Wisata Bahari
Petualangan Menantang Maut di Belitung, Hadiahnya Surga!
Jumat, 06 Nov 2015 14:20 WIB
Darwance Law
Jakarta - Berpetualang ke Pulau Belitung, traveler tak hanya bisa melihat pantai berbatu granit yang cantik. Ada juga Pulau Lengkuas yang seindah surga. Sepadan dengan perjuangan menantang maut yang harus dilalui untuk sampai ke sana.Seiring meledaknya novel berjudul Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata, diikuti oleh meledaknya film dengan judul yang sama arahan duo kribo Mira Lesmana dan Riri Riza, nama Pulau Belitung di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung langsung jadi primadona. Selang beberapa bulan setelahnya, pariwisata di Pulau Belitung yang semula senyap, berubah riuh oleh hiruk pikuk wisatawan yang datang.Β Sebagian besar dari mereka begitu penasaran, serupa apa keelokan Pulau Belitung yang sesungguhnya, sebagaimana yang dilukiskan dalam film Laskar Pelangi? Saya pun termasuk orang yang berhasil dibuat penarasan oleh Pulau Belitung akhir-akhir ini, terutama akan kecantikan Pulau Lengkuas yang sudah begitu banyak dilukiskan oleh orang-orang. Itu sebabnya, suatu hari saya bersama tiga orang kawan lain pun mendatangi pulau mungil yang seksi itu.Hari itu, merupakan petualangan hari ketiga kami di Pulau Belitung. Sebagaimana rencana yang telah kami sepakati bersama, hari itu kami akan menyeberang ke Pulau Lengkuas, mendatangi keindahan lain Pulau Belitung yang konon akan membuat mata siapapun enggan berkedip bila sudah berada di sana.Siapa yang tidak penarasan dengan cerita-cerita semacam itu? Maka, segera kami menghubungi seorang masyarakat lokal sekaligus salah satu pemilik warung di tepi Pantai Tanjung Kelayang. Saya lupa nama perempuan yang masih muda itu. Kami memohon bantuan untuk dicarikan sebuah kapal untuk menyeberang ke Pulau Lengkuas keesokan harinya.Pagi pun tiba. Sayang, pagi di hari Sabtu itu hujan turun seolah tanpa jeda, deras pula. Berjam-jam lamanya kami terkurung dalam rumah tanpa ada tanda-tanda bahwa hujan akan segera reda. Duh, bagaimana rasanya liburan ke Pulau Belitung tapi tak menginjakkan kaki di Pulau Lengkuas yang sudah tersohor keindahannya itu? Tentu rasanya tak afdol.Sedikit berembug, di pagi yang mulai bertransformasi menjadi siang itu, kami sepakat untuk menerobos hujan, menuju tepian Pantai Tanjung Kelayang. Sebagaimana janji kami dengan ibu-ibu kemarin, di pantai itulah kelak kami akan naik sebuah kapal motor yang akan membawa kami menuju Pulau Lengkuas. Jadi tak sabar rasanya ingin menyaksikan secara langsung kecantikan Pulau Lengkuas, potongan surga di sisi barat Pulau Belitung.Setengah jam kemudian, kami tiba di Pantai Tanjung Kelayang. Hujan mulai reda. Orang-orang, entah darimana datangnya, mulai memadati salah satu lokasi syuting film fenomenal berjudul Laskar Pelangi itu. Semuanya hampir mempunyai tujuan yang sama dengan kami, yakni ingin menyeberang ke Pulau Lengkuas.Β Sisanya adalah mereka yang hanya ingin menikmati kecantikan Pantai Tanjung Kelayang dengan ciri khas kapal-kapal nelayan yang menepi pada sebuah dermaga. Bagi saya, Pulau Belitung memang mempunyai potensi wisata bahari yang bernilai jual tinggi di kemudian hari.Hari itu, cuaca tak menentu. Maklum, musim penghujan. Pada musimnya, hujan bisa turun dengan tiba-tiba. Seperti hari itu misalnya, banyak pemilik kapal motor yang menunda keberangkatan menuju Pulau Lengkuas, akibat cuaca ekstrim di tengah laut, dengan gelombang yang cukup tinggi. Hal yang sama juga terjadi pada kapal yang akan kami tumpangi. Menurut informasi yang kami terima, rombongan pertama yang sedianya akan berangkat pagi-pagi sekali, meminta untuk menunda keberangkatan akibat cuaca buruk.Alhasil, kami yang masuk rombongan selanjutnya harus merelakan waktu terbuang sia-sia. Syukurnya, rombongan pertama tadi akhirnya membatalkan niatnya ke Pulau Lengkuas karena cuaca yang mereka bilang bisa bikin celaka. Artinya, kami pun bisa berangkat lebih cepat dari jadwal semula.Hujan belum sepenuhnya reda, tapi kami sudah memutuskan untuk menyeberang pada saat itu juga. Seraya tak lupa berdoa, kapal motor yang kami sewa dengan harga Rp. 400.000-an untuk pergi dan pulang itu, pelan-pelan meninggalkan daratan utama Pulau Belitung.Apa saya bilang, Belitung sungguh mengagumkan bukan? Baru beberapa menit saja kami meninggalkan bibir Pantai Tanjung Kelayang, pemandangan bahari khas Pulau Belitung terpampang di depan mata. Mulai dari batu-batu granit eksotis di tepian Pantai Tanjung Kelayang yang terlihat berbeda dilihat dari tengah laut.Sebuah pulau dengan pepohonan yang rimbun dengan Pulau Batu Garuda di sebelahnya, Pulau Kepayang, Pulau Babi, Batu Berlayar yang tampak dari kejauhan, desa nelayan Tanjung Binga, dan sejumlah pulau kecil lain yang tak bisa disebutkan satu persatu. Itulah pemandangan yang menemani kami hingga tiba di Pulau Lengkuas.Selain pemandangan yang menyejukkan mata, ada hal lain yang sebaliknya justru memacu adrenalin kami hingga jantung ikut berdentam tak terkendali. Apa itu? Apalagi kalau bukan hujan yang semakin deras yang sesekali diselingi halilintar, dan gelombang laut yang semakin meninggi, hingga membuat kapal motor yang kami tumpangi berguncang. Semakin jauh, semakin tinggi saja gelombang yang menghadang.Bahkan, berkali-kali air laut masuk ke dalam geladak kapal, disertai bunyi dentuman hebat gelombang yang menghantam kapal pada bagian depan. Saya melihat kawan-kawan lain pucat pasi dengan bibir serupa orang membaca sesuatu. Saya hanya tersenyum, sekalipun dalam hati pun juga khawatir kalau-kalau kapal ini terbalik tiba-tiba. Hanya saja, selama nahkoda kapal masih tersenyum, selama itu pula saya akan tenang. Bukankah mereka sudah berpengalaman soal hal semacam itu? Berdoalah tanpa henti.Puluhan menit berselang, Pulau Lengkuas samar-samar mulai terlihat dibalik hujan yang mulai reda. Saat itu, ada beberapa kapal motor yang membawa wisatawan menuju Pulau Lengkuas, termasuk kami. Semua bersorak gembira manakala melihat dari kejauhan sebuah mercusuar berdiri kokoh tinggi menjulang. Itulah mercusuar berusia tua setinggi kurang lebih 70 meter yang masih berfungsi dengan baik dalam sistem navigasi.Dalam gembira itu, tiba-tiba semua berteriak histeris saat gelombang raksasa tiba-tiba menerjang. Salah satu kapal terlihat putar arah, kembali ke Pulau Belitung, urung melanjutkan perjalanan ke Pulau Lengkuas yang sudah semakin tampak. Cuaca yang semakin ekstrim membuat salah satu rombongan memutuskan untuk kembali. Saya dan kawan-kawan lain lantas saling pandang, lalu bersepakat untuk terus melanjutkan perjalanan penuh resiko ini sampai kapal yang kami tumpangi mencium bibir pasir Pulau Lengkuas.Ringkas cerita, sampailah kami di Pulau Lengkuas. Sungguh pulau kecil dengan pemandangan bahari yang luar biasa. Sejumlah wisatawan yang sudah terlebih dahulu datang, tampak melakukan beragam aktivitas di sini, dan yang pasti mengabadikan setiap sudut Pulau Lengkuas dalam bidikan kamera.Sementara kami, langsung menuju ke bagian tengah pulau, memasuki sebuah komplek bangunan masa silam yang di dalamnya berdiri sebuah bangunan tinggi menjulang laksana menara. Itulah mercusuar Pulau Lengkuas, yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1882.selanjutnya, kami naik ke puncak mercusuar di Pulau Lengkuas. Hanya dengan membayar Rp. 5.000 per orang, kita bisa langsung masuk dan menaiki anak tangga demi anak tangga, sampai akhirnya tiba di puncak. Mau tahu bagaimana pemandangan bahari bila dilihat dari puncak mercusuar Pulau Lengkuas? Sungguh menakjubkan!Pulau Lengkuas siang itu tak ubah serua potongan surga yang diberikan oleh Tuhan kepada kami sebagai hadiah setelah mengarungi lautan dengan cuaca yang ekstrim, menghadang gelombang yang tinggi di antara hujan disertai angin kencang dan halilintar yang senantiasa menampakkan wujudnya begitu cepat. Seperti kata orang-orang, perjalanan kami hari itu terbayar oleh pemandangan yan sajikan oleh Pulau Lengkuas kepada kami.Pulau Lengkuas merupakan satu dari ratusan pulau kecil yang mengitari Pulau Belitung. Saat kapal yang kami tumpangi mulai melaju pelan petanda akan segera berhenti di Pulau Lengkuas, keindahan pulau itu memang sudah mulai terasa. Pulau kecil dengan batu-batu granit khas Pulau Belitung berserta beberapa pulau ekcil lain yang ada di sekitarnya, pohon-pohon kelapa yang tinggi menjulang, aneka rupa pepohonan yang hijau menyejukkan mata.Sebuah mercusuar yang tinggi menjulang, adalah sajian pertama yang diberikan oleh Pulau Lengkuas bagi wisatawan yang baru saja datang. Rupanya, keindahan itu belum seberapa. Masih ada keindahan lain yang jauh lebih indah di pulau ini, yakni dengan menikmatinya dari puncak tertinggi mercusuar bberwarna putih itu.Dari puncak inilah, dengan leluas kita bisa menyaksikan betapa luar biasanya mahakarya Sang Pencipta. Laut barat Pulau Belitung dengan terumbu karang yang masih terjaga dengan baik, batu-batu granit yang terhampar di bawahnya, serta kapal-kapal milik nelayan yang bbersandar menunggu para pelancong adalah pemandangan khas Pulau Lengkuas yang tidak akan bisa ditemui di tempat lain.Hanya sebatas itukah kecantikan Pulau Lengkuas? Masih ada lagi ternyata! Setelah turun dari mercusuar, berkeliling sejenak, kami pun diajak oleh nahkoda kapal menuju sebuat titik untuk menikmati keindahan bawah laut Pulau Lengkuas. Ya, kami akan snorkeling! Snorkeling sama artinya bahwa kami akan berjumpa dengan aneka rupa biola laut yang ada di perairan Pulau Belitung.Penampakan permukaan laut yang beraneka corak dilihat dari mercusuar Pulau Lengkuas tadi akhirnya terjawab sudah, saat kami mulai menceburkan diri ke laut. Rupanya, itu adalah terumbu karang yang ada di dasar perairan Pulau Belitung. Seperti yang sudah saya ceritakan di awal, terumbu karang di perairan imi memang masih terjaga dengan baik.Beragam jenis ikan dan biota laut lainnya tampak menikmati kehidupannnya dengan santai di dalam sana, tanpa ada yang mengganggu. Semua terlihat dengan jelas dari balik kacamata snorkeling yang kami sewa. Sayang, hujan yang kembali turun membuat kami tak leluasa mengabadikan setiap kegiatan kami hari itu dalam bidikan kamera. Tak jadi soal, yang pasti Pulau Lengkuas begitu memuaskan! Salam bahari!












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Agar Turis Betah, Pemerintah Malaysia Minta Warga Lebih Ramah