Gunung Karst Dahsyat di Rammang-rammang, Maros
Senin, 24 Nov 2014 14:55 WIB
Yatmancoy
Jakarta - Desa Rammang-rammang di Maros, Sulawesi Selatan, memang bukan desa biasa. Desa kecil ini punya pemandangan yang dahsyat karena dikelilingi oleh pegunungan Karst nan menjulang.Pagi ini, kami berencana akan mencoba merintis jalan dari Maros-Pangkep melewati pegunungan karst. Tepat pukul 8.00 WITA kami pun berangkat. Perjalanan dari titik pemberangkatan ke lokasi hanya sekitar 15 menit. Lokasi perintisan ada di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, dapat ditempuh dengan menggunakan pete-pete (angkutan kota) Makassar-Pangkep atau taksi dengan waktu tempuh 1 jam.Sesampainya di lokasi, kami sudah disambut oleh beberapa orang yang akan menyewakan perahunya. Memang, sebelum melakukan perintisan dengan berjalan kaki, kami harus menyusuri rawa di antara gunung karst. Perjalanan dari pelabuhan kecil ke lokasi sekitar 30 menit.Waktu 30 menit tersebut seakan tidak terasa karena di sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang sangat menakjubkan. Saya berkata menakjubkan karena saya belum pernah menjumpai pemandangan seperti ini. Saya pernah melihat pemandangan serupa melalui televisi di Vietnam atau Myanmar.Setelah 30 menit mengarungi sungai dengan perahu, kami pun sampai di Rammang-rammang. Daerah cantik yang dilingkari pegunungan karst. Dari titik inilah, kami memulai perintisan jalan menembus gunung karst untuk selanjutnya sampai di Pangkep. Setelah melewati desa Rammang-rammang, kami menyusuri hutan rawa.Perjalanan naik-turun gunung karst harus kami lewati. Pada setengah perjalanan, sampailah kami di titik yang tidak kami duga sebelumnya, karena kami harus melewati celah gunung karst sepanjang 500 meter. Menurut informasi penduduk, celah ini akan terisi air jika musim hujan tiba.Alhamdulillah kami melewatinya pada saat musim kemarau jadi relatif aman. Sepanjang perjalanan, kami hanya mendengar suara burung dan monyet hitam yang merupakan monyet endemik Sulawesi. Hal tersebut berarti daerah yang kami lewati memang daerah yang jauh dari peradaban.Akhirnya kami sampai di titik terakhir perjalanan yaitu Kecamatan Majenang, Tonasa 1. Dari sini kami harus berjalan lagi untuk dapat naik angkutan umum yang selanjutnya kembali ke Pangkep. Tetapi kami sudah merencanakan perjalanan ini sehingga sudah ada teman yang menunggu kami di Majenang.Karena hari belum sore, maka kami melanjutkan perjalanan dengan mobil bak terbuka ke tempat pemandian untuk menghilangkan penat. Pemandian tersebut bernama Leang Kassi. Sungguh suatu perjalanan yang mengesankan!












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru