Rote Surga Tersembunyi Yang Mulai Terkuak
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Rote Surga Tersembunyi Yang Mulai Terkuak

- detikTravel
Selasa, 11 Jun 2013 10:18 WIB
Indonesia, Nusa Tenggara Timur, Rote Ndao - Diam-diam ternyata Pulau Rote telah menjadi alternatif destinasi wisata bagi wisatawan asing. Hal ini terbukti dengan telah berdirinya bebarapa cottage terutama di Pantai Nemberala yang menjadi tempat untuk berselancar di musim angin barat atau berburu sunset. Penulispun penasaran karena walaupun telah tiga bulan tinggal di Kupang namun belum pernah menginjakkan kaki di pulau tersebut.
Kesempatan tiba di akhir bulan lalu, penulis bersama beberapa rekan kerja berhasil mencuri waktu di akhir pekan untuk berkunjung ke pulau tersebut. Hanya ada satu kali pelayaran sehari, baik menggunakan kapal cepat atau kapal feri. Kami memilih menggunakan kapal cepat karena waktu tempuh lebih singkat, sekitar 2 jam perjalanan, juga tidak bercampur baur dengan kendaraan dan barang-barang berat. Kapal berangkat pukul 08.30 WITA dan tiba di Pulau Rote pukul 10.30 WITA. Setiba di Pulau Rote, kami tinggalkan sebagian perbekalan di hotel Ricky sebelum menempuh perjalanan keliling pulau.
Tujuan pertama kami adalah taman wisata Mando'o, yaitu sebuah bukit di pantai selatan yang memiliki pemandangan luas bahkan hingga ke daratan Australia. Perjalanan ditempuh selama satu setengah jam dengan kondisi jalan kurang baik, masih berupa perkerasan. Untuk mencapai bukit tersebut, butuh 350 anak tangga untuk didaki sebelum mencapai puncak. Melelahkan memang, namun terbayar sudah oleh pemandangan indah di sekeliling bukit tersebut.
Setelah puas mengambil gambar dan memandang sekeliling, perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Nemberala, salah satu tempat favorit wisata di Pulau Rote. Kali perjalanan menempuh waktu hampir dua jam dari lokasi pertama, dan jalan mulai tampak mulus setelah menempuh perjalanan satu jam pertama. Seperti telah diceritakan di atas, begitu tiba di gerbang wisata, sudah mulai bertaburan cottage ala Sanur di Bali dan tempat ngopi walaupun bentuknya masih sederhana. Beberapa wisatawan bule tampak sedang asyik berjemur di tepian pantai. Kondisi saat ini memang masih relatif bersih, namun tidak tertutup kemungkinan apabila sudah dikenal luas, bisa jadi akan lebih kotor dan tidak terawat seperti pantai-pantai di Bali atau Lombok. Beberapa rekan berenang di tepian pantai, sementara penulis menikmati sunset sekaligus mengambil beberapa gambar menarik di lokasi tersebut. Posisi Pantai Nemberala yang menghadap ke arah barat membuat para pemburu sunset bebas mengambil gambar seindah mungkin.
Tak terasa waktu sudah menjelang malam, kami kembali meluncur ke Ba'a, ibukota Kabupaten Rote Ndao sekaligus pelabuhan dan tempat kami menginap. Esoknya, sebelum kembali ke Kupang, kami menyempatkan diri untuk menjelajah pantai timur yang tak kalah indah karena dilindungi oleh batuan alam yang membentengi pulau dari serangan ombak atau tsunami. Pemandangan disini juga tak kalah menarik, kombinasi bebatuan menghampar di tepi pantai menjadi tameng di saat gelombang pasang. Namun sayang belum dilirik oleh pemerintah daerah untuk dikelola. Tak ada fasilitas untuk ganti baju atau toilet di sekitar pantai.
Pukul sebelas siang kami kembali ke Kupang, walaupun sebenarnya masih penasaran dengan sisi lain pulau yang belum terambah. Ombak di siang hari agak tinggi sehingga sebagian rekan kami mual-mual. Setelah menembus gelombang laut disertai hujan rintik-rintik, kami tiba kembali di Pelabuhan Tenau, Kupang. Melelahkan memang, hanya 24 jam saja di Pulau Rote, namun banyak kenangan manis tertinggal di sana,
(gst/gst)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads