Jakarta - Sebuah pantai di Ambon memiliki batuan besar yang begitu unik. Bentuknya mirip seperti layar yang ada di kapal.Yang kedua kali wisata ke Pulau Ambon, rekan saya mengajak mampir ke salah satu objek wisata namanya Batu Layar. Unik dan pasti kamu suka, katanya setengah berpromosi. Semula kurang antusias tapi setelah diperlihatkan fotonya, boleh juga ke sana.Letaknya di Desa Larike. Masuk wilayah Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah. Masih asing terdengar bagi pelancong dari jauh. Barangkali orang-orang kompeni yang tergabung dalam serikat dagang VOC lebih paham keberadaan Desa Larike, karena di sini salah satu pusat kopra, cengkeh, yang menjadi incaran mereka dulu.Sayangnya pengunjung ke Ambon lebih terpikat ke Pintu Kota, Pantai Natsepa, Pantai Liang, dan persinggahan populer lainnya. Batu Layar sendiri dakui masih jarang disebut. Jadi penasaran karena waktu pertama kali ke Pulau Ambon belum pernah ke sini.Kami rencanakan setelah tiba pagi di Bandara Pattimura langsung ke sini. Waktunya lebih cepat ketimbang dari kota Ambon. Sekitar 30 menit saja. Bandingkan waktu tempuh jika dari kota Ambon butuh sekitar 60 menit.Kami pasrah saja mengikuti pengemudi yang mengarahkan mobil ke Desa Larike. Jalan kecil, menanjak, menurun, bahkan ada yang masih berbatu, sebenarnya cukup tidak nyaman. Ada juga jalan menurun yang cukup curam. Namun karena pengemudi sudah pernah ke sini walau tidak sering, lumayan dapat mengikis rasa takut.Karena masih ngantuk setelah menempuh penerbangan malam 3 jam, selain pasrah tadi kami berempat di mobil lelap tidak berdaya melawan kantuk. Padahal hutan, kebun cengkeh, pantai yang kami lewati memiliki pesona tersendiri. Benar saja sekitar 30 menit pengemudi menghentikan mobil. Artinya sudah tiba.Spontan saja kami mencari di mana yang namanya Batu Layar. Begitu kami melihatnya, benar-benar unik. Sangat unik, ucap saya spontan. Letaknya di persis di pinggir pantai. Berdiri kokoh tegak dua batu karang ini saling berhadapan. Tingginya sekitar 3 dan 4 meter.Di tengahnya ada lubang seperti pintu masuk gapura. Saat dilihat bentuknya mirip gambar layar di kapal. Karenanya di namakan Batu Layar. Rasa kantuk spontan hilang untuk segera merekam dalam memori kamera.Sambil foto-foto, bertanyalah entah ke siapa yang bisa menjawab saat itu, kok bisa ya batu karang jadi seperti layar di kapal? Bagaimana prosesnya? Siapakah sang seniman yang punya keahlian mampu memahat sehingga menghasilkan hasil yang bernilai seni.Ya, secara fotografi bentuknya sangat berseni. Tidak mudah menjawab tepat pertanyaan konyol tadi. Tidak ada retribusi meski sekedar foto-foto di sini lazimnya di tempat-tempat lain yang unik.Melihat sekelilingnya masih bersih dan alami. Berarti masih jarang yang datang ke sini. Jalan berliku-liku dan waktu tempuh cukup panjang dari Kota Ambon, perlu tekad dan niat kuat ke sini.Kalau yang seperti ini ada atau tidak jauh dari Jakarta, pasti akan dilirik fotografer komersial untuk pemotretan tujuan bisnis. Pre-wedding misalnya. Bagus juga disini.Kurang lebih sejam kami terpukau keunikan yang tidak mudah di temukan di bagian lain. Sekalian juga memotret pantai di sekitar Batu Layar. Terbayang juga kalau ngga ada Batu Layar, nuansa pantai di sekitarnya barangkali terlihat biasa saja.Puas mata termanjakan, memori terisi banyak frame, keunikan Batu Layar. Kami segera menuju Kota Ambon. Satu jalan kami melewati persinggahan yang tidak kalah menarik. Benteng Amsterdam, Mesjid Wapaue yang berusia ratusan tahun, Gereja Hilla yang bersejarah telah menanti dikunjungi.
Komentar Terbanyak
Ada Gerbong Khusus Merokok di Kereta, Kamu Setuju?
Terpopuler: Dedi Mulyadi Terancam Dicopot, Ini Penjelasan DPRD Jabar
Bisa-bisanya Anggota DPR Usulkan Gerbong Rokok di Kereta