Liburan Ke Bangkok, Jangan Lupa Lihat Patung Buddha Tidur

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Liburan Ke Bangkok, Jangan Lupa Lihat Patung Buddha Tidur

Darwance Law - detikTravel
Jumat, 19 Agu 2016 10:45 WIB
loading...
Darwance Law
Salah satu sisi Wat Pho yang cantik
Sejumlah wisatawan sedang mengantri hendak masuk ke kuil
Ini dia patung Buddha yang melegenda itu
Bagian kepala Buddha yang semuanya dilapisi emas
Setiap sudut Wat Pho adalah menakjubkan
Liburan Ke Bangkok, Jangan Lupa Lihat Patung Buddha Tidur
Liburan Ke Bangkok, Jangan Lupa Lihat Patung Buddha Tidur
Liburan Ke Bangkok, Jangan Lupa Lihat Patung Buddha Tidur
Liburan Ke Bangkok, Jangan Lupa Lihat Patung Buddha Tidur
Liburan Ke Bangkok, Jangan Lupa Lihat Patung Buddha Tidur
Jakarta - Kota Bangkok di Thailand populer di kalangan wisatawan. Kalau liburan ke sana, jangan lupa melihat patung Buddha tidur di Wat Pho.Selain dikenal sebagai negara yang tidak pernah dijajah oleh bangsa manapun di dunia ini, Thailand juga dikenal sebagai salah satu negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Buddha.Hal ini bisa dilihat dari kuil-kuil yang berdiri hampir di setiap sudut negeri Gajah Putih ini. Salah satu simbol yang paling terkenal adalah Wat Pho, tak jauh dari tepi Sungai Chao Phraya yang melegenda. Di sini, kita bisa melihat Reclining Buddha atau yang dikenal dengan patung Buddha terbaring dengan ukuran begitu raksasa.Hari itu, hari kedua saya dan adik berada di Thailand, sekaligus menjadi hari pertama kami untuk menjelajahi keindahan negeri tempat di mana ASEAN dideklarasikan bertahun-tahun silam itu. Setelah mengunjungi Wat Arun, berbelanja aneka suvenir di pasar oleh-oleh di samping komplek candi itu, oleh Oom Pacha, sang pemandu, kembali kami dibawa menuju dermaga dimana kapal yang tadi membawa kami menepi. Dari situ, kami kembali naik kapal, lalu kembali menepi di dermaga awal sebelum kami menyeberang menuju Wat Arun."Selanjutnya, kita akan ke Wat Pho," terang Oom Pacha. "Di situ, adik-adik bisa melihat patung Buddha sedang tertidur, besar sekali."Seraya meneguk air mineral, kami berjalan mengikuti langkah demi langkah laki-laki paruh baya yang selalu mengenakan topi itu. Dari dermaga kayu tempat dimana kami sebelumnya naik kapal saat hendak menyeberang menuju Wat Arun tadi pagi, jaraknya tak lebih dari 100 meter. Itu sebabnya, kami hanya berjalan kaki seraya menikmati suasana sisi tua Kota Bangkok. Salah satu sudut kawasan ini mengingatkan saya pada tembok keraton di Yogyakarta, lalu pada sisi lain mengingatkan saya pada salah satu sisi Tanjung Pandan di Pulau Belitung."Ini, kita sudah tiba. Tunggu sebentar, Oom beli tiket masuknya dulu."Ya, oleh sebab perjalanan kami kala itu menggunakan travel agent, maka semuanya sudah diatur oleh mereka, termasuk pembelian tiket saat hendak masuk ke sebuah destinasi wisata. Selang beberapa menit kemudian, Oom Pacha kembali datang, menyeruak di antara keremunan orang yang sepertinya didominasi oleh turis dari Tiongkok dan India. Om Pacha selanjutnya bercerita, kalau akhir-akhir ini turis dari Tiongkok dan India memang mendominasi tempat-tempat wisata yang ada di Thailand. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi kedua negara Asia itu yang cukup baik, sehingga melahirkan begitu banyak orang kaya baru. Begitu kata Oom Pacha.Saat memasuki komplek Wat Pho, kami mendapati sebuah bangunan yang cukup megah, dengan pilar-pilar yang didominasi warna putih. Orang-orang mulai ramai di tempat itu. Halaman utama tempat ini bahkan sesak oleh wisatawan dengan beragam bangsa, termasuk wisatawan yang berasal dari Benua Eropa. Om Pacha yang sebelumnya berjalan dengan langkah yang kadang dipercepat pun harus melangkah dengan pelan, menyelinap di antara wisatawan yang seolah tumpah di sini. Dengan hati-hati, kami mengikuti kemana Om Pacha melangkah."Silakan masuk. Barang-barang biar Oom yang pegang. Oom tunggu di sini ya, di bawah pohon itu," jelas Oom Pacaha seraya meraih barang yang kami bawa serta.Sebagaimana instruksi yang disampaikan Oom Pacha, kami melangkah masuk ke kuil, masuk dalamm barisan wisatawan yang sudah panjang mengantre. Sebelum masuk ke dalam kuil, setiap pengunjung wajib melepaskan sandal dan topi. Pihak pengelola sudah mempersiapkan semacam tas untuk menyimpan sandal dan topi yang bisa dibawa, kemudian harus dikembalikan saat keluar nanti pada pintu yang berbeda. Saat memasuki kuil itu, kami langsung dibuat kagum oleh patung Buddha yang sedang terlelap. Seperti kata Om Pacha, patung Buddha ini besar sekali.Wat Pho juga dikenal dengan patung Reclining Buddha atau patung Buddha yang sedang berbaring, dikarenakan di dalam kuil ini memang terdapat patung Buddha berbaring dalam ukuran raksasa. Patung ini dibangun oleh Raja Rama III pada tahun 1832 silam. Menurut penuturan pemandu kami, Reclining Buddha ini merupakan salah satu patung Buddha paling terkenal di dunia dengan panjang 46 meter dan tinggi 15 meter. Mengunjungi Wat Pho, tempat Buddha 'terlelap' di ThailandSatu hal lagi yang menarik, patung ini dilapisi emas 18 karat dengan rincian 336 lapisan di seluruh permukaannya. Menakjubkan sekali bukan?Sebagai tempat ibadah ummat Buddha, siapa pun yang datang ke tempat ini hendaknya berlaku sopan agar tidak mengganggu pengunjung lain yang khusus datang untuk beribadah, terutama bagi umat Buddha. Sepanjang perjalanan menyusuri kuil, menengok betapa gagahnya Buddha dengan seksama, saya dan adik melihat orang-orang yang datang seraya beribabah di tempat itu. Ya, jadilah wisatawan yang bijak dengan menghormati orang lain yang sedang beribadah menurut agama yang mereka peluk. Terima kasih Thailand yang menakjubkan. Setelah ini, kami akan mendatangi lebih banyak lagi tempat di negara ini yang saya yakin tak kalah menakjubkan dari Wat Pho, sebab Om Pacha sudah menunggu kami dengan senyumnya yang ramah di luar sana. Salam traveling!
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads