Sesampainya di sana, kita bertanya pada penduduk setempat sembari makan siang di sebuah warung sederhana. Ya memang ada, lokasinya di dekat laut, harus menuruni tebing dan berbahaya setelah hujan. Tapi kita penasaran dan mencoba menuju ke lokasi sesuai petunjuk bapak tersebut.
Dari jalan aspal, kita bisa meninggalkan kendaraan dan berjalan sekitar 300 meter, lalu sampailah kita di atas tebing. Dari sini, kita harus menuruni tebing, tapi yang ini lebih curam dan menakutkan dari pada jalur menuju Pantai Suwehan.
Untungnya warga setempat memasang pagar dan anak tangga dari kayu yang cukup kuat. Tapi yang namanya kayu pasti bisa keropos di makan usia, jadi saya tetap takut. Di tambah lagi setelah hujan, beberapa kayu terasa licin dan harus berhati-hati.
Di tengah-tengah perjalanan, saya memutuskan untuk berhenti. Namun teman saya nekat turun dengan membawa kamera, semua barang dititipkan pada saya. Makhlum jalurnya makin curam, kalau terperosok bisa jatuh ke laut.
Setelah menunggu beberapa menit, saya mencoba melihat ke bawah. Ternyata air terjun yang di maksud ialah mata air yang jatuh ke laut. Bagus memang, tapi membutuhkan pengorbanan untuk mencapainya.
Kalau Anda berjiwa pemberani, buktikan di sini!
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Bandara Husein Sastranegara Beroperasi Lagi, Kertajati Jadi Bengkel Pesawat
PDIP Vs PSI Soal Jokowi Jalani Ritual Injak Kepala Kerbau di Lampung
Di Lampung, Jokowi Jalani Tradisi Injak Kepala Kerbau