Imlek di Semarang: Kelenteng Sam Poo Kong & Kuliner Enak
Selasa, 28 Jan 2014 10:55 WIB
Fadilla Octaviani
Jakarta - Berhubung libur Tahun Baru China akan segera datang, tidak ada salahnya untuk berlibur ke Semarang. Kelenteng Sam Poo Kong di Semarang saat Imlek tentu akan meriah. Jangan lewatkan juga destinasi lain dan wisata kuliner.Perjalanan selalu membawa makna tersendiri bagi setiap manusia. Ada yang bilang, ia akan membawa mereka ke alam yang berbeda, alam yang penuh dengan petualangan. Ia pun akan membukakan pikiran manusia untuk berkontemplasi, merajai, dan tenggelam dalam hiruk pikuk perdebatan yang tidak dapat diselesaikan di satu tempat yang itu saja. Lagi, ia akan selalu mempertemukan manusia pada suatu keadaan, yang sudah ditakdirkan untuk memberikan pelajaran hidup tiada tara.Saya dan teman sedang dilanda kebosanan hebat dalam menjalani hari-hari. Sebagai penduduk yang tinggal di sekitaran Jakarta, kami beranggapan bahwa di Jakarta itu tidak ada hiburan dan liburan menyenangkan yang bersahabat terutama dengan kantong. Akhirnya pada waktu sedang ngobrol-ngobrol, tercetuslah wacana untuk melarikan diri ke Kota Lumpia, Semarang.Kami berdua memutuskan untuk memulai perjalanan di penghujung minggu menggunakan moda bus dengan alasan bahwa akan lebih terasa petualangannya. Dengan tidak berbekal itinerary apapun, apalagi referensi untuk booking tempat menginap, kami terus melaju untuk 12 jam ke depan.Hanya satu pegangan yang kami miliki, kontak seorang teman yang baru kukenal melalui situs jejaring traveler, beberapa hari sebelum berangkat. Ia setuju untuk menjemput kami setibanya dan menyediakan tempat singgah selama di Semarang.Melihat kesempatan tersebut, yang terpikirkan adalah, alhamdulillah ada orang yang mau menampung selama di Semarang. Lumayan nih bisa hemat biaya akomodasi selama di sana. Baru setelah melakukan beberapa korespondensi dengan teman tersebut, aku berpikir mengenai rencana kami ini. Agak gila sih kenal baru kemarin, ketemu saja belum, sekarang mau menumpang di tempatnya? Ya sudahlah, bismillah!Tibalah kami keesokan harinya jam setengah 4 pagi. Sesuai pesan teman dari Semarang tersebut sebelum berangkat, apabila sudah sampai lekas untuk menelpon. Namun karena merasa kurang sopan membangunkan orang di pagi buta, kami menunggu di pom bensin terdekat sampai azan subuh berkumandang, barulah aku menelepon. Ternyata teman kami ini sudah menunggu telpon dari kami, mungkin bahkan ia tidak tidur dari semalam.Setelah janjian untuk bertemu di pom bensin, keraguan itu muncul lagi di dalam diriku. Tidak lama dari kami menelpon, bertemulah kami dengan teman dari Semarang tersebut. Sebut saja namanya B. Ia menjemput kami dengan menggunakan mobil Innova (yang ternyata setelah tahu, mobil tersebut ia pinjam kepada bosnya hanya agar dapat menjemput kami).Di perjalanan tersebut kami berkenalan satu sama lain, bercerita alasan mengapa mau liburan ke Semarang, bagaimana bisa kenal dengan B, dan berbagai ramah tamah lainnya. B segera membawa kami ke tempat tinggal kami selama singgah, yaitu sebuah kontrakan temannya yang khusus dikosongkan, temannya migrasi ke kamar sebelah, khusus untuk kami. Tempatnya sederhana dan sangat nyaman.Bunyi kukuruyuk ayam yang tidak pernah kudengar di tempatku tinggal, mengingatkan kami untuk segera bersiap-siap. Terdengar suara ketukan di pintu dari B yang bersiap memberi penjelasan lokasi-lokasi wisata yang biasanya dikunjungi. Dari Museum Perjuangan Mandala Bhakti, Lawang Sewu, Kelenteng Sam Poo Kong, Gereja Blenduk, Masjid Agung Jawa Tengah, sampai transportasi umum yang dapat kami gunakan selama di Semarang.Sebelum berangkat, kami diajak untuk sarapan nasi pecel yang bumbu kacangnya memanjakan lidah, dengan keleluasaan untuk menambah complementary gorengan, sate tusuk karena banyaknya jumlah yang disajikan. Baru kemudian, kami diturunkan di halte trans untuk menunggu bus yang akan membawa kami bertamasya keliling kota.Setelah setengah hari berwisata sejarah, mencicipi tahu gimbal dan es krim di Toko Oen, dan menikmati suasana senja di Kelenteng Sam Poo Kong, kami diajak oleh teman-teman dari B untuk mencicipi kuliner Semarang di sebuah kawasan pecinan yang bernama Pasar Semawis. Pasar ini terdiri dari deretan panjang street food yang hanya buka pada malam hari setiap hari Jumat-Minggu.Hidangan yang dijual pun beraneka ragam, dari yang halal-tidak halal, makanan berat, jajanan lokal ataupun luar seperti lumpia, serabi, churros, ataupun mochi berisi ice cream dengan harga yang sangat bersahabat. Untuk yang mau mampir ke Semarang, wajib untuk melipir kemari.Waktu sudah menunjukan pukul 22.00 WIB malam, kami kemudian memutuskan untuk duduk sambil minum kopi lesehan pinggir jalan di suatu tempat hangout khusus anak-anak muda gaul Semarang bernama Bukit Bintang. Kenapa namanya Bukit Bintang? Karena dari sisi dataran tinggi ini, kita bisa merasakan dinginnya malam hari dengan disuguhi panorama bintang asli dan kerlap-kerlip buatan yang berasal dari rumah-rumah penduduk.Seiring berjalannya waktu, pembicaraan terus mengalir beriring. Semakin malam obrolannya, kok obrolannya makin random. Bincang mengenai kehidupan itu terasa begitu lepas, bebas, dan apa adanya. Tidak perlu berkedok gincu, tumpuan kaki bersenti, apalagi setumpuk uang hanya untuk sekedar kopi.Kebersamaan ini tumbuh meski belum ada 24 jam mengenal satu sama lain. Pada tiba saat waktu untuk berpisah dengan orang-orang, yang mengajarkan kami untuk selalu bersifat hangat dan tulus tanpa pamrih dengan orang lain, hatiku begitu tertegun.Tidak ada sepeserpun nominal yang terucap dari mereka untuk mengganti apa yang telah mereka korbankan dan luangkan sejak kami menginjakan kaki di kota tempat tinggal mereka ini. Kecurigaan pun yang ada pada awalnya, adalah tanpa alasan. Kami dipertemukan dengan orang-orang yang begitu menginspirasi dan mengajarkan nilai-nilai nyata kehidupan.












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru