SEMESTINYA untuk memenuhi urusan perut tidaklah menjadi hal yang sulit di 'Negeri Tirai Bambu' khususnya di Wuhan, Provinsi Hubei, yang terletak di China bagian tengah. Mengapa? Karena China masih di Asia juga. Selain itu, mestinya dalam hal rasa, porsi, dan aroma, masakan China tidaklah terlalu jauh berbeda dengan masakan Indonesia.
Kenyataannya tidak demikian. Entah mengapa, karena urusan makanan ini, saya merasa 'makin jauh' dari Tanah Air. Padahal tadinya saya merasa dekat karena setidaknya apa pun yang saya makan, saya tetap akan merasa seperti berada di Glodok.
Soal rasa, lidah juga kurang terbiasa dengan makanan lokal. Ada rasa asam hingga kecut. Kalau pedas, pedasnya tanggung. Selain itu, hidangan sayur di sini dimasak setengah matang. Itu membuat kita harus mengeluarkan energi ekstra untuk mengunyahnya.
Contohnya sayur tumisan yang berbahan wortel, kacang panjang, petai cina, dan baby kol. Selain setengah matang, rasanya juga asam dan asin.
Yang membuat saya terkaget-kaget, porsi makan di sini juga besar sekali. Rekan seprofesi di sini yang memesan nasi goreng sampai terkaget-kaget melihat ukuran porsinya. "Porsinya super-superjumbo," mengutip ucapan rekan seprofesi saya itu.
Piring yang biasa terisi seperti membentuk bukit kecil. Aromanya juga membuat keinginan makan saya berkurang. Tadinya saya pikir ini lazim untuk masakan tertentu. Ternyata tidak demikian. Mulai dari sandwich dan hotdog (mereka punya makanan demikian di sini) serta mi, semuanya ternyata beraroma sama.
Saya cukup menahan napas saja saat menggigit, mengunyah, hingga menelan makanan tadi karena saya tetap harus mengisi perut.
Sempat terpikir apakah rasa hidangan di restoran franchise dari negara Barat semacam restoran berlogo badut kuning berhidung merah dan kolonel berkumis tebal juga sama dengan makanan lokal?
Saya memutuskan mencoba memesan makanan dari restoran berlogo kolonel berkumis. Restoran itu ternyata punya hidangan berbeda aroma, rasa, dan porsi dengan hidangan lokal. China tampaknya tidak memaksakan menunya masuk restoran ini.
Ayam goreng, kentang goreng, sup jagung, segala macam jus, dan kopinya membuat saya merasa dekat kembali ke Tanah Air. Belum terpikirkan bagi saya untuk mencoba hidangan restoran berlogo badut kuning berhidung merah.
Selain itu, konter kolonel berkumis juga dekat dengan penginapan. Seperti restoran cepat saji umumnya, layan antar juga tersedia.
Satu hal lagi yang membuat saya terkesima ialah sang pengantar tidak mau menerima tip. Akhirnya dengan sedikit memaksa, saya memasukkan uang tip ke kantong baju atau kotak besar yang dia bawa. Padahal saya memberi tidak sedikit. Uang tip 10 yuan (sekitar Rp15 ribu) termasuk besar. Itu bisa membeli setengah bungkus rokok. Hal yang tidak saya temukan di Tanah Air. Beberapa pengantar biasanya menolak, tapi terima juga kalau dipaksa.
Jadi, menu hidangan kolonel berkumis dan layanan antarnya sudah cukup memuaskan saya.
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Terkuak! WNA Punya Lahan di Proyek Akomodasi Wisata, Caranya Pinjam Identitas Warlok