Lebaran di Bukittinggi, Wajib Mampir ke Rumah Ini
Jumat, 01 Jul 2016 11:35 WIB
Eka herlina
Jakarta - "Hari siang bukan karena ayam berkokok, akan tetapi ayam berkokok karena hari mulai siang. Begitu juga dengan pergerakan rakyat. Pergerakan rakyat timbul bukan karena pemimpin bersuara, tetapi pemimpin bersuara karena ada pergerakan," Mohammad HattaSaya melepas pandangan keluar jendela dari sebuah kamar beranda depan salah satu sebuah rumah kayu yang terletak di Jl Soekarno-Hatta no.37, Kecamatan Guguh Panjang, Bukittinggi di suatu siang yang biasa. Pekarangan rumah tampak asri dan tak kalah menyenangkan adalah pemandangan nun jauh di sana. Dua gunung sejoli, Merapi dan Singgalang yang sedanh ditutupi kabut tipis. Perlahan kabut tersebut mulai beranjak pergi.Sejenak pikiran saya melayang pada buku otobiografi Mohammad Hatta, salah satu orang yang turut andil dalam memproklamirkan kemerdekaan Indonesia Agustus 1945 silam. Bung Hatta -- begitu kerap namanya disebut β secara detail mengungkap tentang keindahan dan kesejukan kota tempat ia dilahirkan dan menghabiskan sebagian masa kecilnya, Bukittinggi. Β Cerita dari sebuah rumah sederhanaRumah berlantai dua ini terkesan sederhana dengan pekarangan rumah nan asri. Meskipun sebagian besar terbuat dari papan kayu dan dindingnya dari anyaman bambu namun bangunan ini berdiri kokoh.Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Saya memasuki rumah ini dengan perasaan campur aduk. Seperti menjumpai seorang guru yang sangat saya kagumi dengan perasaan rindu yang tak terlukis untuk berbagi cerita. Langkah kaki saya tak langsung memasuki bagian rumah, namun memasuki sebuah kamar disisi sebelah kiri yang tertuliskan ; kamar bujang β terlahir sebagai salah satu berdarah Minangkabau, hati saya memahami sejenak arti dari kalimat tersebut. Sebuah kamar yang ditujukan untuk mereka yang belum berkeluarga.Mata saya mengitari tiap sudut ruangan yang terdiri dari dipan, kursi yang menghadap ke luar jendela dan lemari yang berisi buku. Beberapa foto terpajang rapi. Saya mengamati foto-foto Bung Hatta. Membayangkan bagaimana sang Bapak Koperasi ini menghabiskan masa kecilnya.Kaki saya kemudian melangkah keluar kamar dan memasuki bagian dalam rumah. Kemewahan terasa dari ruangan ini dengan ragam perabot rumah tangga seperti dua bagian kelompok kursi, satu untuk kursi tamu dan satu untuk kursi keluarga. Di sisinya terdapat rak yang juga dipenuhi buku dan beberapa penghargaan dari instansi/perorangan yang ditujukan kepada Bung Hatta, seperti plakat.Bagian lantai atas rumah ini saya menemui sebuah lampu gantung antik . Dan tak kalah penting adalah terdapat kamar dimana tangisan seorang bayi pernah hadir ; tangisan Mohammad Hatta. Yup, di rumah inilah Wakil Presiden Indonesia yang pertama dilahirkan β yang menjadi alasan kaki saya melangkah menyinggahi rumah tersebut.Rumah ini merupakan rumah nenek Bung Hatta dan sudah mengalami pemugaran pada 1995 lalu, namun tak menghilangkan kesan kesamaan pada rumah aslinya. Foto-foto dan buku yang bercerita"Filosofi meluaskan pandangan serta mempertajamkan pikiran, sekaligus berguna untuk penerangan pikiran dan penetapan hati," Moh HattaBegitu banyak foto terpajang rapi di rumah ini. Dari mulai ketika saya menginjak kaki di kamar bujang hingga melangkah ke lantai atas. Pikiran saya mencoba menembus dimensi waktu dari ragam foto tersebut. Merangkai puzzle cerita yang tersirat.Dilahirkan dengan nama Mohammad Athar, dengan panggilan Atta kemudian lambat laut berubah menjadi Mohammad Hatta, ia tumbuh di lingkungan keluarga besar yang menyayangi disaat beliau kehilangan seorang ayah di usia delapan bulan. Lazimnya anak seusianya, Hatta menghabiskan waktunya dengan belajar, bermain dan mengaji di surau.Saya cukup lama berdiri di hadapan foto besar Bung Hatta yang tampak gagah meskipun hitam putih. Larut dalam dialog sunyi yang saya lakukan dalam hati. Terkenang pada kalimat beliau: βPerjuanganku melawan penjajahan lebih mudah, tidak seperti kalian nanti. Perjuangan kalian akan lebih berat karena melawan bangsa sendiri.β β tersadar dengan beberapa kondisi di tanah air yang akhir-akhir ini memprihatinkan.Saya menelan ludah sejenak ketika melewati lukisan besar Bung Hatta. Beberapa buku juga tertata rapi di ruangan ini. Ya, seperti yang kita ketahui bahwa Bung Hatta adalah penyuka buku dan gemar membaca. Kalimat bijaknya pun menjadi andalan motivasi sendiri bagi saya : β Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.βSebuah Cerita Masa Lalu Dan Harapan Indah di Masa Depan"Biarlah pengalaman masa lalu kita menjadi tonggak petunjuk, dan bukan tonggak yang membelenggu kita,"Mohammad Hatta.Lelah bermain dengan imajinasi lewat ragam foto dan barang-barang peninggalan di masa lalu yang masih terjaga dan terawat rapi, saya melangkah ke bagian luar rumah. Menarik adalah saat saya menemukan sendal Tangkelek β sandal khas budaya Minangkabau.Saya pun mengenakan sandal tersebut. Melanjutkan perjalanan menembus dimensi waktu. di halaman belakang ini terdapat dua lumbung padi yang merupakan sumber kekayaan keluarga minangkabau di masa itu. Rumah ini cukup unik, dengan memisahkan antara ruangan makan dan dapur. O, ya terdapat sumur tua yang sudah ditutup. Serta di bagian belakang juga terdapat bangunan sebuah kamar yang tertata rapi.Di halaman belakang ini juga dapat dijumpai kandang kuda dan peralatan Bendi β kendaraan yang kerap digunakan Bung Hatta saat sekolah dulu.Menelusuri jejak kehidupan bung Hatta yang tertinggal di rumah ini tak sekedar mengingarkan kita pada sosok yang sederhana, cerdas, bijaksana dan sopan dari seorang Bung Hatta, tapi lebih dari sekedar itu. Yup, rumah kelahiran Bung Hatta jauh dari kesan museum yang identik dengan kuno, kumuh dan tak terawat serta membosankan.Terawatnya rumah ini dengan baik yang tak lepas dari peran dinas pariwisata setempat.Saya pun sempat berpikir untuk memiliki rumah yang sama dengan halaman yang seperti ini. Membayangkan betapa bahagianya bercengkerama di halaman belakang bersama keluarga.Mengakhiri perjalanan ini, saya pun melepas penat di bangku panjang yang terdapat di halaman belakang rumah tersebut. Menikmati sejuknya udara Bukittinggi, teringat salah satu kalimat beliau : "Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan ibu pertiwi,"Semoga bangsa ini selalu tumbuh dengan persatuan dan kepedulian yang tulus untuk Indonesia yang lebih baik.












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru