Rawaseneng terletak sekitar 14 km di sebelah utara Kota Temanggung,Jawa Tengah. Merupakan tempat tinggal para biarawan/biarawati trapist yang memiliki misi doa dan kerja tangan. Dengan misi sosial menghidupi perekonomian masyarakat sekitar, mengelola perkebunan kopi sebagai garapan utama. Sekitar 137 ha -dari total 178 tanah milik pertapaan- ditanami kopi jenis Robusta. Ada tambahan tanaman lain seperti Pisang Raja, Ketumbar, Dilem, dan pohon-pohon peneduh yang secara berkala ditebang untuk diambil kayunya. Maka dari perkebunan ini dikembangkan juga usaha pertukangan.
Saat ini ada 130 sapi yang dikelola pertapaan. Delapan puluh betinanya sudah bisa diambil susunya. Selebihnya adalah sapi anak-anak, remaja, dan 3 pejantan. Selain dijual, susu hasil perahan sapi di pertapaan ini juga dimanfaatkan untuk membuat roti dan keju sebagai campuran bahan roti. Roti produksi industri pertapaan ini dikirim ke pasar lokal maupun ke kota lain, bahkan ke Jakarta.
Ada ternak babi pula. Sisa pakan yang ada dimanfaatkan pula bersama sejumlah komponen lain βtermasuk kotoran walet disatukan dan diproses menjadi pupuk organik. Pupuk tidak dipasarkan namun dimanfaatkan untuk keperluan perkebunan. Pembuatan pupuk ini dapat mengurangi ongkos produksi. Pupuk juga dimanfaatkan untuk pemupukan bibit tanaman hias yang sedang dikembangkan para frater Ordo Trappist. Pembibitan tanaman dilakukan untuk memanfaatkan ruang-ruang yang tersisa.
Untuk memenuhi kebutuhan listrik, Biara Trappist Rawaseneng ini mengolah sendiri pembangkit listrik dengan dua turbin yang mereka miliki. Tidak seluruhnya, sebagian masih mengambil dari PLN. Sumber air yang melimpah dari hutan kecil perkebunan kopi juga dimanfaatkan untuk kebutuhan air pertapaan dan warga sekitar.
(gst/gst)
Komentar Terbanyak
Ada Gerbong Khusus Merokok di Kereta, Kamu Setuju?
Terpopuler: Dedi Mulyadi Terancam Dicopot, Ini Penjelasan DPRD Jabar
Bisa-bisanya Anggota DPR Usulkan Gerbong Rokok di Kereta