Belajar Sejarah Perkayuan di Museum Kayu Sampit, Kalteng

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Belajar Sejarah Perkayuan di Museum Kayu Sampit, Kalteng

Fajr Muchtar - detikTravel
Rabu, 29 Jul 2015 13:50 WIB
loading...
Fajr Muchtar
Museum Kayu Sampit
Pintu masuk museum
Suasana di dalam museum
Perahu yang dulu dipakai patroli
Belajar Sejarah Perkayuan di Museum Kayu Sampit, Kalteng
Belajar Sejarah Perkayuan di Museum Kayu Sampit, Kalteng
Belajar Sejarah Perkayuan di Museum Kayu Sampit, Kalteng
Belajar Sejarah Perkayuan di Museum Kayu Sampit, Kalteng
Jakarta - Nama Kota Sampit di Kalteng memang belum populer di kalangan wisatawan. Namun dibalik kotanya yang kecil, Sampit memiliki sejarah panjang sebagai salah satu produsen kayu di Indonesia. Sejarahnya pun dapat dilihat di Museum Kayu Sampit.Nama kota ini sudah ada disebut di dalam Kakawin Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 maupun di dalam Hikayat Banjar yang bagian terakhirnya ditulis pada tahun 1663.Kota ini saya singgahi sepulang dari Tanjung Puting. Kebetulan di kota ini cukup banyak teman-teman, jadi sekalian singgah dan menjalin silaturahim. Bahkan secara kebetulan, hotel tempat menginap merupakan milik salah satu teman.Sambil menunggu waktu, saya dan seorang teman bernama Rizka jalan-jalan di kota ini. Sehari sebelumnya kami habiskan waktu di Samuda, kota pelabuhan dengan keramaian burung walet yang tak pernah berhenti selama 24 jam. Kebetulan ada sebuah museum yang sepertinya tak begitu banyak dikunjungi, yakni Museum Kayu Sampit. Entah mengapa suasana museum begitu sepi. Bahkan beberapa saat saya harus merasa cukup mengambil gambar dari luar, sampai ada orang yang membuka pintunya.Menurut selebaran, Museum Kayu Sampit ini dibangun pada tahun 2003 dan diresmikan tanggal 6 Oktober 2004. Pendirian museum ini terkait dengan kondisi Sampit yang sempat menjadi pusat perkayuan di Kalimantan. Maka dari itu, semua hal yang berkaitan dengan perkayuan ditampilkan di sini. Berbagai jenis kayu, alat pengolahan kayu, alat komunikasi, alat dapur, alat penangkap ikan, dan alat transportasi. Koleksi kayu yang ada di museum antara lain ramin, dowel, meranti kuning, alau, kemfa, ulin, benuas, samping, lanan, bangas, sungkui, pantung dan pilam. Sebagian sudah difurnitur, dan sebagiannya lagi dibuat sampel atau berupa potongan. Untuk kayu gelondongan yang besar-besar ditempatkan diΒ  bagian halaman. Gelondongan kayu yang besar itu membuat saya terpana dan termangu. Kira-kira berapa tahun umur pohon itu. Disebutkan juga ada kerangka ikan paus, tapi saya tidak melihatnya.Museum ini memang tak begitu luas, cukup dikelilingi sebentar saja. Namun waktu sebentar itu memberikan kesan mendalam kepada saya. Kalau kata syair lagu, cukup satu jam untuk membuat jatuh cinta, namun perlu waktu lama untuk menghapusnya. Seperti itulah, dan saya tak ingin melupakan pengalaman masuk ke museum itu.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads