Setelah berakhirnya masa panen yang biasanya jatuh pada medio atau akhir Pebruari setiap tahunnya, Masyarakat Adat Wehea akan segera memasuki berbagai ritual penuh makna yang terangkum dalam sebuah prosesi adat yang cukup panjang sekitar 1,5 bulan.
Proses adat Lom Plai yang merupakan alur dari semua pesta panen yang dilaksanakan dalam masyarakat Wehea merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan satu sama lainnya.
Ledjie Taq, kepala adat Desa Nehas Liah Bing berpandangan, bahwa apabila satu ritiual adat terputus, maka akan menghilangkan satu makna dari Lom Plai itu sendiri.
Sementara itu, kepala adat Desa Dea Beq, Tleang Lung juga berpendapat serupa. Ada beberapa desa yang saat ini tidak menjalankan ritual yang lengkap lagi, karena beberapa kondisi dari masa lalu, misalnya pindah kampung, atau ada sesuatu hal yang sangat besar terjadi, tanpa diungkapkan apa maksudnya.
Laq Pesyai adalah sebuah ritual pembuka bagi kesuluruhan proses Lom Plai, setelah ritual paluhan gong pertama yang dilakukan sehari sebelumnya.
Pada pagi hari, menggunakan perahu, hampir seluruh warga mulai turun ke sungai untuk menuju bagian hulu sungai Wehea, sekitar 4-5 rantau (tanjung). Lokasi upacara juga tidak bisa sembarangan, tetapi telah ditentukan sehari sebelumnya, sore hari setelah paluhan gong di pagi hari.
Kaum laki-laki, akan berangkat terlebih dahulu untuk mencari lokasi yang telah ditentukan, kemudian bergotong-royong dalam membersihkan tempat dan sekaligus juga mendirikan jengeah (pondok) sebagai tempat istirahat dan makan bersama, serta menyiapkan tempat untuk membakar pluq (lemang).
Rombongan kedua biasanya diikuti oleh kaum perempauan dan laki-laki yang membawa perlengkapan masak beserta bahan-bahan untuk pesta satu kampung tersebut. Keriuhan suasana akan langsung tertangkap ketika kita tiba di lokasi acara. Pembagian tugas berjalan alami tanpa adanya komando, siapa yang mencari kayu bakar, siapa yang mencuci beras ketan, menyiapkan lauk dan sambal psooh (sambal khas Wehea yang sangat lezat), siapa yang mencari bambu untuk tempat gantungan pengsut (hiasan dari rautan kayu), siapa yang mencari rotan dan pesyai, dan lain-lain. Tanpa perlu koordinasi, seluruh warga berusaha mengambil dan memainkan perannya masing-masing.
Suasana semakin ramai menjelang siang. Anak-anak sekolah langsung bergabung ketika usai sekolah. Belum lagi para tamu dari luar kampung yang berdatangan untuk meramaikan suasana.
Terlihat juga, para lelaki bergotong-royong merangkaikan rakit (pekhet heluq) di tepi sungai sebagai sarana untuk kembali ke kampung pada sore hari. Luar biasa dan sangat menarik melihat peran dari masing-masing warga.
Ketika waktu makan siang tiba, semua orang akan berkumpul diatas jengeah untuk menikmati santapan secara bersama. Pluq dibuka, lauk dibagikan, bungkusan nasi dalam daun pisang juga tidak ketinggalan. Semuanya menyantap hidangan dengan penuh kebersamaan. Bersama dalam berbagi, bersama dalam keceriaan, bersama karena bahagia bahwa panen telah selesai dan berhasil.
Kesibukan lebih besar akan mulai tampak ketika selesainya makan siang. Teriakan-teriakan khas Wehea semakin sering terdengar. Berbagai perlengkapan memasak langsung disimpun untuk dibawa pulang menggunakan perahu. Tidak boleh ada yang tertinggal, termasuk anak-anak kecil yang belum bisa berenang dan para orang tua laki-laki dan perempuan.
Pekhet Heluq
Kini tiba waktunya untuk mengarungi sungai Wehea menggunakan rakit. Semua perahu disekitar tempat upacara segera dikosongkan alias bersih dan dibawa kembali ke kampung. Yang tertinggal hanyalah sebuah rakit pesar dan ratusan orang berkumpul untuk mulai terjun ke sungai.
Teriakan-teriakan khas semakin keras, memerintahkan semua orang tersisa agar segera turun. Prosesi siram-siraman mengiringi langkah warga turun ke rakit yang tersedia maupun yang terjun ke sungai.
Perlahan tali pengikat dilepaskan, rakit dirongkan ke tengah sungai, orang-orang terlihat berenang menggapai rakit. Sedangkan diatas rakit, puluhan, bahkan bisa ratusan orang naik dan saling mendorong dan melempar untuk menceburkan sesamanya ke sungai. Ada yang berjaga agar dua tiang menyilang tempat berkibarnya Jieyea (bendera kebesaran dengan motif Wehea – Harimau gaib).
Suasana sangat ramai. Bagi yang tidak bisa menaiki rakit berusaha tetap mengapung dan mencari batang-batang kayu yang terapung untuk berenang menuju kampung. Beberapa perahu khusus disiapkan bagi yang tidak mampu lagi untuk berenang. Ada juga yang berenang kembali ke tepi sungai untuk mencari batang pisang.
Sangat luar biasa suasananya, keriuhan terdengar sepanjang sungai. Saling melempar dan menceburkan terus terjadi, tidak boleh ada yang marah pada saat ritual tersebut, karena ini adalah sebuah ritual untuk berbagi kebahagiaan bersama.
Sekitar 2 jam setelah tali pengikat rakit mulai dilepaskan, tampak terlihat ratusan manusia lainnya memadati tepian sungai di belakang kampung. Semuanya menonton atraksi tersebut. Suasana ramai mencapai pincaknya, teriakan-teriakan membahana dari atas perahu maupun yang menonton di tepi kampung juga saling bersahutan.
Tampak beberapa perahu terlihat dibagian hilir kampung, berjaga untuk menahan lajunya rakit dan nanti akan mendorongnya menuju ke tepi sungai yang telah ditentukan. Setelah benar-benar berada dekat kampung, para penumpang rakit tersebut beramai-ramai terjun ke sungai untuk berenang ke tepi sungai, sebuah atraksi lain yang dapat kita nikmati.
Akhirnya rakitpun ditepikan, diikat pada sebatang pohon ditepi sungai, rotan-rotan yang sebelumnya diikat pada rakit langsung dibongkar untuk persiapan acara besok pagi. Setelah naik ke kampung, prosesi lanjutan berupa siram-siraman kembali dilakukan sambil kembali menuju rumah masing-masing warga.
Laq Pesyai We Min & Duq Min
Keesokan hari setelah pekhet heluq, ketika fajar menyingsing, kesibukan kembali terasa. Warga di bagian hulu kampung bergotong-royong menarik rotan dan menyambungnya untuk diikat pada sepanjang jalanan kampung di bagian hulu. Batas antara bagian hulu dan hilir adalah rumah raja.
Setelah rotan terpasang, para ibu dan kaum remaja mulai sibuk memasang berbagai hiasan pada sepanjang tali rotan. Ada yang memasang pesyai, ada yang mengikat padi, dan hasil panen lainnya, ada yang menggantungkan lemang dan beang bit, pengsut dan lain-lain.
Pada setiap teras rumah, biasanya telah tersedia hidangan khas Wehea termasuk minumannya, mulai dari kopi dan teh hingga tuak, mulai dari nasi dalam ketupat segitiga, lemang dan lain-lain. Berbagai hidangan tersebut memang sengaja disiapkan bagi seluruh warga selama bergotong-royong. Bagi anda yang datang dari jauh, tidak perlu khawatir kelaparan, karena ketika mulai ritual tersebut, siapapun tanpa ada larangan boleh menyantap berbagai hidangan tersebut yang selalu disiapkan bukan didalam rumah, tetapi di pelataran/teras rumah atau bahkan diatas tikar rotan depan halaman rumah.
Menjelang siang, setelah semua ritual pada pagi hari selesai, menggunakan pakaian adat, ratusan orang warga kembali untuk memulai ritual lainnya, yaitu memindahkan tali rotan dari tepi jalanan kampung ke tepi sungai. Untuk ikatan rotan bagian hulu kampung, akan dipasang pada tepi sungai dibagian hilir kampung dan sebaliknya.
Setelah semuanya rotan terpasang di tepi sungai, seluruh warga akan kembali pada kesibukan keseharian mereka untuk menatap dan mempersiapkan prosesi lanjutan selama 1,5 bulan kedepan.
Akhirnya, setelah prosesi Laq Pesyai, semua prosesi akan memasuki masa tenang yang disebut Naq Heyang selama 3 hari, terkecuali ritual Nluei, yaitu sebuah ritual berdoa bersama dengan mengucapkan mantra semalam suntuk yang dimulai sekitar pukul 9 malam hingga menjelang fajar sekitar pukul 5 pagi.
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Adzan Menggema di London, Ini Sudut Paling Menggetarkan Hati Muslim di Whitechapel
3 Hari Festival Songkran, 95 Orang Meninggal
Investor Gugat Pemprov Bali soal Lift Kaca Kelingking, Koster Merespons