Catatan Perempuan Seribu Sungai

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Catatan Perempuan Seribu Sungai

- detikTravel
Rabu, 22 Feb 2012 12:57 WIB
Indonesia, Kalimantan Selatan, Banjarmasin - Satu persatu kayuhan jukung itu menyusur sisi sungai mencari arus yg cukup tenang untuk dilalui…perempuan paroh baya itu menjajakan dagangannya dari rumah ke rumah dan lanting di pesisir sungai…sebelum subuh ia sudah mengayuh jukungnya menuju pasar dan berbelanja barang untuk dijualnya ke daerah pelosok-pelosok yg sulit dijangkau dg jalan darat…arus sungai martapura pagi itu cukup bersahabat hingga arus itu mengalirkan aliran air ke anak2 sungainya…ayunan kayuhnya anggun bersahaja menyapa wajah air yang memantulkan cahaya fajar…
dari fajar ia terus mengayuh jukungnya dari sungai gampa hingga sungai pasar lama dan kembali lagi ke sungai gampa memenuhi kebutuhan warga yg setiap hari menanti kehadiran jukungnya…
pengasilannya tak seberapa jika dibanding otot2 tangan yg terus bekerja dan terik mentari kala siang menyapa wajah air dan membuat silau matanya…dari fajar hingga menjelang sore baru ia pulang..wajahnya coklat terbakar matahari…rupiah yg dikumpulkannya ia gunakan untuk membiayayi anaknya yg kini sudah duduk di bangku sekolah menengah atas…anak lelakinya pun diajarkan kegigihan…mengayuh jukung setiap pagi…mengalahkan rasa malu krn harus naik jukung pergi ke sekolah yg letaknya di Kota Banjarmasin yg remajanya terkenal memiliki gengsi tinggi…ya..ya..ya..anak lelaki dan ibunya si penjaja berjukung itu pun masih tinggal di wilayah administrasi Kota Banjarmasin…bukan daerah pedalaman sprti yg kita pikirkan…
sebuah ironi pembangunan…sungai gampa…desa tertinggal di wilayah kecamatan banjarmasin utara yg notabena adalah pusat konsentrasi penduduk dan bisnis properti…tapi justru desa ini yg memberikan warna berbeda dr kota kumuh ini bagiku…keasliannya…inilah sisa sisa budaya sungai dari kotaku..yg dipandang oleh pembangunan sebagai bentuk β€˜ketertinggalan’. di desa itu ada sebuah sekolah dasar yg murid2nya sangat antusias belajar…setiap pagi murid2 itu menyambut gembira para guru yg selalu terlambat datang mengajar karna sulitnya lokasi sekolah tersebut di lalui…jika dr jalan raya utama mungkin hanya sejauh tiga kilo meter tp waktu tempuhnya bisa mencapai lebih dari setengah jam krn jaland darat yg hanya berupa jalan setapak yg becek dan berlubang lubang…penduduk desa ini lebih memiliih menggunakan jalur sungai yg lebih efisien..begitu pula para guru yg sebagian besar berasal dari daerah di luar desa ini…
Aku hanyut dalam sambutan megah murid-murid Skolah Dasar Ngeri Banua anyar 9 Sungai Sampa….begitu antusias mereka belajar…berjuta semangat kehidupan aku temukan di tempat ini…semangat untuk maju dan mendapatkan penghidupan yg layak seperti tetangga mereka lainnya yg masih berada dalam satu kelurahan, Banua Anyar…
ini potret negeriku…ini kehidupan kotaku..kota kumuh yg masih menyisakan beribu pengaharapan banyak warga yg merindukan kilau seribu sungainya…

(gst/gst)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads