Konon, Desa Bawomataluo sudah ada sejak jaman Megalitikum atau jaman batu besar. Buktinya adalah sebuah bangunan kuno berupa rumah adat raja Nias yang sekarang menjadi tempat tinggal dari keturunan ke-empat dari raja Nias. Selain itu ada juga balai musyawarah yang seluruh tempat duduknya terbuat dari bebatuan. Semua rumah penduduk Desa Bawomataluo mempunyai keseragaman, semuanya mempunyai bentuk yang sama, pondasinya terbuat dari kayu, dan atap rumahnya terbuat dari rumbia.
Dahulu semua penduduk Desa Bawomataluo menganut ajaran animisme, dimana orang-orang menyembah patung-patung. Buktinya masih ada patung-patung sesembahan yang berupa harimau dan patung seperti manusia yang dipercayai sebagai dewa. Seluruh peninggalan patung tersebut sekarang disimpan di Museum Nias. Ketika ajaran agama Protestan memasuki wilayah Nias pada abad ke-19, perlahan-lahan penduduk Desa Bawomataluo memeluk agama Protestan. Hal ini dibuktikan dengan adanya bangunan gereja tua yang didirikan pada awal abad ke-19 di Desa Bawomataluo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain bangunan-bangunan kuno, Desa Bawomataluo juga mempunyai sebuah meriam Belanda yang posisinya tidak pernah berpindah tempat, yaitu di depan balai musyawarah. Di dekat meriam Belanda itu, terdapat beberapa batu yang panjangnya sekitar 10 meter. Batu-batu itu permukaannya rata dan berwarna hitam sehingga terlihat unik. Konon, batu panjang itu adalah tempat duduk raja Nias ketika menyampaikan sesuatu kepada rakyatnya. Namun setelah agama Protestan masuk Desa Bawomataluo, batu panjang itu bisa diduduki siapa saja.
Di Desa Bawomataluo juga terdapat batu istimewa yang berukuran panjang 90 cm, lebar 60 cm, dan tinggi 2 meter. Batu itu digunakan sebagai alat untuk menguji kekuatan fisik lelaki Nias sebelum ia dianggap dewasa dan diperbolehkan menjadi prajurit raja Nias. Bagi penduduk Desa Bawomataluo, melompati batu tersebut adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan. Keluarga anak lelaki yang bisa melompati batu tersebut sering melakukan acara-acara besar seperti memotong ayam atau kambing. Sekarang tradisi lompat batu yang disebut Hombo Batu ini diadakan setiap hari Sabtu.
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong