Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 28 Sep 2016 11:17 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Kepulauan Ugar, 'Raja Ampat' dari Fakfak

Diyah D.
d'Traveler
Perjalanan dari Pelabuhan Kokas menuju Kampung Ugar
Perjalanan dari Pelabuhan Kokas menuju Kampung Ugar
Kepulauan Ugar
Kepulauan Ugar
Akses Jalan dari Kota Fakfak menuju Kokas
Akses Jalan dari Kota Fakfak menuju Kokas
Pulau Ugar dan Pasir Putihnya
Pulau Ugar dan Pasir Putihnya
View berupa Gugusan Pulau dari Samping Kampung Ugar
View berupa Gugusan Pulau dari Samping Kampung Ugar
detikTravel Community - Provinsi Papua Barat punya Raja Ampat, Kota Fakfak pun tak mau kalah. Mereka punya Kepulauan Ugar, yang kecantikannya bisa saja menyaingi Raja Ampat.Bicara tentang Papua Barat, siapa yang tidak tahu Raja Ampat? Kepulauan yang terkenal dengan laut berwarna biru toskanya ini telah menjadi aset Indonesia, bahkan dunia. Tapi, tahukah kamu jika Papua Barat memiliki hidden paradise yang lain?Raja Ampat didukung dari kekayaan bawah laut serta pengelolaan yang cukup baik. Pihak asing pun sudah turut andil untuk menjaga kekayaan tersebut. Terbukti dari adanya beberapa NGO internasional yang ikut mengelola kawasan ini seperti Conservation International (CI) dan Nature Conservacy.Akan tetapi, kadang keindahan yang sudah terekspose menyilaukan penglihatan. Membuat kita lupa bahwa ada banyak hal indah yang tersimpan di bumi Pertiwi yang patut dijaga juga. Fakfak juga memiliki kepulauan yang tidak kalah cantik bernama Ugar.Kepulauan yang masuk di wilayah administratif Distrik Kokas ini memiliki gugusan pulau kecil yang mirip dengan kepulauan Wayag di Raja Ampat. Lautnya pun jernih lengkap dengan gradasi warna yang indah. Butiran pasir lembut juga bisa ditemui di bibir pantai pulau-pulau kecil maupun di Pulau Ugar sendiri.Akses menuju kepulauan ini cukup mudah. Jalan menuju ke sana juga sudah bagus berupa jalanan aspal. Jarak tempuh dari kota Fakfak sekitar 45 km atau sekitar 2 jam dengan menggunakan kendaraan bermotor.Jika tidak ada kendaraan pribadi, kita bisa menggunakan kendaraan umum jalur Fakfak-Kokas dengan tarif Rp 30.000 per orang. Setelah sampai di Pelabuhan Kokas, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan transportasi laut.Transportasi yang tersedia adalah long boat milik warga Kampung Ugar. Tarifnya pun cukup murah sebesar Rp 30.000 per orang. Tarif tersebut bisa jauh lebih murah lagi jika kita sudah kenal dengan penduduk setempat.Waktu tempuh dari Pelabuhan Kokas ke Kampung Ugar sekitar 30-45 menit tergantung kondisi lautan. Dikarenakan kepulauan ini berada di dekat Laut Banda dengan ombak yang cukup bergelombang pada waktu-waktu tertentu.Perlu diketahui, di kepulauan ini hanya ada satu pulau yang berpenghuni, yaitu Pulau Ogasmuni. Pulau ini memiliki satu kampung bernama Kampung Ugar. Sesampainya di kampung ini, kita akan disambut oleh warga asli Suku Kokoda yang memang sudah mendiami pulau ini sejak dulu.Kampung dengan jumlah penduduk 276 orang ini mayoritas bekerja sebagai nelayan. Sebagai catatan, untuk para pendatang yang mengunjungi kepulauan ini wajib untuk mengikuti upacara adat sebelum melakukan eksplorasi lebih lanjut.Upacara ini dilakukan dengan serangkaian ritual adat yang dipimpin oleh tetua adat setempat. Setelah itu, kita akan mengikuti tetua adat mengelilingi tempat-tempat keramat.Dimulai dari mengikat tali merah di akan pohon beringin yang ada di dekat dermaga. Kemudian dilanjutkan dengan keliling di dua pohon kayu besi yang ada di belakang kampung serta sumber mata air yang diapit dua pohon tersebut.Konon, seluruh kepulauan yang ada di tempat ini masih tergolong tempat sakral. Oleh karena itu, masyarakat setempat benar-benar menjaga kawasan tersebut. Mereka tidak berani menebang pohon atau menangkap ikan sembarangan.Tetua adat pun menambahkan bahwa upacara yang dilakukan bertujuan untuk memperkenalkan orang baru yang bertamu di kepulauan ini. Diharapkan dengan begitu para pendatang dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Selanjutnya, bagi para pendatang bisa memanfaatkan rumah warga sebagai home base. Warga setempat tidak menyebutkan tarif tertentu, tapi kita bisa membayarnya dalam bentuk tali asih.Jika ditelusuri lebih lanjut, kearifan lokal tersebut memiliki dampak yang baik bagi lingkungan yang ada di tempat ini. Kepercayaan masyarakat yang meyakini tentang kesakralan tempat ini secara tidak langsung telah menjaga keanekaragaman hayati yang tersimpan di kepulauan ini.Berbagai jenis satwa, khususnya aves, ditemukan berterbangan dari satu pulau ke pulau yang lain. Terlihat rangkong, kakatua jambul kuning, gagak dan juga elang laut. Aneka anggrek juga ditemukan di antara karang-karang di perengan bukit karst.Selain itu, ditemukan juga tanaman obat dalam jumlah banyak di pinggiran maupun dalam hutan. Faktanya, kekayaan tersebut didukung dengan kawasan hutan yang memang masih cukup rapat dan terjaga.Tidak hanya itu, sekalipun masyarakat setempat bekerja sebagai nelayan, pengelolaan hasil laut yang diterapkan masih tradisional. Masyarakat tidak diperbolehkan menggunakan cara tangkap ikan yang dapat merusak ekosistem bawah laut. Sistemnya pun diatur oleh tetua adat yang biasa disebut dengan sasi.Dengan menggunakan sistem ini, masyarakat hanya boleh menangkap ikan pada waktu-waktu tertentu. Ini bertujuan untuk menjaga kapasitas dan kualitas hasil tangkapan masyarakat.Kearifan lokal yang telah disebutkan menunjukkan tingkat kepedulian masyarakat yang cukup tinggi terhadap kelestarian lingkungan yang ada di sekitarnya. Di samping itu, kehangatan masyarakat setempat juga menambah kesan tersendiri ketika berkunjung di pulau ini.Satu hal yang perlu diteladani dan diterapkan adalah tingkat kepedulian terhadap lingkungan yang tercermin dari kearifan lokal setempat. Diharapkan meskipun nantinya Ugar dikenal oleh masyarakat luar Fakfak, hal tersebut masih terus terjaga.Apalagi sistem sasi yang diterapkan. Alangkah baiknya jika sistem tersebut bisa diterapkan di berbagai tempat yang ada di Kabupaten Fakfak. Terkait dengan Fakfak yang dikenal dengan hasil lautnya.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA