Menggelandang Di Kota Gudeg
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Menggelandang Di Kota Gudeg

- detikTravel
Selasa, 08 Nov 2011 02:41 WIB
Indonesia, DI Yogyakarta, Yogyakarta -

Sebelum malam Natal yaitu pada tanggal 24 Desember sekitar tahun 2009, berangkatlah kami dengan membawa uang disaku masing-masing sekitar 200 ribu rupiah.

Untuk keberangkatan, kami menggunakan jasa transport kereta api ekonomi station Rancaekek. Suasana amat dingin karena sebelumnya Bandung diguyur hujan dan mengakibatkan jalan menuju station tergenang air.

Dengan tiket seharga Rp.26.000,00 kami dapat sampai ke Jogja. Pada saat itu karena melihat suasana station yang nampak lengang,pemikiran kami kereta ekonomi yang akan membawa kami ke Jogja akan kosong.

Tapiiiiiiiiiiiiiiiiii......

Tidak pada kenyataannya, saat kereta datang, kami kebingungan mencari gerbong yang sekiranya dapat kami tumpangi. Saat salah satu teman kami (Fathir) menemukan gerbong yang (berharap) cukup untuk kami ia pun naik gerbong kereta api yang lumayan tinggi pijakan kakinya, namun ia masih tertahan di depan pintu. Dan ternyata didalam gerbong itu masih disesaki oleh para pedagang yang ikut mencari nafkah tetapi (jujur saja) mengganggu penumpang yang lain.

Setelah berusaha berdesak desakan untuk masuk ke dalam gerbong, selanjutnya Iqbal naik ke atas gerbong yang cukup tinggi itu, namun tetap terhanti didepan pintu, saat sedang berusaha naik, Jhoni yang memiliki postur tubuh lebih subur berusaha menaiki gerbong yang pijakan kakinya tinggi itu (dengan susah payah) dan saya (Oky) masih menunggu dibawah dengan tidak sabar karena takut kereta akan segera diberangkatkan.

Benar saja, suara khas kereta untuk memberi tahu kalau kereta akan berangkat berbunyi (tuuutttt..tuuuttttttt). Dan Jhoni masih berusaha untuk manaiki kereta.

Karena takut tertinggal saya lompat ke pintu lain dari kereta tepat disamping pintu Jhoni berusaha naik. Ternyata itu gerbong yang berbeda. Awalnya saya berdiri didepan pintu kereta, lalu saya melihat seorang anak kecil yang berdiri di WC kereta sendirian. Karena penuh sesak dan di WC itu hanya ada seorang anak kecil dengan sigap saya memasuki WC itu di temani oleh anak kecil tadi.

Saat sedang berbincang-bincang, datang seorang laki-laki melihat kami yang sedang ada di WC lalu pergi lagi, tapi tidak lama lelaki itu bertanya kepada saya, "Mas, penuh ya?". Saya pun menjawab "iya, penuh mas". Lalu ia pergi lagi. Tidak lama ia pun kembali lagi dan berkata "Mas, tolong sebentar mas, saya udah ga tahan".

Muncul pertanyaan ambigu dalam benak (waduh, mau macem-macem nih orang). Dengan bingung saya bertanya"kenapa Mas?"

"Saya ga kuat mau buang air besar, pijam WC'nya sebentar."

Yah, kenyamanan saya dan anak kecil itu pun menjadi terganggu. Kembali saya berdiri di depan pintu WC dengan membawa Daypack didepan.

Tak lama pria tadi membuka pintu WC dan nampak muka ceria karena terbebas dari beban berat diperutnya. Melihat suasana yang teramat sesak saya kembali masuk ke dalam WC.

Awalnya hanya saya dan pria yang tadi "mengebom" WC kereta yang berada disana. Taklama muncul lagi orang baru dengan nafas terengah ia masuk ke WC dan berkata "aduh, ga ada udara segar disana" lalu ia mengeluarkan sedikit kepalanya ke jendela WC yang tidak terhalang kaca.

Lama ia berdiri diatas kloset WC kereta tadi, tak lama ia duduk diatas kloset WC itu. Saya dan pelaku (yang tadi buang air besar) hanya melihat saja.

Perjalanan amatlah lama dan mengesalkan. Kaki saya terasa kaku karena berdiri berjam-jam. Tak lama mas-mas yang tadi buang air ikutan duduk memanjangkan kaki didalam WC. Space untuk saya duduk pun semakin berkurang.

Saya berdiri di dalam WC kereta bersama 3 orang dewasa menuju Jogjakarta, karena pegal sesekali kaki saya angkat satu dan bergantian.

6 jam perjalanan saya memposisikan badan seperti itu, setalah ada space untuk saya duduk saya langsung duduk karena jujur saya sudah tidak kuat berdiri lagi (pegeeeellllll).

Setelah perjalanan sekitar 8-9 jam dari Station Rancaekek sampailah kami di station Lampuyanagan Jogja. Nafas lega sangat terlihat para penumpang lain.

Saya pun segera menghubungi teman yang lain dan saat bertemu hal yang langsung mereka katakan. "Bau dari mana nih??". Saat itu saya masih terdiam.

Fatir mengusulkan untuk mencari kamar mandi untuk kita dapat membersihkan badan. Ide yang baik menurut saya.

Mandilah kita di kamar mandi umum station lampuyangan. Setelah mandi tercium bau wangi segar dari kami yang semalaman berdiri di dalam kereta.

Dari station Lampuyangan kami meneruskan perjalanan ke Gunung Kidul Untuk melihat Keindahan Pantai disana. Berangkatlah kami ke pantai.

Sepulang dari pantai, untuk menghemat budget yang kami miliki, kami menginap di salah satu sanak famili dari kami. Tidak menyia-nyiakan waktu, kami berkeliling melihat keindahan apa saja yang ada disana. Dan yang kami lihat terdapat beberapa gua di daerah gunung kidul tepatnya desa Serpeng Lor.

Disana ada gua ngingrong, gua yang paling besar di daerah sana.Lalu ada gua Seropan, dulu gua ini sangat bagus karena terdapat skalaktit berwarna putih, namun sekarang sudah tidak seindah dulu mungkin karena pengaruh suhu dan cuaca.

Setelah puas bermain ke gunung kidul kami berencana kembali ke Jogja kota untuk menikmati suasana malam Malioboro. Dengan naik bis sampailah kami di Terminal Giwangan. Lalu kami menaiki lagi Trans Jogja untuk dapat sampai ke Malioboro. Saat itu hujan lebat, dan ada kemacetan untuk arah ke MAlioboro sehingga keberangkatan tertunda 2 jam lebih lama.

Setelah lama menunggu akhirnya kami sampai juga di Malioboro. Saat itu hujan masih turun walaupun rintik-rintik. Karena sudah terlalu sore menjelang malam dan magh teman kami Iqbal sudah kambuh, karena kami belum makan. Kami pun berusaha menari penginapan disekitar Malioboro.

Bermodal perut lapar, mata mengantuk dan badan pegal kami mencari penginapan, namun pada saat itu tidak ada satu pun kamar tersedia untuk kami.

Saat itu kami berada entah dimana sampai seorang tukang becak menghampiri kami dan berkata "Cari penginapan Mas,disi ada murah, bersih."

karena lelah kami pun mengikuti tukang becak itu. Dibawanya kami ke dlam gang samapi bertemu ibu tau pemilik penginapan.

Penginapan saat itu hanya 70ribu perkamar. Mendengar harga yang murah Fatir pun mengiyakan untuk menyewa satu kamar untuk semalam, saat yang lain sedang berbicara dengan ibu tua tadi, Iqbal yang berdiri paling belakang menepuk pundak dan berkata "Ky, liat kebelakang."

Saat saya menoleh ke arah yang ditunjuk Iqbal.

Woooowwww,,para wanita dengan hot pants, wajah dilapisi bedak dan lipstick merah merona. Sejenak saya berfikir "Tempattt apaaaa Innnnniiiiiii??????"

Saat memberi tahu yang lain, Jhoni dan Fathir hanya terdiam. Lalu segera masuk ke kamar yang kami pesan.

Fatir berkata, "Ini buka penginapan, ini tempat prostitusi....!!"

Karena sudah terlanjur malam kami tetap manginap disana. Karena takut berada disana (takut tiba-tiba polisi datang) kami berencana untuk menghabiskan malam di malioboro.

Setelah lama berjalan-jalan. Lelah pun menhampiri kami, kembalilah kami tempat kami menginap. Saat memasuki gang tempat kami menginap ada plang bertuliskan "Pasar Kembang".

Wah, sudah jelas ini tempat dimana pria hidung belang dan kupu-kupu malam berkumpul.

Saat masuk ke gang, ada orang dengan badan tegap menghentikan langkah kami dan berkata "mas, isi uang kebersihan dulu."

Dalam hati berkata "Kebersihan???KOk malem malem??" Sebegitu poloskah kami???????haha

Saat melangkah Banyak bapak-bapak paruh baya berkata "Mas, cewek mas??" Dengan memalingkan wajah kami pura-pura tidak mendengar dan ingin segera sampai ke kamar.

Fiuuuuhhhh.....

Sampailah kami dikamar, dari luar terdengar riuh suara dangdut koplo, campur sari, dll.

Dan, DAMN..

Kita masih takut ma dosa kita yang udah bejibun, ga mau ditambah sama yang beginian. Untuk menanyakan arah kiblat di tempat itu saja kita tidak berani karena suasana orang mabuk, pria hidung belang dan para "kupu-kupu" sepertinya tidak mendukung.

Dipaksakannya kami tidur agar segera pagi, saat pagi tiba lagu dangdut koplo yang tadi terdengar berganti dengan lagu tombo ati dari Opick.

Kami segera packing dan bergegas meninggalkan tempat itu. Sebenarnya masih banyak tempat yang belum kami datangi, seperti museum, taman sari, keraton, dll. Tapi waktu dan keterbatasan dana yang mengharuskan kami segera pulan ke Kota Kembang.

Kami pun pulang menggunakan bus terakhir di Terminal kecil yang saya lupa namanya menuju Bandung untuk melaksanakan kegiatan hari-hari kami.
(gst/gst)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads