Tidak Hanya Green Canyon, Pangandaran Juga Punya Green Coral
Jumat, 19 Jan 2018 08:55 WIB
Kang Jaja Zarkasyi
Jakarta - Bukan cuma pantai yang cantik, Pangandaran juga punya pesona alam lain yang tidak kalah indahnya.Pangandaran. Negeri sejuta pesona. Siapa belum pernah kesana? Wah rugi sekali. Bukan hanya indah, Pangandaran menyajikan beragam aneka ragam rekreasi: pantai, body rafting, berselancar hingga tracking bagi yang gemar menguras tenaga. Yup, kalian tentu sudah mengenal indahnya pantai pangandaran, Pantai Batu Hiu, Batu Karas, hingga green canyon yang fenomenal. Dan masih banyak lagi.Salah satu destinasi baru nan 'liar', menantang dan butuh nyali adalah Green Coral. Belum seterkenal Green Canyon memang.Awalnya kami pun ragu. Jauh-jauh dari Jakarta, ternyata Green Canyon ditutup sementara. Beruntung, seorang guide menawarkan kami sebuah destinasi air yang masih sangat liar dan perawan: green coral.Kami berlima memang sengaja menuju Pangandaran. Niat kami satu: wisata spiritual. Maksudnya? Ya, ini jenis wisata yang biasa kami lakukan. Menjelajah pelosok desa, sekedar mampir di mushalla kecil dan membaur dengan masyarakat sekitar, lalu menikmati sajian-sajian spiritual yang tak ditemukan di perkotaan.Green coral berlokasi di Kecamatan Cijulang, Pangandaran. Perjalanan dapat ditempuh 1 jam dari Pantai Pangandaran. Pertama-tama, kalian bisa mengambil jalur menuju green canyon, hingga sampailah di terminal bayangan menuju green canyon. Dari sana ada banyak guide yang siap membawa kalian menuju Green Coral.Bagi kalian yang jenuh dengan individualisme, datanglah kesini. Nikmatilah sapaan hangat di sepanjang perbukitan dan hamparan sawah yang membentang luas. Mampirlah sebentar di saung-saung warga, mengobrol dan meraih semangat bahagia dalam kesederhanaan. Tertawa seru, saling bertanya, itu cukup membuat kita betah lama-lama di pesawahan, sesekali dikipasin angin yang semliwir. Bagi kalian yang jenuh dengan sekat-sekat dinding yang menjauhkan dari persahabatan, pertemanan dan kekeluargaan, segeralah mengemas baju dan datanglah kesini. Trave;er bisa menikmati para lelaki yang tengah mencari rerumputan di pematang sawah atau hutan. Atau para remaja yang asyik tengah memikul kayu bakar. Senyum mereka menyegarkan pikiran, meruntuhkan segala sekat sosial yang biasa kamu rasakan di Jakarta.Kami pun merasakan seperti itu loh. Bukan hanya alam yang menyambut hangat kedatangan kami, bukan hanya sawah-sawah yang mulai menguning menghitung hari untuk dipetik, atau gemericik air di sela-sela selokan sepanjang jalan yang dilewati. Sepanjang jalan kalian bisa menikmati keramahan khas pedesaan. Tanpa timbal, tanpa topeng, tanpa bedak. Semuanya asli. Cantiknya asli. Gantengnya asli. Ramahnya asli. Salamaannya juga asli.Mobil kami bergerak agak melambat. Sesekali Mang Tata, sang sopir, harus mengindari jalan berlubang agar penumpang tetap nyaman. Meski agak sulit menghindarinya, justru lobang-lobang itu seperti sengaja mengajak kami sekedar menepikan pandangan ke kiri dan kanan, sekedar menyapa para ibu yang tengah menjemur padi dan jagung. Tidak biasa kan di kota-kota kita, lagi naik mobil buka jendela lalu menyapa pejalan kaki? dan jangan takut dicuekin. So, jalan berlubang itu maknanya dalem banget: mengajarkan kerendahan hati, sekedar menyapa para pejalan kaki, mengerem kesombongan diri.Itu baru permulaan. Benar-benar semakin menenangkan jiwa, padahal tujuan akhir, Green Coral, belum juga sampai. Tak ayal, kami yang biasa bergelut dengan konsep, komputer dan rutinitas, seperti terhipnotis oleh keramahan alam di seputar Cijulang menuju Grren Coral. Meski akhirnya sampai juga, suasana desa nan tenang mulai menyapa. Dan setelah menempuh waktu 1 jam dari Pangandaran, akhirnya tibalah kami di Green Coral.Bagi kalian yang baru kesini, tenang saja. Jangan panik melihat keadaan alam yang sepertinya tidak seramai Green Canyon. Justru ini kelebihannya. Kalian bisa nikmatin alam tanpa harus terganggu oleh terikan orang-orang. Hening. Sejuk. Cocok buat menenangkan jiwa.Singkat cerita, kami berlima telah didaftar dan membayar paket Rp 1.000.000, termasuk makan, kelapa muda dan pendamping selama body rafting. Bagi kalian yang beragam Islam, dapat menunaikan sholat terleih dahulu di musholla kecil. Bagi yang lapar, sebaiknya diisi perutnya dulu deh. Ada warung sederhana yang bisa kalian pilih sekedar mengganjal. Tapi sebaiknya 1 jam sebelum terjun ke sungai, perut sudah terisi. Bersiap untuk briefing singkat.Rudi. Usianya baru 18 tahun. Tapi dialah pemimpin kami, mengarahkan dan membimbing akan hal-hal yang boleh dan tak boleh. Sekedar tahu aja ya, karena lokasinya masih perawan, alami, belum banyak dijamah,ΓβΓΒ agak gelap memang dan kita dilarang mengucapkan kata-kata sompral, menggangu binatang atau bahkan kencing sembarangan. Semuanya harus mengikuti instruksi komandan Rudi.ΓΒ Bukan Senang-Senang BiasaΓΒ Dalam suanana hening dan tenang, mengarungi sungai spenajang 3 KM selama 3 jam, tentunya menguras emosi. Bagaimana bisa?Ya, sepanjang perjalanan mengarungi sungai yang kedalamannya saat itu 7-10 M, kanan dan kiri kami menyajikan kagungan Sang Pencipta. Tebing-tebing nampak kokoh dengan beragam variannya. Akar-akar pohon mencengkeram kuat bebatuan, seakan enggan berpisah. Jangan khawatir longsor ya, material batu dan tanah sepanjang tebih sungai terbentuk jutaan tahun sehingga sangat kokoh. Beberapa bagian tebing bahkan meneteskan air yang cukup segar untuk dibasukan ke wajah.Bagian sungai terbentuk dalam tiga karakter: deras, bebatuan dan tenang. Arus deras siap membawa anda menikmati pengalaman terlepas di alam bebas, terombang ambing aliran sungai yang cukup deras. Seperti pasrah saja, tak perlu dilawan kehendak alam ini. Nikmati saja, meski sesekali menabrak bebatuan. Mungkin sekedar lecet, itu wajar. Tapi itu sebanding, bahkan melebihi, ketakjuban atas fenomen alam yang bisa lo nikmati.Bagian pertama anda akan disajikan derasnya air sungai yang berombak-ombak. Asyik untuk uji nyali. Dibutuhkan kerjasama dan ketenangan untuk mengarunginya. Barulalah pada bagian kedua, anda akan disuguhi aliran yang lebih deras dengan bebatuan curam. Di bagian ketigalah suasana tenang seakan menutup ketakjuban luar biasa atas keagungan ciptaan Tuhan.Sesekali kami berhenti. Sekedar naik ke tebing dan melompat kedalam sungai. Seger! Banget! Beda sama jumping di kolam renang, ini sungguh alami.Di bagian akhir pula, anda akan disajikan pemadangan luar bisa: Curug Taringgul. Airnya terasa hangat, cukup mengobati kedinginan sepanjang body rafting. Karakter air yang hangat ditambah letaknya di atas sungai pertama, menjadikan pemandangan di sekitarnya terasa luar biasa. Ditemani air kelapa hijau, rasanya semakin lengkap perjalanan sore itu.Di bagian atas Curug, terdapat kolam besar berwarna biru. Itu cukup menandakan bahwa sangat dalam. Jika air dalam keadaan tenang, bis abuat renang loh. Atau juga terjun dari atas bukit. Pokoknya keren abis!Ada emosi bahagia, marah dan sedih. Bahagia karena dapat menikmati sajian alam yang begitu menenangkan jiwa. Marah, karena ternyata berbagai keagungan ciptaan-Nya yang terhampar di kanan dan kiri sungai, adalah teguran bahwa tidak cukup alasan bagi kita untuk sombong. Sedih, karena masih banyak sisi yang belum dijelajahi. Rasanya tak cukup waktu sehari menelusuri aliran sungai Grand Coral nan penuh misteri.Bagi masyarakat sekitar, sungai ini pantang dikotori, bahkan dirusak. Kata Kang Rudi, ikan-ikan disini hanya boleh dipancing. Para orang tua melarang anak-anak bermain di sepanjang sungai. Begitu pula, tak ada aktifitas perekonomian di sepanjang aliran sungai. Beberapa sawah terbentang di kanan atas dan kiri sungai, namun itu tetap berjarak dengan aliran sungai.Luar biasa masyarakat menjaga keaslian alam. Hubungan itu dijaga, tidak saling mengalahkan. Memilih hidup berdampingan dengan alam, berbagi tempat dengan makhluk lainnya, itulah keramahan dan kesederhanaan hidup masyarakat sekitar sungai.Kalau jenuh dengan rutinitas, bosan dengan rapat-rapat, atau marah dengan suasana kantor yang kurang ramah akan ide dan inovasi, luangkanlah waktu ke Pangdandaran, khususnya green coral. Berangkat berlima atau lebih tentunya lebih irit. Tidak sampai 2 juta perorang. Tapi itu lebih dari cukup untuk menyegarkan semangat dan harapan yang mungkin sempat kandas.












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru