

- detikTravel
Senin, 31 Jan 2011 13:50 WIB
Lampung - Perjalanan 16 jam dari Tanjung enim ke Kiluan hanya ingin melihat sentuhan Tuhan di teluk Kiluan sungguh tak terlupakan.

Kurang lebih membutuhkan waktu enam jam lamanya melalui jalan darat untuk mencapai Ekowisata Teluk Kiluan yang terletak di koordinat S5.749252 E105.192740 dari arah Pelabuhan Bakaehuni, atau kurang lebih sekitar 80 km dari Kota Bandar lampung. Dari Bakaeuhuni kita bisa mengikuti jalur lintas timur Sumatera sampai dengan pertigaan arah Pelabuhan Panjang. Kemudian ambil jalur Pelabuhan Panjang, terus ke arah Lempasing, Mutun dan diujung jalur ini kita akan ketemu Teluk Kiluan. Namun sebelum sampai ke teluk ini, perlu perjuangan ekstra keras, karena tidak semua jalur yang kita lalui beraspal.

Siang itu sekitar pukul 11.00, kami sampai di sana. setelah sekitar satu jam istirahat di rumah pak maimun kami langsung menuju pulau pribadi nya pak mainun. walaupun di pulau itu sudah rumah dan pondok, kami masih tetap mendirikan tenda. karena bagi kami tenda adalah simbol kekeluargaan di alam setelah rokok.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebetulnya banyak legenda yang bercerita tentang Kiluan, tapi ada satu legenda yang sampai sekarang masih beredar dan dipercaya oleh masyarakat sekitar. Legenda berawal saat era mulai runtuhnya Kerajaan Majapahit dan Islam masuk Indonesia. Di kawasan yang awalnya umbul atau perlambangan masyarakat Pekon Bawang, dikenal seorang pendatang yang sangat tinggi kesaktiannya. Dia bernama Raden Mas Arya yang berasal dari daerah Banten atau Malaka. Karena kesaktiannya yang belum terkalahkan, dia bisa tahu kapan ajalnya akan tiba.

Suatu hari Raden Mas Arya ditantang tanding oleh seorang warga setempat. Sang penantang ini adalah seorang guru silat dari Kotaagung, Tanggamus. Karena tahu ajalnya akan tiba ditangan Sang Penantangnya, Raden Mas Arya meminta dimakamkan di suatu pulau yang ditunjuknya. Karena itu pulau tempat dimakamkannya Raden Mas Arya dinamakan dengan Kiluan ( bahasa lampung ) yang artinya adalah meminta. Legenda ini dikuatkan dengan adanya semacam tumpukan batu ( mirip makam ) di puncak ketinggian Pulau Kiluan.

Tidak hanya menikmati keindahan Kiluan, kami juga menikmati tarian lumba-lumba. untuk mencapai tempat lumba-lumba itu kami masih harus naik perahu duapuluh menit ke arah tengah Samudera dari Pulau Kiluan. Setidaknya ada dua jenis lumba-lumba di perairan ini, spesies pertama adalah lumba-lumba hidung botol ( Tursiops Truncatus ) dengan badan yang lebih besar dan pemalu. Spesies yang kedua adalah lumba-lumba paruh panjang ( Stenella Longirostris ) yang bertubuh lebih kecil dan senang melompat.

Gambar-gambar ini akan menceritakan perjalanan kami gelak tawa, canda ceria hingga sampai ujung waktu. Maaf buat teman-teman yg gambarnya saya ambil secara diam-diam. (gst/gst)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads