Di tengah ruang shalat, Empat tiang penopang yang dipadukan ukiran lafadz hamdallah dengan warna hijau tosca, warna ini sekarang susah sekali ditemukan. Perpaduan warna hijau dan biru laut, terlihat begitu indah. Dari segi konstruksi, terlihat jelas langgam arsitektur Eropa. Ini tampak dari penggunaan kuda-kuda segitiga pada interior atap tajugnya Hal lain yang menarik dari bangunan ini adalah lampu gantung bergaya Eropa klasik, yang menggayut di tengah langit-langit ruang utama tempat shalat.Ciri khas arsitektur Eropa yang mementingkan view,akan terlihat jelas dari arah jalan Sastra di depannya yang penuh dengan pepohonan rindang. Pemandangan bangunan masjid yang terbingkai indah dengan rimbunnya pepohonan, menjadi pemandangan yang sungguh luar biasa.
Arsitekturnya orang Belanda
Secara fisik, pengaruh Eropa terlihat dalam arsitektur Mesjid ini. Dia adalah pria asal Belanda. Profesor Kemal Wolf Schoemaker merupakan arsitek kenamaan Belanda yang merancang bangunan hotel Preanger dan Villa Isola. Dalam rancangannya, Schoemaker menggabungkan konstruksi bangunan dan lampu gantung di tengah masjid yang bergaya Eropa. Dia juga memasukkan unsur-unsur etnik Jawa dan Arab pada interior bangunan masjid ini. Ornamen jawa terlihat pada ukiran-ukiran tembok yang berbentuk bunga atau sulur-sulur, sedangkan unsur arab terlihat dari dekorasi kaligrafi yang menghiasi masjid ini.Mesjid ini didiorikan atas anjuran bupati Bandung R.A.A Hasan Soemadipraja . Kemudian Pada tanggal 7 Februari 1933 ini mesjid ini dibangun. Salah satu fungsinya, adalah tempat peribadatan bagi ujmat Islam di kawasan Cipaganti Bandung. Proses pembuatan dan perencanaan terlihat dalam catatan yang berada di salah satu tembok mesjid tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seiring perkembangan jaman, kini lingkungan Mesjid yang dulunya tenang, kini semakin ramai. Pelbagai bentuk kuliner berada beberapa meter dari Mesjid yang berada di jalan Cipaganti ini. Mulai dari martabak, sop buah, Bakso Malang hingga Iga Panggang. Jika malam hari berderet deret mobil hingga ke depan Mesjid. Nah jika berada di jalan Cipaganti, dan seusai menikmati makanan di kawasan tersebut, mampirlah sejenak dan merasakan kehangatan di Mesjid tersebut..
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Saat Gibran Ikut Memikul Salib Paskah di Kupang
Setuju Nggak, Orang-orang Jepang Paling Sopan?
Bayangkan Hidup Tanpa Matahari: Kisah Desa dengan Hujan 'Abadi'