Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 01 Jan 2015 10:22 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Berburu Aneka Kuliner Lezat di Malaka, Maknyus!

Suryani Amin
d'Traveler
Trio laksa, nasi lemak dan nasi ayam
Trio laksa, nasi lemak dan nasi ayam
Kedai es cendol
Kedai es cendol
Sate celup
Sate celup
Nasi goreng ayam berbumbu kari
Nasi goreng ayam berbumbu kari
Aneka  varian dodol
Aneka varian dodol
detikTravel Community - Kuliner Melayu memang pantas untuk diburu. Liburan akhir tahun menjadi momen yang bisa Anda manfaatkan untuk berburu aneka kuliner lezat di Malaka, Malaysia. Maknyus!Seperti jamaknya, khazanah kuliner Malaka nampaknya tercipta dari akulturasi dengan pendatang berabad silam. Disamping itu, berlangsung saling pengaruh antar etnis yang mendiaminya kini. Potret etnis Malaka saat ini begitu berwarna. Di sini, berbaur etnis Melayu, China, India, Baba Nyonya/peranakan-percampuran Melayu dengan China, Portugis, Chitty–percampuran Melayu India dan Eurasia.Perlu waktu tinggal yang lebih panjang untuk bisa mendokumentasikan dengan baik kuliner Malaka. Tulisan ini pun cuma mencatat sangat sedikit kuliner yang sempat dicicipi dalam tiap kali waktu makan utama dan beberapa waktu makan selingan. Dalam masa tinggal kami yang hanya semalam, dan tanpa bekal pengetahuan yang cukup.Pengalaman kuliner pertama adalah saat tiba di terminal Malaka Sentral. Setelah bus yang membawa kami tiba di Malaka langsung dari Kuala Lumpur International Airport, kami bertiga memutuskan untuk tidak langsung menuju hotel kecil yang sudah kami pesan. Namun, mengawali kegiatan plesiran dengan menyicipi makanan setempat.Kami berhenti di satu kedai yang cukup bersih dan bernuansa lokal. Tepat seperti yang kami cari. Ada tiga hidangan yang kami pesan. Saya, yang sudah bertekad kuat mengunyah laksa sejak hari pertama perjalanan ini, jelas memutuskan untuk memesan laksa. Sementara itu, kedua kawan saya memesan nasi lemak dan nasi ayam.  Sesaat kemudian, ketiga pilihan hidangan tersuguh di hadapan kami. Di atas meja tersaji mie beras putih dan tauge bersiram kuah rempah yang kental. Nampak irisan bawang merah, selembar daun selada air, setengah bagian telur rebus dan potongan jeruk limau. Harum limaunya sungguh membangkitkan selera makan saya. Rempah yang digunakan pun beragam. Aroma lengkuas, kunyit dan serai terasa tajam di lidah.Buat saya, laksa ini jelas bukan yang terenak yang pernah saya cicipi. Mienya terlalu tebal dan kenyal, bahkan cenderung alot. Kuahnya juga terlalu kental. Nasi lemak, serupa dengan nasi uduk kita. Dikukus setelah diaron dengan campuran santan kelapa dengan tambahan daun pandan untuk menambah aroma. Lauknya, ayam goreng yang berwarna merah oleh siraman cairan kental tumisan rempah halus bersama cabe dan kecap.Nasi ayam pun demikian. Bedanya, hanya nasinya berwarna kuning dari kunyit, terbuatnya pun dari jenis beras pera. Cita rasa ayamnya serupa tumis balado, namun dengan hanya sedikit sensasi pedas. Masih dominan rasa manis. Tekstur adonan rempahnya pun halus karena digiling. Tidak kasar seperti sambal balado.Pengalaman kuliner berikutnya, saat kaki lelah. Di tengah panas yang menggigit. Setelah berputar-putar mengitari kota tua. Jadwal pesawat dini hari tadi, membuat kami bertiga tidak cukup prima. Jadi perlu beberapa kali beristirahat, akibat kurang tidur. Terutama saya yang nyaris tak sempat beristirahat semalaman.Di tengah rasa capek yang mendera, kami mampir ke jejeran kios kecil yang terbuka. Panas  mendorong kami memutuskan mencari hidangan dingin untuk mengimbangi. Aha, satu kios memampangkan dagangannya, cendol. Di Malaka, cendol atau di beberapa tempat di tulis dengan ejaan cendhol bahkan chendul.Tekstur cendolnya lebih halus daripada cendol yang biasa ditemui di Jakarta. Namun bahan utama pembuatnya masih sama yakni tepung beras. Warnanya juga berasal dari hijau pandan. Cendol disajikan dingin dengan pilihan bahan pencampur yang bisa diminta sesuai selera. Di antara pilihannya antara lain adalah es krim beraneka rasa. Yang jadi favorit pelancong lokal adalah cendol durian.Kami memesan cendol durian. Disajikan dalam gelas bermulut lebar. Di dalamnya, cendol tersaji bersama kacang merah rebus yang empuk. Diguyur cairan manis kecoklatan. Rasanya seperti campuran antara karamel dengan brown sugar. Sepotong durian komplit dengan biji diletakkan di atasnya. Setelah dipenuhi dengan es serut, sentuhan terakhir adalah siraman susu krim kental manis. Bisa dibayangkan rasanya, kenyal lembut dari cendol, bercampur manis gula dan susu berpadu dengan lelehan durian. Slurrrpp, segar!Penduduk Malaka ternyata juga punya kebiasaan makan aneka gorengan. Di sebelah kedai cendol nampak gorengan dijajakan. Ada tiga varian gorengan yang dijual. Dua di antaranya, sangat Indonesia, sukun dan pisang goreng. Cara mengolahnya pun persis. Dibalur dengan adonan tepung kental kekuningan, sepertinya campuran antara tepung terigu dengan tepung beras. Hasilnya, garing dan kriuk-kriuk di mulut.Satu lagi, yang sangat Indonesia adalah sejenis pastel, hanya beda di bahan isian. Di sini disebut ˆcurry puff”.  Belakangan, kami tahu kalau curry puff, ditemukan di banyak tempat lain di Malaysia. Jadi kudapan umum. Dari namanya, jelas nampak pengaruh India. Kulit pastel ini tipis garing. Diisi padat menggembung dengan kentang yang dilumatkan dengan bumbu kari. Ketiganya berkalori tinggi dan mengenyangkan.Malam harinya, kami makan di kawasan Bukit Cina, tak jauh dari kota tua, di mana berjejer banyak rumah makan berderet di semacam ruko berasistektur tua. Dua teman memilih satu rumah makan yang menjual sate celup. Setelah mendengar rekomendasi dari pengemudi taksi yang mengantar kami dari bandara saat menuju hotel tentang makanan dalam kategori 'harus dicoba' di Malaka.Saya memilih menu yang berbeda, karena sate celup menyajikan pilihan sate non-halal. Meskipun sebenarnya ada  pilihan bahan sate lain. Pengunjung bebas menentukan jenis sate yang diinginkan. Yang disebut sate, sama seperti yang kita pahami. Potongan kecil stik bambu, digunakan untuk menancapkan makanan yang sudah dibuat dalam potongan kecil. Tinggal mencomot, aneka olahan seperti fish atau crab cake, atau irisan tipis daging babi, dll. Jika ingin sayuran pun tersedia pakcoy.Yang berbeda adalah cara menikmatinya. Setelah sate dihangatkan, bumbu pencelup pun disiapkan. Bumbu tersebut berupa cairan kental berwarna gelap. Menurut kawan, rasanya seperti gilingan kacang   bercampur kecap manis dan bumbu penyedap. Mirip dengan bumbu sate ala Indonesia. Uniknya, larutan bumbu celup dihangatkan dulu diatas meja yang didesain khusus dengan lubang  untuk meletakkan panci. Di bawahnya, api dialirkan dari tabung gas kecil. Setiap  beberapa saat, bumbu diaduk ulang oleh pelayan. Untuk menjaga agar bumbu tetap  tercampur merata. Semua sate piihan, termasuk sayuran dimasukkan ke dalam panci. Setelah beberapa menit, sate celup pun siap masuk ke dalam mulut.Saya sendiri mencari hidangan lain yang halal. Saya hanya berhasil menemukan kedai kopi India. Saya memilih menu cepat, nasi goreng ayam. Nasi gorengnya, berbumbu dasar sama seperti bumbu kari. Ditabur dengan tauge dan irisan ayam goreng, tapi tidak tajam. Jadilah saya menikmati nasi goreng dengan cita rasa kari, dengan butiran nasi yang sangat pera. Besoknya, sarapan pagi dari menu yang disediakan oleh hotel. Di kedai yang menempel di belakang hotel. Ada tiga pilihan menu sederhana yang masuk dalam paket menginap, roti lapis, roti cane dan roti telur. Kami memilih roti telur. Yang disebut roti telur adalah lapisan sangat tipis adonan tepung martabak, dikocok lepas dengan telur di atas wajan datar berisi minyak. Dinikmati dengan cara mencocolkannya ke dalam kuah kari kental.Hmm, lagi-lagi kari. Agar terhindar dari rasa eneg, kami mengimbanginya dengan potongan kecil kue kering yang dijual dalam toples plastik. Sarapan  yang mengenyangkan selesai. Kami bersiap melanjutkan langkah menyusuri Kota Malaka.Menjelang akhir perjalanan, kami bersepakat kembali mencari cendol durian. Kali ini tidak di kedai terbuka. Namun di satu toko yang letaknya di pojok dekat jalan Jonker, pengunjungnya pun ramai karena menjual juga berbagai jenis  makanan dalam kemasan untuk oleh-oleh. Rasa dan aromanya tidak sekuat cendol yang kami nikmati kemarin, tapi dengan tampilan yang lebih manis karena menggunakan kemasan khusus makanan sekali pakai, yang dibuat cantik.Sedikit oleh-oleh jajanan pun saya beli. Saya memilih dodol durian. Jenis oleh-oleh yang awet untuk dibawa pulang karena tahan disimpan dalam jangka waktu yang lama. Buah durian yang digelari king of fruits itu nampaknya sangat populer di sini.Pengalaman kuliner terakhir adalah di stasiun kereta di Tampin, lebih 30 km jaraknya dari Malaka. Kembali, bukan tempat yang cocok untuk makan enak. Karena mengejar kereta yang akan membawa kami menuju Penang -persinggahan berikutnya- kami pun hanya memesan makanan bekal untuk dibawa. Tidak banyak pilihan, hanya nasi goreng untuk menu utama.Kami memilih tiga varian nasi goreng yang berbeda. Agar bisa saling mencicipi. Sisanya, kami mencomot beberapa jajanan diatas meja untuk kami bawa. Di antaranya, puding jagung dan kacang yang digoreng tanpa kulit. Puding jagungnya manis, beraroma santan dengan butiran jagung yang masih utuh. Nampak juga curry puff, tapi tidak kami pilih karena  merasa cukup dengan sajian kari sejak kemarin.    Belakangan, di atas kereta, saat kami mencicipi nasi goreng masing-masing, rasanya serupa. Nasi yang ditumis dengan bawang putih keprek dan tambahan garam, tanpa tambahan saus atau kecap. Dengan referensi nasi goreng Indonesia yang kaya rasa, jelas nasi goreng ini terlalu polos dan tak kuat rasa. Yang membedakan ketiganya hanya sedikit tambahan potongan sayur, untuk teman yang memilih nasi goreng sayur. Dua lainnya, nasi goreng kampung, dengan tambahan sedikit teri kering dengan tingkat keasinan rendah, semuanya diolah dengan kocokan telur.Selamat tinggal Malaka. Terima kasih sudah memperkaya pengalaman rasa bagi lidah kami. Sampai jumpa satu saat nanti.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA