Bahagia Itu Sederhana ala Bocah-bocah di Pantai Setangi Lombok

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Bahagia Itu Sederhana ala Bocah-bocah di Pantai Setangi Lombok

Ilham Firdaus - detikTravel
Kamis, 11 Okt 2018 10:18 WIB
Jakarta - Pantai Setangi Lombok belum sepopuler Pantai Senggigi. Namun tak kalah indah, dan traveler juga bisa asyik bermain bersama anak-anak setempat di pantai.Panas, siang itu beberapa turis di pantai sedang berteduh di bawah pohon. Ada juga yang berlindung di bawah atap warung sembari minum es kelapa muda. Beberapa remaja tanggung malah sedang bergaya di depan kamera di pinggir pantai. Sedangkan, para wisatawan asing justru berjemur, seolah tak peduli dengan sinar matahari yang begitu menyengat.Berbanding 180 derajat dengan gemerlap Pantai Senggigi atau Pantai Kuta Lombok yang sudah kondang, Pantai Setangi bukanlah apa-apa. Hanya ada beberapa pengunjung, yang itupun masih dapat dihitung jari, sepi.Namun justru itu yang dicari. Karena bagi sebagian orang, termasuk saya, sepi itu indah. Seperti bait lagu Banda Neira yang berjudul Hujan di Mimpi, Sepi itu indah, percayalah. Membisu itu anugerah.Bersama dua orang kawan, Yogi dan Saifud, kami duduk pada kursi kayu di bawah pohon, berlindung dari sengatan sinar matahari. Wajar saja, waktu menunjukkan pukul 11 siang lebih 22 menit. Niat hati ingin jalan-jalan mengisi hari libur, tapi tak ada tujuan yang pasti. Jadilah kami terdampar di Pantai Setangi tanpa melakukan apa-apa.Ingin berkeliling pantai, panas. Ingin mengambil gambar, lagi-lagi panas matahari menyurutkan niat. Padahal panoramanya sungguh cantik. Pasir putih membentang dari selatan ke utara, birunya laut berpadu dengan biru langit sejauh mata memandang, dihiasi oleh awan yang menggelayut di udara. Saya hanya memandanginya dari kursi kayu. Mendengar desir ombak, menikmati angin laut yang membelai daratan.Sementara kami terkantuk-kantuk oleh belaian angin, ada dua anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran. Anak yang mengenakan kaos bergambar aktor sinetron Anak Jalanan berlari ke arah kami, bersembunyi di belakang kami.Sedangkan anak yang mengenakan kaos hitam bergambar Menara Eiffel, tubuhnya sedikit lebih tinggi, mengejar dan menerobos kami lewat celah antara saya dan Saifud duduk. Mereka adalah Dimas dan Hendra, kakak beradik.Bocah berkaos Anak Jalanan adalah Hendra, sang adik. Sedangkan yang mengejar adalah kakaknya, Dimas. Mereka adalah anak-anak suku Sasak, anak dari salah satu empunya warung di Pantai Setangi.Cukup sulit berkomunikasi dengan Dimas dan Hendra, sebab ternyata mereka tidak lancar berbahasa Indonesia. Untuk mengobrol satu sama lain mereka menggunakan Bahasa Sasak, bahasa daerah Lombok. Ketika menanyakan nama saja, kami perlu usaha lebih, bertanya berkali-kali hingga akhirnya mereka mengerti.Awalnya saya dan Saifud berharap pada Yogi yang orang Lombok, namun kami harus kecewa karena ia tidak begitu lancar berbahasa Sasak. Namun itu tak menghentikan kami untuk mencoba berinteraksi dengan mereka. Bahkan sesekali kami harus menggunakan isyarat tubuh.Hendra sepertinya anak yang pemalu. Saat saya akan memotret dan memintanya untuk melihat ke kamera, ia mengalihkan pandangan dan memasang ekspresi tersipu malu. Berbanding terbalik dengan Dimas yang tanpa diminta pun dia sudah bergaya dengan sendirinya. Bahkan setiap kali selesai dipotret, ia selalu ingin melihat hasilnya.Pada satu momen, mereka menunjukkan kebolehannya dengan melompat dari atas pohon. Dimas mengawali memanjat pohon yang kemudian disusul oleh Hendra. Dari batang pohon yang tingginya sekitar 1,5 m, mereka melompat satu per satu. Kemudian berlarian tak tentu arah sembari tertawa lebar, tawa yang begitu lepas.Jika anak-anak di perkotaan sudah banyak yang bermain Mobile Legends, sudah tidak bisa lepas dari gadget, Dimas dan Hendra mungkin saja belum mengenal apa itu smartphone. Tetapi untuk saat ini mereka tak butuh barang-barang seperti itu.Cukup dengan bermain di hamparan pasir pantai dan bertemu orang asing (pengunjung), mereka sudah merasa senang. Karena bagi mereka, bahagia itu sederhana. Dan kebahagian mereka menular pada kami.Pantai Setangi yang awalnya membuat kami mengantuk, seketika saja suasana berubah menjadi menyenangkan saat Dimas dan Hendra muncul dan berbagi kebahagiaan dengan kami. Terima kasih Dimas dan Hendra, semoga saat besar nanti kalian tetap dapat berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitar kalian. (travel/travel)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads